Kesehatan Jemaah Haji Jadi Prioritas, Perdokhi Sampaikan 16 Rekomendasi
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 23:34 WIB
loading...
Wakil Kepala BPH Dahnil Anzar Simajuntak berfoto bersama pada Evaluasi Nasional Kesehatan Haji Bersama Perdokhi dan BPH-2025 di Auditorium HM Rasjidi Kemenag. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Haji Indonesia (Perdokhi) Prof. Dr. Muchtaruddin Mansyur menyampaikan Perdokhi memberikan 16 poin rekomendasi untuk transformasi kebijakan istithoah kesehatan haji bersama Badan Penyelenggara Haji (BPH).
Rekomendasi tersebut di antaranya penambahan vaksin influenza berbasis sel dan vaksin pneumonia.
"Rekomendasi lainnya adalah pemberian imunomodulator asli Indonesia seperti ekstrak Phyllantus niruri yang dikombinasi dengan multivitamin dianjurkan setiap hari sejak dari Tanah Air untuk meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi risiko infeksi yang meningkat pada kerumunan," kata Prof. Dr. Muchtaruddin Mansyur, dalam keterangan resmi, Sabtu (23/8/2025).
Baca juga: DPR dan Pemerintah Sepakat Usia Minimal Berangkat Haji Jadi 13 Tahun
Hal ini ia sampaikan disela Evaluasi Nasional Kesehatan Haji Bersama Perdokhi dan BPH-2025 di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) Dr.dr.Syarief Hasan Lutfie, menambahkan vaksin influenza efektif digunakan sekitar satu bulan sebelum keberangkatan jemaah haji . Sementara penggunaan imunomodulator sebaiknya sudah secara rutin digunakan 3 bulan sebelum keberangkatan untuk memperkuat daya tahan tubuh.
"Kalau yang berkaitan dengan di lapangan kan pasti viral infectious itu selalu ada. Sehingga kasus-kasus modifikasi daripada virus-virus yang baru itu pasti muncul. Entah itu COVID, entah itu yang pneumonia itu akan menjadi isu-isu yang selalu ada setiap tahun. Karena mass gathering itu infectious," kata dr Syarief.
Selain itu, terdapat pemberian imunomodulator asli Indonesia seperti ekstrak Phyllantusniruri yang dikombinasi dengan multivitamin yang dianjurkan setiap hari sejak dari tanah air untuk meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi risiko infeksi yang meningkat pada kerumunan.
"Perlu ada stimulasi, perlu ada doping untuk meningkatkan imunomodulator supaya nantinya bisa daya tahan kardiovaskuler lebih bagus," katanya.
Dalam acara ini, sejumlah ahli kesehatan membahas tentang upaya pemeliharaan kesehatan para jemaah haji secara holististik.
Sementara Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH) Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan kesehatan haji menjadi fokus Pemerintah pada penyelenggaraan haji 2026.
BPH, kata Gus Irfan, sedang mematangkan skema Manasik Kesehatan untuk memenuhi Istithaah kesehatan haji.
Istithaah kesehatan haji adalah kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan, baik fisik maupun mental, yang terukur melalui pemeriksaan, sehingga dapat menjalankan ibadah haji sesuai dengan syariat Islam.
"Kita berharap tahun ini kita benar-benar memaksimalkan SOP kesehatan kita. Bukan berarti kita tidak punya standar, tapi standar kita yang selama ini mungkin belum kita terapkan secara maksimal," kata Gus Irfan.
Penerapan standar kesehatan haji, menurut Gus Irfan, sangat penting untuk mencegah angka kematian jemaah haji Indonesia.
Dirinya mengatakan standar kesehatan mendapatkan sorotan luas di tingkat internasional.
"Kesehatan yang jemaah ahji ini adalah proses yang dilihat seluruh dunia. Kami tidak ingin haji ini dilihat sebagai ladang kematian oleh dunia," ucap Gus Irfan.
Rekomendasi tersebut di antaranya penambahan vaksin influenza berbasis sel dan vaksin pneumonia.
"Rekomendasi lainnya adalah pemberian imunomodulator asli Indonesia seperti ekstrak Phyllantus niruri yang dikombinasi dengan multivitamin dianjurkan setiap hari sejak dari Tanah Air untuk meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi risiko infeksi yang meningkat pada kerumunan," kata Prof. Dr. Muchtaruddin Mansyur, dalam keterangan resmi, Sabtu (23/8/2025).
Baca juga: DPR dan Pemerintah Sepakat Usia Minimal Berangkat Haji Jadi 13 Tahun
Hal ini ia sampaikan disela Evaluasi Nasional Kesehatan Haji Bersama Perdokhi dan BPH-2025 di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) Dr.dr.Syarief Hasan Lutfie, menambahkan vaksin influenza efektif digunakan sekitar satu bulan sebelum keberangkatan jemaah haji . Sementara penggunaan imunomodulator sebaiknya sudah secara rutin digunakan 3 bulan sebelum keberangkatan untuk memperkuat daya tahan tubuh.
"Kalau yang berkaitan dengan di lapangan kan pasti viral infectious itu selalu ada. Sehingga kasus-kasus modifikasi daripada virus-virus yang baru itu pasti muncul. Entah itu COVID, entah itu yang pneumonia itu akan menjadi isu-isu yang selalu ada setiap tahun. Karena mass gathering itu infectious," kata dr Syarief.
Selain itu, terdapat pemberian imunomodulator asli Indonesia seperti ekstrak Phyllantusniruri yang dikombinasi dengan multivitamin yang dianjurkan setiap hari sejak dari tanah air untuk meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi risiko infeksi yang meningkat pada kerumunan.
"Perlu ada stimulasi, perlu ada doping untuk meningkatkan imunomodulator supaya nantinya bisa daya tahan kardiovaskuler lebih bagus," katanya.
Dalam acara ini, sejumlah ahli kesehatan membahas tentang upaya pemeliharaan kesehatan para jemaah haji secara holististik.
Sementara Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH) Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan kesehatan haji menjadi fokus Pemerintah pada penyelenggaraan haji 2026.
BPH, kata Gus Irfan, sedang mematangkan skema Manasik Kesehatan untuk memenuhi Istithaah kesehatan haji.
Istithaah kesehatan haji adalah kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan, baik fisik maupun mental, yang terukur melalui pemeriksaan, sehingga dapat menjalankan ibadah haji sesuai dengan syariat Islam.
"Kita berharap tahun ini kita benar-benar memaksimalkan SOP kesehatan kita. Bukan berarti kita tidak punya standar, tapi standar kita yang selama ini mungkin belum kita terapkan secara maksimal," kata Gus Irfan.
Penerapan standar kesehatan haji, menurut Gus Irfan, sangat penting untuk mencegah angka kematian jemaah haji Indonesia.
Dirinya mengatakan standar kesehatan mendapatkan sorotan luas di tingkat internasional.
"Kesehatan yang jemaah ahji ini adalah proses yang dilihat seluruh dunia. Kami tidak ingin haji ini dilihat sebagai ladang kematian oleh dunia," ucap Gus Irfan.
(nnz)
Lihat Juga :