Perlukah Indonesia Vaksin TBC? Ini Penjelasan Siti Fadilah Supari dan Guru Besar FKUI
Minggu, 18 Mei 2025 - 19:00 WIB
loading...
Polemik mengenai perlunya vaksin tuberkulosis (TBC) kembali mencuat setelah pemerintah mengumumkan bekerja sama dengan Bill Gates melakukan uji coba vaksin. Foto/iStock Photo Inside Creative House
A
A
A
JAKARTA - Polemik mengenai perlunya vaksin tuberkulosis ( TBC ) kembali mencuat setelah pemerintah mengumumkan akan bekerja sama dengan Bill Gates melakukan uji coba vaksin TBC M72 yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK).
Vaksin TBC hasil kolaborasi antara GSK dan Bill & Melinda Gates Foundation ini menciptakan perlindungan jangka panjang. Kehadiran vaksin tersebut diharapkan dapat memerangi TBC, terutama di negara-negara dengan beban kasus tinggi seperti Indonesia.
Namun, uji coba ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa untuk menurunkan angka kasus TBC di Indonesia hingga 2030, strategi terbaik bukanlah vaksinasi. Melainkan eradikasi atau pemberantasan penyakit secara menyeluruh.
"Kenapa TBC di Indonesia harus divaksin? Menurut saya, kalau Anda, pengen menurunkan angka tuberkolosa di Indonesia untuk tahun 2030, 5 tahun lagi itu dengan eradikasi," kata Siti Fadilah dalam program One on One SindoNews, baru-baru ini.
Baca Juga: Indonesia Jadi Lokasi Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates, Siti Fadilah: Partisipan dengan Kelinci Percobaan Sama Aja
Eradikasi yang dimaksud, lanjut Siti, melibatkan pengobatan menyeluruh bagi pasien TBC, bukan hanya melalui pendekatan medis semata. Ia menekankan bahwa hanya 40 persen dari keberhasilan pengobatan TBC berasal dari intervensi medis. Sisanya, yaitu 60 persen, dipengaruhi oleh faktor-faktor non-medis seperti nutrisi, lingkungan, dan kepatuhan minum obat.
"Eradikasi itu memberantas orang yang sudah sakit TB atau mengobati orang yang sakit TB, secara komprehensif. Jadi mengobati TB itu hanya 40 persen itu medis, yang 60 persen itu bukan medis," jelas Siti.
Dalam kesempatan tersebut, Siti juga mengapresiasi program RW Siaga TBC yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada 9 Mei 2025. Program ini digulirkan hanya dua hari setelah kedatangan Bill Gates ke Indonesia, yang juga sedang mempromosikan vaksin M72 untuk TBC.
"Yang saya lihat ini pak Menkes sudah punya program bagus banget yang dicanangkan pada tanggal 9. Jadi Bill Gates datang tanggal 7, pak Menkes tanggal 9 mencanangkan suatu program seperti RW Siaga. Kemudian Kelurahan Siaga, Desa Siaga TBC, RW Siaga TBC," ungkap Siti.
Baca Juga: Profil GlaxoSmithKline, Raksasa Biofarmasi di Balik Vaksin TBC Bill Gates untuk Indonesia
Menurut Siti, konsep RW Siaga ini sangat efektif dalam pelacakan dan pengawasan pengobatan pasien di tingkat komunitas. Ia menggambarkan bahwa dalam satu RW, jika ada delapan penderita TBC, maka seluruh sumber daya di tingkat RW bisa dikerahkan untuk memastikan pasien patuh minum obat setiap hari.
"Di mana RW tersebut, yang ngopenin kasus-kasus TBC yang ada di situ. Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik, jadi setiap hari ibu-ibu PKK maranin pasien-pasien itu untuk harus diminum obatnya," ujar Siti.
Namun, ia menilai bahwa program ini masih memiliki kekurangan karena belum menyentuh aspek pemenuhan gizi pasien TBC secara menyeluruh. Ia mengusulkan agar pemerintah turut menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi penderita TBC agar daya tahan tubuh mereka meningkat.
"Nah, setiap berapa minggu diperiksa dokter. Cuma programnya pak Menkes ini kurang komprehensif. Jadi tolong tambahin gizi. Jadi makan bergizi gratis itu harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkolosa karena impairment mereka," ucap Siti.
Baca Juga: GlaxoSmithKline Pengembang Vaksin TBC Bill Gates Sudah 50 Tahun Hadir di Indonesia, Berbasis di Pulogadung
Siti juga menambahkan bahwa jika program RW Siaga TBC dilaksanakan secara konsisten dan ditambah dengan dukungan nutrisi, maka vaksin TBC seperti kolaborasi Bill & Melinda Gates Foundation dan GlaxoSmithKline tidak akan lagi dibutuhkan.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya pak Menkes ini jalan dengan bagus, kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," beber Siti.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari kalangan akademisi dan praktisi medis. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pakar penyakit paru, sekaligus Peneliti Nasional Vaksin Tuberkulosis Prof. Erlina Burhan menyatakan bahwa vaksinasi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pengendalian TBC di Indonesia.
"Vaksin tetap dibutuhkan untuk mempercepat penurunan insidens," tegas Erlina melalui pesan singkat kepada SindoNews, Minggu (18/5/2025).
Ia menuturkan bahwa TBC adalah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, dan tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga dapat menyebar ke organ lain. Seperti otak, tulang, kelenjar getah bening, dan kulit.
Menurut data yang ia sampaikan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus TBC. Setiap tahunnya, lebih dari 1 juta orang terinfeksi dan sekitar 130 ribu orang meninggal dunia karena penyakit ini, yang mana artinya rata-rata ada 15 kematian per jam akibat TBC.
Salah satu vaksin yang sudah digunakan selama ini adalah BCG, yang efektif untuk anak-anak. Namun, efektivitasnya menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, vaksin baru seperti M72 menjadi harapan baru untuk memberikan perlindungan pada kelompok usia dewasa.
"Vaksin BCG sudah menjadi andalan melawan TB. Efektif melindungi anak-anak. Tapi, perlindungannya berkurang saat kita tubuh dewasa. Ini lah vaksin M72 harapan baru melawan TB," tutur Erlina.
"Vaksin M72 bukan cuma tentang penelitian. Ini tentang melindungi lebih banyak nyawa. Jika efektif, vaksin ini bisa membantu menekan angka penularan dan kematian akibat TB di seluruh dunia," pungkasnya.
Vaksin TBC hasil kolaborasi antara GSK dan Bill & Melinda Gates Foundation ini menciptakan perlindungan jangka panjang. Kehadiran vaksin tersebut diharapkan dapat memerangi TBC, terutama di negara-negara dengan beban kasus tinggi seperti Indonesia.
Namun, uji coba ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa untuk menurunkan angka kasus TBC di Indonesia hingga 2030, strategi terbaik bukanlah vaksinasi. Melainkan eradikasi atau pemberantasan penyakit secara menyeluruh.
"Kenapa TBC di Indonesia harus divaksin? Menurut saya, kalau Anda, pengen menurunkan angka tuberkolosa di Indonesia untuk tahun 2030, 5 tahun lagi itu dengan eradikasi," kata Siti Fadilah dalam program One on One SindoNews, baru-baru ini.
Baca Juga: Indonesia Jadi Lokasi Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates, Siti Fadilah: Partisipan dengan Kelinci Percobaan Sama Aja
Eradikasi yang dimaksud, lanjut Siti, melibatkan pengobatan menyeluruh bagi pasien TBC, bukan hanya melalui pendekatan medis semata. Ia menekankan bahwa hanya 40 persen dari keberhasilan pengobatan TBC berasal dari intervensi medis. Sisanya, yaitu 60 persen, dipengaruhi oleh faktor-faktor non-medis seperti nutrisi, lingkungan, dan kepatuhan minum obat.
"Eradikasi itu memberantas orang yang sudah sakit TB atau mengobati orang yang sakit TB, secara komprehensif. Jadi mengobati TB itu hanya 40 persen itu medis, yang 60 persen itu bukan medis," jelas Siti.
Dalam kesempatan tersebut, Siti juga mengapresiasi program RW Siaga TBC yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada 9 Mei 2025. Program ini digulirkan hanya dua hari setelah kedatangan Bill Gates ke Indonesia, yang juga sedang mempromosikan vaksin M72 untuk TBC.
"Yang saya lihat ini pak Menkes sudah punya program bagus banget yang dicanangkan pada tanggal 9. Jadi Bill Gates datang tanggal 7, pak Menkes tanggal 9 mencanangkan suatu program seperti RW Siaga. Kemudian Kelurahan Siaga, Desa Siaga TBC, RW Siaga TBC," ungkap Siti.
Baca Juga: Profil GlaxoSmithKline, Raksasa Biofarmasi di Balik Vaksin TBC Bill Gates untuk Indonesia
Menurut Siti, konsep RW Siaga ini sangat efektif dalam pelacakan dan pengawasan pengobatan pasien di tingkat komunitas. Ia menggambarkan bahwa dalam satu RW, jika ada delapan penderita TBC, maka seluruh sumber daya di tingkat RW bisa dikerahkan untuk memastikan pasien patuh minum obat setiap hari.
"Di mana RW tersebut, yang ngopenin kasus-kasus TBC yang ada di situ. Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik, jadi setiap hari ibu-ibu PKK maranin pasien-pasien itu untuk harus diminum obatnya," ujar Siti.
Namun, ia menilai bahwa program ini masih memiliki kekurangan karena belum menyentuh aspek pemenuhan gizi pasien TBC secara menyeluruh. Ia mengusulkan agar pemerintah turut menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi penderita TBC agar daya tahan tubuh mereka meningkat.
"Nah, setiap berapa minggu diperiksa dokter. Cuma programnya pak Menkes ini kurang komprehensif. Jadi tolong tambahin gizi. Jadi makan bergizi gratis itu harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkolosa karena impairment mereka," ucap Siti.
Baca Juga: GlaxoSmithKline Pengembang Vaksin TBC Bill Gates Sudah 50 Tahun Hadir di Indonesia, Berbasis di Pulogadung
Siti juga menambahkan bahwa jika program RW Siaga TBC dilaksanakan secara konsisten dan ditambah dengan dukungan nutrisi, maka vaksin TBC seperti kolaborasi Bill & Melinda Gates Foundation dan GlaxoSmithKline tidak akan lagi dibutuhkan.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya pak Menkes ini jalan dengan bagus, kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," beber Siti.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari kalangan akademisi dan praktisi medis. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan pakar penyakit paru, sekaligus Peneliti Nasional Vaksin Tuberkulosis Prof. Erlina Burhan menyatakan bahwa vaksinasi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam pengendalian TBC di Indonesia.
"Vaksin tetap dibutuhkan untuk mempercepat penurunan insidens," tegas Erlina melalui pesan singkat kepada SindoNews, Minggu (18/5/2025).
Ia menuturkan bahwa TBC adalah infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, dan tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga dapat menyebar ke organ lain. Seperti otak, tulang, kelenjar getah bening, dan kulit.
Menurut data yang ia sampaikan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua terbanyak di dunia dalam jumlah kasus TBC. Setiap tahunnya, lebih dari 1 juta orang terinfeksi dan sekitar 130 ribu orang meninggal dunia karena penyakit ini, yang mana artinya rata-rata ada 15 kematian per jam akibat TBC.
Salah satu vaksin yang sudah digunakan selama ini adalah BCG, yang efektif untuk anak-anak. Namun, efektivitasnya menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, vaksin baru seperti M72 menjadi harapan baru untuk memberikan perlindungan pada kelompok usia dewasa.
"Vaksin BCG sudah menjadi andalan melawan TB. Efektif melindungi anak-anak. Tapi, perlindungannya berkurang saat kita tubuh dewasa. Ini lah vaksin M72 harapan baru melawan TB," tutur Erlina.
"Vaksin M72 bukan cuma tentang penelitian. Ini tentang melindungi lebih banyak nyawa. Jika efektif, vaksin ini bisa membantu menekan angka penularan dan kematian akibat TB di seluruh dunia," pungkasnya.
(dra)
Lihat Juga :