Cinta Laura Emosi Raja Ampat Rusak Akibat Tambang Nikel: Jual Masa Depan Negeri demi Mobil Mewah
Senin, 09 Juni 2025 - 23:20 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Richard Kyle Kritik Tambang Nikel di Raja Ampat: Bukan Kemajuan, Ini Kepunahan
“Coba tanya ke mama-mama di Papua yang sekarang kesulitan cari air bersih untuk mandiin anaknya. Coba tanya nelayan yang pulang dengan jaring kosong dan nggak bisa kasih makan keluarganya,” ucapnya.
"Coba tanya para tetua yang ngeliat hutan-hutan sakral mereka diratain. Harga sebenarnya dari tambang ini bukan sekadar ton logam yang diambil, tapi kematian cara hidup, putusnya ikatan suci antara manusia, tanah, laut, dan budaya," tambahnya.
Dalam penjelasannya, artis berdarah Indonesia-Jerman itu juga menyinggung fenomena moral disengagement, yakni pembenaran atas tindakan merusak dengan dalih pembangunan. Ia menilai bahwa kompromi etika yang awalnya kecil, jika dibiarkan terus terjadi, akan menjadi kebiasaan yang mematikan hati nurani.
"Why does this keep happening? Tentunya banyak faktor yang nggak bisa dijelasin dalam satu video ini. Tapi salah satu ha yang ingin aku bahas adalah moral disengagement. Kita membenarkan yang nggak bisa dibenarkan, 'ini demi pembangunan nasional. Cuma pulau kecil, yang lain kan masih ada. Negara lain juga lebih parah kok. Masa kita nggak boleh untung?'" ujarnya.
Baca Juga: 10 Artis Indonesia Serukan Tagar #SaveRajaAmpat, Tuntut Perlindungan Alam Papua dari Tambang Nikel
“Dan dari sana keserakahan tumbuh pelan-pelan. Sembunyi di balik rapat-rapat ber-AC, dibungkus jargon patriotisme. Apa yang awalnya cuma kompromi kecil soal etika, lama-ama jadi hal biasa sampai akhirnya seluruh ekosistem dan budaya pun dikorbanin tanpa rasa malu,” lanjutnya.
Ia juga mengungkap betapa masyarakat adat Papua, yang justru selama ini menjadi penjaga surga Raja Ampat jauh sebelum dunia mengenal istilah konservasi, kini justru dimarjinalkan. Hak-hak mereka dilanggar, suara mereka dibungkam, dan izin-izin tambang dikeluarkan tanpa proses FPIC (Free, Prior, Informed Consent), yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional.
"Bagi masyarakat Papua di Raja Ampat, tanah, hutan, dan laut adalah keluarga. Hutan punya makna sakral. Terumbu karang adalah bagian dari sejarah lisan diwariskan turun-temurun," tuturnya.
"Irama pasang surut laut dan musim migrasi ikan adalah bagian dari identitas budaya mereka, dan sekarang hutan-hutan sakral diratakan, laut jadi mati, dan sunyi. Ilmu yang dulu diwariskan dari orang tua ke anak tentang laut dan alam, jadi tak relevan lagi," sambungnya.
“Coba tanya ke mama-mama di Papua yang sekarang kesulitan cari air bersih untuk mandiin anaknya. Coba tanya nelayan yang pulang dengan jaring kosong dan nggak bisa kasih makan keluarganya,” ucapnya.
"Coba tanya para tetua yang ngeliat hutan-hutan sakral mereka diratain. Harga sebenarnya dari tambang ini bukan sekadar ton logam yang diambil, tapi kematian cara hidup, putusnya ikatan suci antara manusia, tanah, laut, dan budaya," tambahnya.
Dalam penjelasannya, artis berdarah Indonesia-Jerman itu juga menyinggung fenomena moral disengagement, yakni pembenaran atas tindakan merusak dengan dalih pembangunan. Ia menilai bahwa kompromi etika yang awalnya kecil, jika dibiarkan terus terjadi, akan menjadi kebiasaan yang mematikan hati nurani.
"Why does this keep happening? Tentunya banyak faktor yang nggak bisa dijelasin dalam satu video ini. Tapi salah satu ha yang ingin aku bahas adalah moral disengagement. Kita membenarkan yang nggak bisa dibenarkan, 'ini demi pembangunan nasional. Cuma pulau kecil, yang lain kan masih ada. Negara lain juga lebih parah kok. Masa kita nggak boleh untung?'" ujarnya.
Baca Juga: 10 Artis Indonesia Serukan Tagar #SaveRajaAmpat, Tuntut Perlindungan Alam Papua dari Tambang Nikel
“Dan dari sana keserakahan tumbuh pelan-pelan. Sembunyi di balik rapat-rapat ber-AC, dibungkus jargon patriotisme. Apa yang awalnya cuma kompromi kecil soal etika, lama-ama jadi hal biasa sampai akhirnya seluruh ekosistem dan budaya pun dikorbanin tanpa rasa malu,” lanjutnya.
Ia juga mengungkap betapa masyarakat adat Papua, yang justru selama ini menjadi penjaga surga Raja Ampat jauh sebelum dunia mengenal istilah konservasi, kini justru dimarjinalkan. Hak-hak mereka dilanggar, suara mereka dibungkam, dan izin-izin tambang dikeluarkan tanpa proses FPIC (Free, Prior, Informed Consent), yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional.
"Bagi masyarakat Papua di Raja Ampat, tanah, hutan, dan laut adalah keluarga. Hutan punya makna sakral. Terumbu karang adalah bagian dari sejarah lisan diwariskan turun-temurun," tuturnya.
"Irama pasang surut laut dan musim migrasi ikan adalah bagian dari identitas budaya mereka, dan sekarang hutan-hutan sakral diratakan, laut jadi mati, dan sunyi. Ilmu yang dulu diwariskan dari orang tua ke anak tentang laut dan alam, jadi tak relevan lagi," sambungnya.
Lihat Juga :