Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Gen Z Jepang, Tolak Kerja Berlebihan dan Utamakan Hidup Seimbang
Rabu, 28 Mei 2025 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
"Saya rasa lebih baik menyeimbangkan pekerjaan dan hal-hal yang ingin saya lakukan di luar kantor dan saya yakin sebagian besar teman saya juga merasakan hal yang sama," jelas Issei.
Studi Mynavi menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku quiet quitting melakukannya demi memiliki waktu untuk diri sendiri, sementara sebagian lainnya merasa bahwa apa yang mereka kerjakan sudah sepadan dengan gaji yang diterima. Sebagian lagi menyebut bahwa mereka kehilangan semangat karena kontribusi mereka tidak dihargai atau karena melihat karier tidak lagi menjanjikan keamanan jangka panjang.
Sumie Kawakami, dosen ilmu sosial di Universitas Yamanashi Gakuin, menilai bahwa perubahan ini merupakan hasil refleksi panjang dari generasi muda terhadap pola kerja generasi sebelumnya yang penuh pengorbanan.
Baca Juga: 8 Rahasia Panjang Umur Orang Jepang yang Bikin Hidup Lebih Lama dan Sehat
"Banyak anak muda melihat orang tua mereka mengorbankan hidup mereka untuk sebuah perusahaan, bekerja lembur berjam-jam dan pada dasarnya mengabaikan kehidupan pribadi mereka," ujar Kawakami.
Ia menambahkan, janji perusahaan pada masa lalu, seperti gaji tetap, bonus besar, dan jaminan pensiun, kini banyak yang tak lagi terealisasi. Generasi muda pun enggan membayar harga mahal untuk sistem yang tak membalas dengan adil.
"Namun hal itu kini tak lagi terjadi. Perusahaan berupaya memangkas biaya, tidak semua staf memiliki kontrak dan gaji penuh sementara bonus tak lagi sebesar dulu," ungkapnya.
Generasi Baru yang Tak Lagi Takut Dicap Malas
Studi Mynavi menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku quiet quitting melakukannya demi memiliki waktu untuk diri sendiri, sementara sebagian lainnya merasa bahwa apa yang mereka kerjakan sudah sepadan dengan gaji yang diterima. Sebagian lagi menyebut bahwa mereka kehilangan semangat karena kontribusi mereka tidak dihargai atau karena melihat karier tidak lagi menjanjikan keamanan jangka panjang.
Sumie Kawakami, dosen ilmu sosial di Universitas Yamanashi Gakuin, menilai bahwa perubahan ini merupakan hasil refleksi panjang dari generasi muda terhadap pola kerja generasi sebelumnya yang penuh pengorbanan.
Baca Juga: 8 Rahasia Panjang Umur Orang Jepang yang Bikin Hidup Lebih Lama dan Sehat
"Banyak anak muda melihat orang tua mereka mengorbankan hidup mereka untuk sebuah perusahaan, bekerja lembur berjam-jam dan pada dasarnya mengabaikan kehidupan pribadi mereka," ujar Kawakami.
Ia menambahkan, janji perusahaan pada masa lalu, seperti gaji tetap, bonus besar, dan jaminan pensiun, kini banyak yang tak lagi terealisasi. Generasi muda pun enggan membayar harga mahal untuk sistem yang tak membalas dengan adil.
"Namun hal itu kini tak lagi terjadi. Perusahaan berupaya memangkas biaya, tidak semua staf memiliki kontrak dan gaji penuh sementara bonus tak lagi sebesar dulu," ungkapnya.
Pandemi dan Perubahan Prioritas
Lihat Juga :