Caviar dari Dapur Zero-Waste: Inovasi Kuliner Unik di Tepi Pantai Bali
Selasa, 22 Juli 2025 - 09:16 WIB
loading...
A
A
A
Inovasi ini dipimpin langsung oleh Chef Hazwan yang punya visi menghadirkan rasa global, tapi dengan bahan lokal dan teknik berkelanjutan. Semua menu diubah setiap tiga bulan, mengikuti musim, panen, dan hasil laut yang sedang melimpah.
Salah satu elemen yang paling kuat dari pengalaman bersantap di Seasalt adalah penggunaan garam laut kusamba, garam tradisional Bali Timur yang dipanen dengan tangan. Kristalnya lembut, mineralnya kompleks, dan disajikan secara seremonial setiap malam saat pembukaan makan malam. Mereka menyebutnya “Seasalt Ritual yakni ritual menyambut tamu dengan roti hangat dan sejumput rasa laut.
“Kami ingin tamu tak hanya makan, tapi merasakan hubungan langsung dengan daratan dan lautan Bali,” ujar Hazwan.
Beberapa menu yang wajib dicoba adalah crusted kusamba salt barramundi, 72-hour wagyu short rib infinity breakfast dan moonlight BBQ.
Bahan-bahan di Seasalt bersumber dari produsen lokal yang diajak kerja sama jangka panjang mulai dari nelayan di Kedonganan, petani garam Kusamba, hingga pembuat cokelat, keju, dan kopi lokal. Rantai pasoknya dibuat sebersih dan setransparan mungkin, bukan cuma untuk kualitas rasa, tapi juga untuk membangun hubungan berkelanjutan.
Salah satu elemen yang paling kuat dari pengalaman bersantap di Seasalt adalah penggunaan garam laut kusamba, garam tradisional Bali Timur yang dipanen dengan tangan. Kristalnya lembut, mineralnya kompleks, dan disajikan secara seremonial setiap malam saat pembukaan makan malam. Mereka menyebutnya “Seasalt Ritual yakni ritual menyambut tamu dengan roti hangat dan sejumput rasa laut.
“Kami ingin tamu tak hanya makan, tapi merasakan hubungan langsung dengan daratan dan lautan Bali,” ujar Hazwan.
Beberapa menu yang wajib dicoba adalah crusted kusamba salt barramundi, 72-hour wagyu short rib infinity breakfast dan moonlight BBQ.
Bahan-bahan di Seasalt bersumber dari produsen lokal yang diajak kerja sama jangka panjang mulai dari nelayan di Kedonganan, petani garam Kusamba, hingga pembuat cokelat, keju, dan kopi lokal. Rantai pasoknya dibuat sebersih dan setransparan mungkin, bukan cuma untuk kualitas rasa, tapi juga untuk membangun hubungan berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :