AstraZeneca Ajak Kolaborasi Multi-Sektor untuk Tingkatkan Penanganan Asma di Indonesia
Kamis, 19 Juni 2025 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K), Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menambahkan ,“Kolaborasi antara PDPI dan AstraZeneca merupakan langkah strategis dalam memperkuat pemahaman klinis dan mendorong implementasi penatalaksanaan asma yang lebih komprehensif sesuai pedoman global. Melalui edukasi yang berkelanjutan kepada tenaga medis, kami berharap pengenalan gejala, diagnosis dini, hingga pemilihan terapi—khususnya terapi yang tepat—dapat dilakukan secara lebih akurat. Dengan pendekatan yang menyeluruh ini, kualitas hidup pasien asma dapat ditingkatkan secara signifikan.”
Menurut WHO, pada tahun 2019, asma dialami oleh sekitar 262 juta orang di seluruh dunia dan menjadi penyebab sekitar 455.000 kematian. Di Indonesia, prevalensi asma yang didiagnosis oleh dokter tercatat sebesar 1,6%, dengan hampir 58,3% pasien mengalami kekambuhan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, asma bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan berdampak besar bahkan kematian. Meskipun hanya sebagian kecil penderita tergolong asma berat, kelompok ini menimbulkan beban terbesar dalam biaya pengobatan. Selain itu, asma berat kerap disertai penyakit penyerta yang semakin memperberat beban sistem kesehatan dan berisiko menyebabkan kematian dini.
“Dengan kolaborasi lintas sektor, AstraZeneca optimis pendekatan baru dalam tata laksana asma ini dapat membantu lebih banyak pasien di Indonesia menjalani hidup yang lebih baik, aktif, dan terbebas dari serangan berulang,” tutup Esra.
Menurut WHO, pada tahun 2019, asma dialami oleh sekitar 262 juta orang di seluruh dunia dan menjadi penyebab sekitar 455.000 kematian. Di Indonesia, prevalensi asma yang didiagnosis oleh dokter tercatat sebesar 1,6%, dengan hampir 58,3% pasien mengalami kekambuhan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, asma bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan berdampak besar bahkan kematian. Meskipun hanya sebagian kecil penderita tergolong asma berat, kelompok ini menimbulkan beban terbesar dalam biaya pengobatan. Selain itu, asma berat kerap disertai penyakit penyerta yang semakin memperberat beban sistem kesehatan dan berisiko menyebabkan kematian dini.
“Dengan kolaborasi lintas sektor, AstraZeneca optimis pendekatan baru dalam tata laksana asma ini dapat membantu lebih banyak pasien di Indonesia menjalani hidup yang lebih baik, aktif, dan terbebas dari serangan berulang,” tutup Esra.
(dra)
Lihat Juga :