Kisah di Balik Senyum Dokter Muda Alip Hildan: 16 Kali Ditolak, Kisah Cinta Kandas
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 14:05 WIB
loading...
dr. Alip Hildan, dokter muda yang akrab disapa Doklip.
A
A
A
Di media sosial, banyak orang terlihat menjalani hidup yang sempurna. Penuh tawa, pencapaian, dan kisah cinta indah. Namun, di balik setiap senyuman, sering kali ada perjuangan yang tak terlihat. Inilah kisah dr. Alip Hildan, dokter muda yang akrab disapa "Doklip", yang kini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya yang tidak semulus yang terlihat.
Lahir di Tangerang pada 11 November 1999, Mohamad Hildan Erriansyah--nama asli Alip Hildan--ternyata menyimpan banyak cerita pilu. Sejak TK, ia sudah bercita-cita menjadi dokter, impian yang juga merupakan harapan besar sang ayah. Namun, jalannya menuju fakultas kedokteran jauh dari kata mulus.
Perjuangan Alip Hildan dimulai sejak ia mencoba mendaftar ke fakultas kedokteran. Ia mengalami penolakan sebanyak 16 kali.
"Alhamdulillah, aku bisa melanjutkan cita-cita ayah menjadi seorang dokter dengan perjuangan yang tak mudah," ungkapnya.
Setelah belasan kali gagal, secercah harapan datang saat ia mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Momen penerimaan itu menjadi titik balik yang mengharukan bagi ia dan ayahnya, yang bangga melihat sang anak selangkah lebih dekat dengan impiannya.
Patah Hati Setelah Jatuh Cinta
Di balik kesuksesan akademisnya, kehidupan asmara Alip juga menyimpan cerita pahit. Setelah merasakan kekosongan dalam hati, ia bertemu dengan seseorang yang mengisi hari-harinya. Selama tiga bulan, ia merasa hidupnya lebih berwarna dan bahagia.
Namun, kebahagiaan itu harus kandas.
"Awalnya aku merasa ada kekosongan hati, lalu hadir seseorang yang melengkapi. Dengan adanya dia, hidupku lebih bahagia," ujarnya. "Tapi, setelah tiga bulan bersama, hubunganku tidak jelas arahnya. Sampai akhirnya dia bilang hanya menganggapku teman."
Pengakuan itu membuat Alip merasa dipermainkan. Ia bahkan sempat mengalami anxiety dan depresi hingga harus mencari bantuan psikiater. Namun, ia kini melihat semua itu sebagai bagian dari takdir.
"Mungkin sudah jalannya harus kandas seperti ini," kata Alip dengan bijak.
Kisah Alip Hildan mengingatkan kita bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan. Di balik setiap pencapaian dan senyum, ada perjuangan, kegagalan, dan ketangguhan yang membentuk diri.
Lahir di Tangerang pada 11 November 1999, Mohamad Hildan Erriansyah--nama asli Alip Hildan--ternyata menyimpan banyak cerita pilu. Sejak TK, ia sudah bercita-cita menjadi dokter, impian yang juga merupakan harapan besar sang ayah. Namun, jalannya menuju fakultas kedokteran jauh dari kata mulus.
Perjuangan Alip Hildan dimulai sejak ia mencoba mendaftar ke fakultas kedokteran. Ia mengalami penolakan sebanyak 16 kali.
"Alhamdulillah, aku bisa melanjutkan cita-cita ayah menjadi seorang dokter dengan perjuangan yang tak mudah," ungkapnya.
Setelah belasan kali gagal, secercah harapan datang saat ia mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Momen penerimaan itu menjadi titik balik yang mengharukan bagi ia dan ayahnya, yang bangga melihat sang anak selangkah lebih dekat dengan impiannya.
Patah Hati Setelah Jatuh Cinta
Di balik kesuksesan akademisnya, kehidupan asmara Alip juga menyimpan cerita pahit. Setelah merasakan kekosongan dalam hati, ia bertemu dengan seseorang yang mengisi hari-harinya. Selama tiga bulan, ia merasa hidupnya lebih berwarna dan bahagia.
Namun, kebahagiaan itu harus kandas.
"Awalnya aku merasa ada kekosongan hati, lalu hadir seseorang yang melengkapi. Dengan adanya dia, hidupku lebih bahagia," ujarnya. "Tapi, setelah tiga bulan bersama, hubunganku tidak jelas arahnya. Sampai akhirnya dia bilang hanya menganggapku teman."
Pengakuan itu membuat Alip merasa dipermainkan. Ia bahkan sempat mengalami anxiety dan depresi hingga harus mencari bantuan psikiater. Namun, ia kini melihat semua itu sebagai bagian dari takdir.
"Mungkin sudah jalannya harus kandas seperti ini," kata Alip dengan bijak.
Kisah Alip Hildan mengingatkan kita bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan. Di balik setiap pencapaian dan senyum, ada perjuangan, kegagalan, dan ketangguhan yang membentuk diri.
(aik)
Lihat Juga :