Jerome Polin Soroti Gaji Guru dan Dosen, Sindir Pemerintah soal Prioritas Pendidikan
Senin, 11 Agustus 2025 - 07:40 WIB
loading...
Jerome Polin angkat suara soal gaji guru dan dosen usai pernyataan Menteri Keuangan. Ia sedih pemerintah tidak menempatkan tenaga pendidik sebagai prioritas. Foto/Instagram Jerome Polin
A
A
A
JAKARTA - Konten kreator sekaligus edukator Jerome Polin ikut angkat suara soal gaji guru dan dosen usai pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani viral di media sosial. Ia mengaku sedih jika pemerintah tidak menempatkan tenaga pendidik dan peningkatan kualitas pendidikan sebagai prioritas utama.
Menurut Jerome Polin , tanpa langkah nyata di sektor pendidkan, impian menuju Indonesia Emas hanya akan menjadi wacana.
"Setelah melihat statement yang viral dari Menteri Keuangan tentang gaji guru dan dosen, aku jadi sedih. Kalau negara tidak menjadikan guru, dosen, dan perbaikan kualitas pendidikan sebagai prioritas, kita gak bisa berharap Indonesia Emas," kata Jerome dikutip dari Instagram @jeromepolin, Senin (11/8/2025).
Jerome mengakui bahwa 20 persen anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sudah dialokasikan untuk pendidikan. Namun, ia yakin masih banyak pos anggaran dari sektor lain yang bisa dipangkas demi menambah dana untuk pendidikan. Ia menegaskan bahwa negara maju dibangun dari sistem pendidikan yang kuat dan tenaga pendidik yang sejahtera.
Baca Juga: Jerome Polin Hitung Uang Korupsi Pertamina, Bisa Bangun 193 Ribu Sekolah dan Kuliahi Jutaan Orang
![Jerome Polin Soroti Gaji Guru dan Dosen, Sindir Pemerintah soal Prioritas Pendidikan]()
Foto/Instagram @jeromepolin
"Aku tau APBN kita 20 persen sudah untuk pendidikan, tapi aku yakin banyak anggaran yang kurang mendesak dari sektor lain bisa dipotong dan dialihkan ke sektor pendidikan," jelasnya.
Gaji dan kesejahteraan guru, disebut Jerome, menjadi salah satu faktor penentu kemajuan pendidikan. Ia menceritakan hasil surveinya yang menunjukkan banyak orang Indonesia berminat menjadi guru, namun mengurungkan niat karena penghasilan yang rendah. Kondisi ini, katanya, menjadi hambatan besar bagi regenerasi tenaga pendidik berkualitas.
"Karena aku percaya, negara yang maju adalah negara yang pendidikannya maju. Dan itu dibangun oleh tenaga pendidik yang bagus. Salah satu katalis dan faktor terpenting yang bisa mendorong kemajuan itu? Gaji dan kesejahteraan," ujarnya.
"Setelah aku survey, aku sadar banyak sekali orang Indonesia yang sebenernya mau jadi guru, tapi akhirnya mengurungkan niatnya karena profesi guru di Indonesia secara umum belum bisa sejahtera. Mau sampai kapan?" tambahnya.
Baca Juga: Dukung Timnas Indonesia Menang atas Filipina, Jerome Polin Buktikan Kutukannya Sudah Berakhir
Jerome menilai gaji layak akan membuat seseorang termotivasi untuk bekerja maksimal. Ia mempertanyakan siapa yang ingin menjadi guru jika hanya digaji Rp300 ribu per bulan untuk pekerjaan penuh waktu. Menurutnya, tanpa keinginan atau keterpaksaan, sangat sedikit orang yang mau bertahan di profesi tersebut.
"Gaji itu jadi salah satu faktor penting yang bikin orang mau ngerjain sesuatu. Itu bisa bikin orang semangat buat kerja," ungkapnya.
"Siapa yang mau jadi guru kalau gajinya cuma Rp300 ribu per bulan. Padahal kerja full time? Kalau bukan karena pengabdian atau passion, atau terpaksa, kayaknya hampir nggak ada yang mau," lanjutnya.
Ia menegaskan, mustahil meningkatkan kualitas pendidikan tanpa memperbaiki kesejahteraan guru. Bagi Jerome, gaji yang kompetitif akan menarik lebih banyak orang pintar dan berkompeten masuk ke dunia pendidikan. Hal ini akan memicu persaingan positif yang meningkatkan standar kualitas guru di Indonesia.
Baca Juga: Jerome Polin Tertekan Disebut Jadi Penyebab Timnas Indonesia U-23 Kalah
"Jangan harap kualitas pendidikan Indonesia bisa naik kalau nggak ada perbaikan kualitas guru dan itu semua balik lagi ke faktor gaji dan kesejahteraan," tuturnya.
Jerome menggambarkan profesi guru yang memiliki prestise setara dengan dokter atau insinyur. Dalam kondisi seperti itu, banyak lulusan universitas ternama dan peraih prestasi akademik tinggi yang akan bersaing menjadi guru. Dampaknya, kualitas tenaga pendidik akan meningkat pesat dan mendorong kemajuan pendidikan nasional.
"Bayangin, profesi guru setara dengan engineer/dokter dari segi prestisnya. Aku yakin banyak yang mau jadi guru. Akhirnya ada 'kompetisi' yang ketat. Orang belajar keras buat jadi guru. Alhasil kualitas guru-guru jadi bagus-bagus semua. Barrier of entrynya tinggi," bebernya.
Ia juga percaya bahwa ketika profesi guru dihargai dengan layak, orang-orang cerdas dan bersemangat mengajar akan tertarik bergabung. Alumni universitas terbaik, peraih medali olimpiade, dan tenaga ahli akan melihat profesi guru sebagai pilihan karier bergengsi. Jerome menutup dengan keyakinan bahwa langkah ini bisa menjadi kunci majunya pendidikan Indonesia.
"Orang-orang pinter dan punya passion ngajar, mau kerja jadi guru. Lulusan top uni, alumni juara Olimpiade, banyak yang mau jadi guru. Beh apa nggak maju pendidikan Indonesia?" tandasnya.
Menurut Jerome Polin , tanpa langkah nyata di sektor pendidkan, impian menuju Indonesia Emas hanya akan menjadi wacana.
"Setelah melihat statement yang viral dari Menteri Keuangan tentang gaji guru dan dosen, aku jadi sedih. Kalau negara tidak menjadikan guru, dosen, dan perbaikan kualitas pendidikan sebagai prioritas, kita gak bisa berharap Indonesia Emas," kata Jerome dikutip dari Instagram @jeromepolin, Senin (11/8/2025).
Jerome mengakui bahwa 20 persen anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sudah dialokasikan untuk pendidikan. Namun, ia yakin masih banyak pos anggaran dari sektor lain yang bisa dipangkas demi menambah dana untuk pendidikan. Ia menegaskan bahwa negara maju dibangun dari sistem pendidikan yang kuat dan tenaga pendidik yang sejahtera.
Baca Juga: Jerome Polin Hitung Uang Korupsi Pertamina, Bisa Bangun 193 Ribu Sekolah dan Kuliahi Jutaan Orang

Foto/Instagram @jeromepolin
"Aku tau APBN kita 20 persen sudah untuk pendidikan, tapi aku yakin banyak anggaran yang kurang mendesak dari sektor lain bisa dipotong dan dialihkan ke sektor pendidikan," jelasnya.
Gaji dan kesejahteraan guru, disebut Jerome, menjadi salah satu faktor penentu kemajuan pendidikan. Ia menceritakan hasil surveinya yang menunjukkan banyak orang Indonesia berminat menjadi guru, namun mengurungkan niat karena penghasilan yang rendah. Kondisi ini, katanya, menjadi hambatan besar bagi regenerasi tenaga pendidik berkualitas.
"Karena aku percaya, negara yang maju adalah negara yang pendidikannya maju. Dan itu dibangun oleh tenaga pendidik yang bagus. Salah satu katalis dan faktor terpenting yang bisa mendorong kemajuan itu? Gaji dan kesejahteraan," ujarnya.
"Setelah aku survey, aku sadar banyak sekali orang Indonesia yang sebenernya mau jadi guru, tapi akhirnya mengurungkan niatnya karena profesi guru di Indonesia secara umum belum bisa sejahtera. Mau sampai kapan?" tambahnya.
Baca Juga: Dukung Timnas Indonesia Menang atas Filipina, Jerome Polin Buktikan Kutukannya Sudah Berakhir
Jerome menilai gaji layak akan membuat seseorang termotivasi untuk bekerja maksimal. Ia mempertanyakan siapa yang ingin menjadi guru jika hanya digaji Rp300 ribu per bulan untuk pekerjaan penuh waktu. Menurutnya, tanpa keinginan atau keterpaksaan, sangat sedikit orang yang mau bertahan di profesi tersebut.
"Gaji itu jadi salah satu faktor penting yang bikin orang mau ngerjain sesuatu. Itu bisa bikin orang semangat buat kerja," ungkapnya.
"Siapa yang mau jadi guru kalau gajinya cuma Rp300 ribu per bulan. Padahal kerja full time? Kalau bukan karena pengabdian atau passion, atau terpaksa, kayaknya hampir nggak ada yang mau," lanjutnya.
Ia menegaskan, mustahil meningkatkan kualitas pendidikan tanpa memperbaiki kesejahteraan guru. Bagi Jerome, gaji yang kompetitif akan menarik lebih banyak orang pintar dan berkompeten masuk ke dunia pendidikan. Hal ini akan memicu persaingan positif yang meningkatkan standar kualitas guru di Indonesia.
Baca Juga: Jerome Polin Tertekan Disebut Jadi Penyebab Timnas Indonesia U-23 Kalah
"Jangan harap kualitas pendidikan Indonesia bisa naik kalau nggak ada perbaikan kualitas guru dan itu semua balik lagi ke faktor gaji dan kesejahteraan," tuturnya.
Jerome menggambarkan profesi guru yang memiliki prestise setara dengan dokter atau insinyur. Dalam kondisi seperti itu, banyak lulusan universitas ternama dan peraih prestasi akademik tinggi yang akan bersaing menjadi guru. Dampaknya, kualitas tenaga pendidik akan meningkat pesat dan mendorong kemajuan pendidikan nasional.
"Bayangin, profesi guru setara dengan engineer/dokter dari segi prestisnya. Aku yakin banyak yang mau jadi guru. Akhirnya ada 'kompetisi' yang ketat. Orang belajar keras buat jadi guru. Alhasil kualitas guru-guru jadi bagus-bagus semua. Barrier of entrynya tinggi," bebernya.
Ia juga percaya bahwa ketika profesi guru dihargai dengan layak, orang-orang cerdas dan bersemangat mengajar akan tertarik bergabung. Alumni universitas terbaik, peraih medali olimpiade, dan tenaga ahli akan melihat profesi guru sebagai pilihan karier bergengsi. Jerome menutup dengan keyakinan bahwa langkah ini bisa menjadi kunci majunya pendidikan Indonesia.
"Orang-orang pinter dan punya passion ngajar, mau kerja jadi guru. Lulusan top uni, alumni juara Olimpiade, banyak yang mau jadi guru. Beh apa nggak maju pendidikan Indonesia?" tandasnya.
(dra)
Lihat Juga :