Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Gen Z Jepang, Tolak Kerja Berlebihan dan Utamakan Hidup Seimbang
Rabu, 28 Mei 2025 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Pandemi Covid-19 turut mempercepat perubahan ini. Banyak orang muda mulai mempertanyakan makna hidup dan prioritas pribadi, termasuk nilai dari komitmen seumur hidup pada satu tempat kerja.
Izumi Tsuji, profesor sosiologi budaya dari Universitas Chuo Tokyo, mengamati bahwa keinginan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi kini menjadi aspirasi utama. Ia menyambut baik pergeseran ini sebagai awal dari gaya hidup yang lebih sehat.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehat Orang Jepang yang Bikin Panjang Umur
"Di masa lalu, pekerja sangat loyal terhadap pemberi kerja mereka, bekerja dalam jam panjang, melakukan lembur tanpa dibayar, dan tidak berniat pindah perusahaan," tutur Tsuji.
"Sebagai imbalannya, mereka dan keluarga mereka diberi nafkah hingga mereka pensiun," tambahnya.
Lebih dari sekadar tren kerja, quiet quitting dinilai sebagai solusi atas budaya kerja ekstrem yang selama ini telah merenggut banyak korban. Jepang mengenal istilah karoshi, yaitu kematian akibat terlalu banyak bekerja. Pada 1998, tercatat lebih dari 32.000 kasus bunuh diri, banyak di antaranya terkait dengan tekanan kerja. Meskipun angka tersebut kini menurun, fenomena itu masih menjadi pengingat kelam akan betapa beratnya beban kerja masa lalu.
"Saya menyambut baik perubahan ini karena generasi pekerja yang lebih tua akan memberikan 150 persen kepada perusahaan mereka tetapi harga yang mereka bayar adalah karoshi (istilah Jepang untuk kematian yang disebabkan oleh terlalu banyak bekerja)," tutur Kawakami.
Kini, dengan Gen Z mulai mengambil alih ruang kerja dan membawa filosofi hidup yang lebih seimbang, Jepang sedang menyaksikan transformasi budaya kerja. Mereka tidak lagi merasa harus bertahan di pekerjaan yang menguras mental dan fisik, dan justru menemukan makna hidup di luar struktur korporasi.
Izumi Tsuji, profesor sosiologi budaya dari Universitas Chuo Tokyo, mengamati bahwa keinginan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi kini menjadi aspirasi utama. Ia menyambut baik pergeseran ini sebagai awal dari gaya hidup yang lebih sehat.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehat Orang Jepang yang Bikin Panjang Umur
"Di masa lalu, pekerja sangat loyal terhadap pemberi kerja mereka, bekerja dalam jam panjang, melakukan lembur tanpa dibayar, dan tidak berniat pindah perusahaan," tutur Tsuji.
"Sebagai imbalannya, mereka dan keluarga mereka diberi nafkah hingga mereka pensiun," tambahnya.
Quiet Quitting Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Sosial
Lebih dari sekadar tren kerja, quiet quitting dinilai sebagai solusi atas budaya kerja ekstrem yang selama ini telah merenggut banyak korban. Jepang mengenal istilah karoshi, yaitu kematian akibat terlalu banyak bekerja. Pada 1998, tercatat lebih dari 32.000 kasus bunuh diri, banyak di antaranya terkait dengan tekanan kerja. Meskipun angka tersebut kini menurun, fenomena itu masih menjadi pengingat kelam akan betapa beratnya beban kerja masa lalu.
"Saya menyambut baik perubahan ini karena generasi pekerja yang lebih tua akan memberikan 150 persen kepada perusahaan mereka tetapi harga yang mereka bayar adalah karoshi (istilah Jepang untuk kematian yang disebabkan oleh terlalu banyak bekerja)," tutur Kawakami.
Kini, dengan Gen Z mulai mengambil alih ruang kerja dan membawa filosofi hidup yang lebih seimbang, Jepang sedang menyaksikan transformasi budaya kerja. Mereka tidak lagi merasa harus bertahan di pekerjaan yang menguras mental dan fisik, dan justru menemukan makna hidup di luar struktur korporasi.
(dra)
Lihat Juga :