Pentingnya Kepatuhan hingga Perawatan dalam Pemulihan Bipolar dan Skizofrenia
Rabu, 14 Mei 2025 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
“Di Indonesia, bisa dikatakan ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan hal yang umum terjadi pada GB dan Skizofrenia, padahal hal ini diketahui dapat meningkatkan risiko hasil klinis yang buruk. Hal ini merupakan masalah terbesar yang perlu diatasi bidang kejiwaan dan penyakit-penyakit kronis lainnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa ketidakpatuhan pengobatan tetap menjadi perhatian penting dalam pengobatan gangguan GB dan Skizofrenia,” jelasnya.
“Pada akhirnya, ketidakpatuhan akan memunculkan konsekuensi yang sangat besar khususnya bagi orang dewasa. Pada GB, ketidakpatuhan dikaitkan dengan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi, peningkatan rawat inap, dan risiko bunuh diri yang lebih besar. Untuk Skizofrenia, ketidakpatuhan tidak hanya memperburuk gejala psikotik tetapi juga meningkatkan risiko menyakiti diri sendiri dan orang lain. Temuan ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan untuk mencegah penyulit penyerta dan meningkatkan kualitas hidup bagi individu,” jelas Dr. Khamelia.
Pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap mampu melakukan kegiatan yang produktif serta memiliki kualitas hidup yang baik asalkan mau menjalankan pengobatan dengan konsisten. “Optimal dalam kepatuhan terapi dikaitkan secara signifikan dengan kualitas hidup yang lebih tinggi. Biasanya mereka kurang patuh karena tilikan yang buruk terhadap sakitnya, munculnya efek samping, fluktuasi mood, dan stigma buruk. Terkait efek samping khususnya, masih menjadi tantangan juga di praktik klinis sehari hari. Terkadang mereka mengalami efek seperti mengantuk berat sedasi, kenaikan berat badan, dan masalah gerakan tubuh sehingga mereka sulit untuk patuh. Padahal saat ini ada obat-obat inovatif yang meminimalkan efek samping seperti itu,” kata Dr. Khamelia.
Ia juga menambahkan, selain dari kepatuhan, pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap bisa beraktivitas produktif jika fokus terhadap strategi coping yang adaptif, seperti mencari dukungan dan belajar strategi memecahkan masalah, pelatihan manajemen stress, dll. Berikutnya, bisa aktif melakukan terapi psikososial seperti edukasi terhadap penyakit, skrining rutin terhadap kemunculan ide untuk bunuh diri, juga bisa menggunakan teknologi seperti aplikasi untuk pemantauan mood, kualitas tidur, reminder obat, dan psikoterapi agar selalu stabil. Dengan begitu, pasien dewasa akan bisa menjalani aktivitas dengan lebih baik,” jelasnya.
Untuk keberhasilan pengobatan, bergantung juga pada dukungan keluarga dan lingkungan. “Psikoedukasi pada keluarga dan lingkungan dapat membantu keluarga memahami dan mendukung orang yang mereka cintai dengan lebih baik. Dukungan ini berfungsi untuk meningkatkan harapan dan mendukung kemampuan pasien, pemberdayaan pribadi, dan inklusi di lingkungan sosial,” tutupnya.
“Pada akhirnya, ketidakpatuhan akan memunculkan konsekuensi yang sangat besar khususnya bagi orang dewasa. Pada GB, ketidakpatuhan dikaitkan dengan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi, peningkatan rawat inap, dan risiko bunuh diri yang lebih besar. Untuk Skizofrenia, ketidakpatuhan tidak hanya memperburuk gejala psikotik tetapi juga meningkatkan risiko menyakiti diri sendiri dan orang lain. Temuan ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan untuk mencegah penyulit penyerta dan meningkatkan kualitas hidup bagi individu,” jelas Dr. Khamelia.
Pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap mampu melakukan kegiatan yang produktif serta memiliki kualitas hidup yang baik asalkan mau menjalankan pengobatan dengan konsisten. “Optimal dalam kepatuhan terapi dikaitkan secara signifikan dengan kualitas hidup yang lebih tinggi. Biasanya mereka kurang patuh karena tilikan yang buruk terhadap sakitnya, munculnya efek samping, fluktuasi mood, dan stigma buruk. Terkait efek samping khususnya, masih menjadi tantangan juga di praktik klinis sehari hari. Terkadang mereka mengalami efek seperti mengantuk berat sedasi, kenaikan berat badan, dan masalah gerakan tubuh sehingga mereka sulit untuk patuh. Padahal saat ini ada obat-obat inovatif yang meminimalkan efek samping seperti itu,” kata Dr. Khamelia.
Ia juga menambahkan, selain dari kepatuhan, pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap bisa beraktivitas produktif jika fokus terhadap strategi coping yang adaptif, seperti mencari dukungan dan belajar strategi memecahkan masalah, pelatihan manajemen stress, dll. Berikutnya, bisa aktif melakukan terapi psikososial seperti edukasi terhadap penyakit, skrining rutin terhadap kemunculan ide untuk bunuh diri, juga bisa menggunakan teknologi seperti aplikasi untuk pemantauan mood, kualitas tidur, reminder obat, dan psikoterapi agar selalu stabil. Dengan begitu, pasien dewasa akan bisa menjalani aktivitas dengan lebih baik,” jelasnya.
Untuk keberhasilan pengobatan, bergantung juga pada dukungan keluarga dan lingkungan. “Psikoedukasi pada keluarga dan lingkungan dapat membantu keluarga memahami dan mendukung orang yang mereka cintai dengan lebih baik. Dukungan ini berfungsi untuk meningkatkan harapan dan mendukung kemampuan pasien, pemberdayaan pribadi, dan inklusi di lingkungan sosial,” tutupnya.
(dra)
Lihat Juga :