Vitamin D Rendah Dapat Tingkatkan Kemungkinan Infeksi COVID-19
Kamis, 10 September 2020 - 09:38 WIB
loading...
A
A
A
Diketahui separuh orang Amerika kekurangan vitamin D, dengan tingkat yang jauh lebih tinggi di antara orang Amerika kulit hitam dan orang-orang yang tinggal di daerah seperti Chicago, di mana sulit untuk mendapatkan cukup paparan sinar matahari pada musim dingin. Tubuh memproduksi vitamin D saat kulit terkena sinar matahari langsung.
"Memahami apakah mengobati kekurangan vitamin D mengubah risiko COVID-19 bisa menjadi sangat penting secara lokal, nasional, dan global," jelas Meltzer. (Baca Juga: WHO Peringatkan Dunia Lebih Siap untuk Pandemi Berikutnya )
"Vitamin D tidak mahal, umumnya sangat aman dikonsumsi, dan dapat ditingkatkan secara luas," sambungnya.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah suplemen vitamin D dapat mengurangi risiko infeksi virus corona baru dan bahkan tingkat keparahan COVID-19.
"Menyarankan bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam sistem kekebalan. Studi saat ini menggarisbawahi bahwa vitamin D tampaknya mengurangi risiko terinfeksi COVID, dan penelitian lain menunjukkan bahwa pasien dengan defisiensi vitamin D menjadi lebih buruk terhadap COVID," papar Len Horovitz, Ahli Paru dan Internis di Lenox Hill Hospital, New York.
"Memahami apakah mengobati kekurangan vitamin D mengubah risiko COVID-19 bisa menjadi sangat penting secara lokal, nasional, dan global," jelas Meltzer. (Baca Juga: WHO Peringatkan Dunia Lebih Siap untuk Pandemi Berikutnya )
"Vitamin D tidak mahal, umumnya sangat aman dikonsumsi, dan dapat ditingkatkan secara luas," sambungnya.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah suplemen vitamin D dapat mengurangi risiko infeksi virus corona baru dan bahkan tingkat keparahan COVID-19.
"Menyarankan bahwa vitamin D memainkan peran penting dalam sistem kekebalan. Studi saat ini menggarisbawahi bahwa vitamin D tampaknya mengurangi risiko terinfeksi COVID, dan penelitian lain menunjukkan bahwa pasien dengan defisiensi vitamin D menjadi lebih buruk terhadap COVID," papar Len Horovitz, Ahli Paru dan Internis di Lenox Hill Hospital, New York.
Lihat Juga :