Perlukah Indonesia Vaksin TBC? Ini Penjelasan Siti Fadilah Supari dan Guru Besar FKUI
Minggu, 18 Mei 2025 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Profil GlaxoSmithKline, Raksasa Biofarmasi di Balik Vaksin TBC Bill Gates untuk Indonesia
Menurut Siti, konsep RW Siaga ini sangat efektif dalam pelacakan dan pengawasan pengobatan pasien di tingkat komunitas. Ia menggambarkan bahwa dalam satu RW, jika ada delapan penderita TBC, maka seluruh sumber daya di tingkat RW bisa dikerahkan untuk memastikan pasien patuh minum obat setiap hari.
"Di mana RW tersebut, yang ngopenin kasus-kasus TBC yang ada di situ. Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik, jadi setiap hari ibu-ibu PKK maranin pasien-pasien itu untuk harus diminum obatnya," ujar Siti.
Namun, ia menilai bahwa program ini masih memiliki kekurangan karena belum menyentuh aspek pemenuhan gizi pasien TBC secara menyeluruh. Ia mengusulkan agar pemerintah turut menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi penderita TBC agar daya tahan tubuh mereka meningkat.
"Nah, setiap berapa minggu diperiksa dokter. Cuma programnya pak Menkes ini kurang komprehensif. Jadi tolong tambahin gizi. Jadi makan bergizi gratis itu harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkolosa karena impairment mereka," ucap Siti.
Baca Juga: GlaxoSmithKline Pengembang Vaksin TBC Bill Gates Sudah 50 Tahun Hadir di Indonesia, Berbasis di Pulogadung
Siti juga menambahkan bahwa jika program RW Siaga TBC dilaksanakan secara konsisten dan ditambah dengan dukungan nutrisi, maka vaksin TBC seperti kolaborasi Bill & Melinda Gates Foundation dan GlaxoSmithKline tidak akan lagi dibutuhkan.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya pak Menkes ini jalan dengan bagus, kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," beber Siti.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari kalangan akademisi dan praktisi medis. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pakar penyakit paru, sekaligus Peneliti Nasional Vaksin Tuberkulosis Prof. Erlina Burhan menyatakan bahwa vaksinasi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pengendalian TBC di Indonesia.
Menurut Siti, konsep RW Siaga ini sangat efektif dalam pelacakan dan pengawasan pengobatan pasien di tingkat komunitas. Ia menggambarkan bahwa dalam satu RW, jika ada delapan penderita TBC, maka seluruh sumber daya di tingkat RW bisa dikerahkan untuk memastikan pasien patuh minum obat setiap hari.
"Di mana RW tersebut, yang ngopenin kasus-kasus TBC yang ada di situ. Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik, jadi setiap hari ibu-ibu PKK maranin pasien-pasien itu untuk harus diminum obatnya," ujar Siti.
Namun, ia menilai bahwa program ini masih memiliki kekurangan karena belum menyentuh aspek pemenuhan gizi pasien TBC secara menyeluruh. Ia mengusulkan agar pemerintah turut menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi penderita TBC agar daya tahan tubuh mereka meningkat.
"Nah, setiap berapa minggu diperiksa dokter. Cuma programnya pak Menkes ini kurang komprehensif. Jadi tolong tambahin gizi. Jadi makan bergizi gratis itu harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkolosa karena impairment mereka," ucap Siti.
Baca Juga: GlaxoSmithKline Pengembang Vaksin TBC Bill Gates Sudah 50 Tahun Hadir di Indonesia, Berbasis di Pulogadung
Siti juga menambahkan bahwa jika program RW Siaga TBC dilaksanakan secara konsisten dan ditambah dengan dukungan nutrisi, maka vaksin TBC seperti kolaborasi Bill & Melinda Gates Foundation dan GlaxoSmithKline tidak akan lagi dibutuhkan.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya pak Menkes ini jalan dengan bagus, kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," beber Siti.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari kalangan akademisi dan praktisi medis. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pakar penyakit paru, sekaligus Peneliti Nasional Vaksin Tuberkulosis Prof. Erlina Burhan menyatakan bahwa vaksinasi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pengendalian TBC di Indonesia.
Lihat Juga :