Hasil Studi Ungkap Satu dari Tiga Orang Indonesia Masih Tolak Ibu Menyusui di Ruang Publik
Sabtu, 09 Agustus 2025 - 14:53 WIB
loading...
Dr.dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, peneliti utama dan pendiri Health Collaborative Center dalam diskusi belum lama ini.
A
A
A
JAKARTA - Dalam rangka memperingati Pekan Menyusui Sedunia 2025, Health Collaborative Center (HCC) merilis laporan studi bertajuk "Persepsi dan Dukungan pada Ibu Menyusui di Tempat Umum". Hasilnya menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: satu dari tiga orang Indonesia masih memiliki pandangan negatif atau menolak kehadiran ibu menyusui di ruang publik.
Studi yang dilakukan melalui survei daring pada 4-5 Agustus 2025 ini melibatkan 731 responden. Mereka diminta menanggapi berbagai skenario ibu menyusui di beragam lokasi, mulai dari transportasi umum hingga kafe.
Masyarakat Masih Merasa Tidak Nyaman
Studi ini menemukan bahwa 30% responden merasa tidak nyaman dan 29,7% merasa gelisah saat melihat ibu menyusui di tempat umum. Penolakan ini semakin kuat jika ibu menyusui tanpa penutup, dengan 50% responden menyatakan sangat tidak setuju. Selain itu, 29% responden beranggapan ibu hanya boleh menyusui di ruang khusus.
"Ini bukan sekadar soal kenyamanan visual. Ini soal hak dasar perempuan," kata Dr.dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, peneliti utama dan pendiri HCC. "Ketika masyarakat masih menolak praktik menyusui di ruang publik, berarti kita belum sepenuhnya mendukung ibu dan anak secara sosial."
Penolakan tertinggi ditemukan pada lokasi publik yang sering digunakan sehari-hari, seperti transportasi umum (33,8%), taman atau ruang terbuka (34,6%), kafe (32,8%), dan tempat makan (30,6%).
Menurut Ray, temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mendorong ibu untuk "bersembunyi" saat menyusui, alih-alih menciptakan lingkungan yang inklusif. Ia menekankan, "Kita butuh lebih dari sekadar ruang laktasi. Kita butuh perubahan budaya."
Studi yang dilakukan melalui survei daring pada 4-5 Agustus 2025 ini melibatkan 731 responden. Mereka diminta menanggapi berbagai skenario ibu menyusui di beragam lokasi, mulai dari transportasi umum hingga kafe.
Masyarakat Masih Merasa Tidak Nyaman
Studi ini menemukan bahwa 30% responden merasa tidak nyaman dan 29,7% merasa gelisah saat melihat ibu menyusui di tempat umum. Penolakan ini semakin kuat jika ibu menyusui tanpa penutup, dengan 50% responden menyatakan sangat tidak setuju. Selain itu, 29% responden beranggapan ibu hanya boleh menyusui di ruang khusus.
"Ini bukan sekadar soal kenyamanan visual. Ini soal hak dasar perempuan," kata Dr.dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, peneliti utama dan pendiri HCC. "Ketika masyarakat masih menolak praktik menyusui di ruang publik, berarti kita belum sepenuhnya mendukung ibu dan anak secara sosial."
Penolakan tertinggi ditemukan pada lokasi publik yang sering digunakan sehari-hari, seperti transportasi umum (33,8%), taman atau ruang terbuka (34,6%), kafe (32,8%), dan tempat makan (30,6%).
Menurut Ray, temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mendorong ibu untuk "bersembunyi" saat menyusui, alih-alih menciptakan lingkungan yang inklusif. Ia menekankan, "Kita butuh lebih dari sekadar ruang laktasi. Kita butuh perubahan budaya."
Lihat Juga :