Lindungi Penderita Demensia dari Covid-19

Jum'at, 11 September 2020 - 12:15 WIB
loading...
Lindungi Penderita Demensia...
Foto/dok
A A A
PENELITIAN kolaboratif antara London School of Economics dan University College of London menyebutkan, sekitar 75% kematian pasien yang terpapar COVID-19 adalah orang dengan demensia sebagai penyakit penyerta.

Tak dimungkiri, usia merupakan faktor terbesar terkait dengan demensia, dan golongan lansia memiliki risiko paling tinggi terhadap paparan COVID-19, dengan 86% kematian terjadi pada golongan usia 65 tahun ke atas. (Baca: 7 Daerah Ini Masih Berlakukan PSBB)

“Bukan hanya itu, kondisi pandemi COVID-19 yang berlangsung saat ini juga membuat banyak orang rentan akan kesepian, kecemasan, dan depresi, tak terkecuali ODD (Orang Dengan Demensia) dan caregivers,” beber Direktur Regional Alzheimer Asia Pasifik sekaligus Penggagas ALZI DY Suharya.

Nyatanya, pandemik ini telah mempengaruhi kondisi fisik dan mental masyarakat. Perubahan-perubahan sikap diadopsi dalam situasi kebiasaan baru juga tampak pada peningkatan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan otak. Hal ini diutarakan oleh Ahli Syaraf dan Dekan UNIKA Atma Jaya Dr. dr. Yuda Turana SpS.

Menurutnya, terjadi peningkatan jumlah orang yang bertanya seputar kesehatan mental dan kesehatan otak. Namun, kondisi pandemi COVID-19 membuat banyak diantaranya merasa kesulitan dan takut untuk datang ke rumah sakit dan berkonsultasi secara langsung.

“Di sisi lain, sistem pelayanan kesehatan yang membatasi pendamping dan adanya ruang isolasi tanpa pendamping, dengan jumlah tenaga kesehatan rumah sakit belum sepenuhnya memadai menjadi permasalahan besar pasien lansia dengan demensia di rumah sakit,” jelas dr. Yuda. Pada 2016, di Indonesia diperkirakan telah ada sekitar 1,2 juta ODD, angka ini berpotensi meningkat menjadi 2 juta orang di 2030 dan 4 juta orang pada 2050.

Perlakuan yang salah terhadap ODD dapat memperparah kondisi kejiwaan. Berdasarkan laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), tiap 2 dari 3 orang masih berpikir bahwa demensia atau pikun adalah bagian normal dari penuaan. Sejatinya demensia merupakan gejala penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak. (Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China Ternyata Bukan Hadis Shahih)

Sedangkan demensia Alzheimer adalah gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, daya ingat, dan pengambilan keputusan seseorang dan biasa disebut pikun. Risiko demensia bisa dicegah dengan memahami bahwa kebiasaan hidup sekarang dapat mempengaruhi kesehatan otak di masa depan.

“Kita dapat mengurangi risiko demensia Alzheimer sejak usia muda dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga asupan gizi seimbang, berkegiatan positif termasuk dengan memberi perhatian pada orang tua dan keluarga. Jangan maklum dengan pikun,” beber Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia Michael Dirk Roelof Maltimoe.

Lebih jauh sejak tahun 2000, Indonesia menjadi aging society dengan jumlah penduduk berusia lanjut (lansia) lebih dari 7 persen. Sebuah penelitian memproyeksikan jumlah lansia akan semakin meningkat dari 20-an juta jiwa (sekitar 9 persen) pada 2019 menjadi hampir 20 persen dari total jumlah penduduk pada 2045. (Baca juga: Baru Disuntik Vaksin Buatan China, Pulang dari Semarang Relawan Ini Positif Corona)

Namun menjadi tua bukan berarti kualitas hidup menurun. Sebaliknya, lansia bisa tetap produktif dan bebas pikun dengan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Yaitu mengonsumsi asupan gizi sehat seimbang, dan latihan jasmani rutin.

“Ketika telah menjadi lansia, kiat agar tetap sehat di usia lanjut yang dapat menjadi panduan adalah BAHAGIA, yaitu Berat badan dijaga, Atur makanan seimbang, Hindari faktor risiko, Agar tetap berguna kembangkan hobi, Gerak badan teratur, Iman dan takwa ditingkatkan, serta Awasi kesehatan secara periodik,” jelas Dr. dr. Purwita Wijaya Laksmi, Sp.PD-KGer, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Terlebih, lansia berisiko lebih tinggi terkena infeksi dan kematian akibat COVID-19. Hal ini disebabkan karena proses menua pada sistem kekebalan tubuh membuat daya tahan tubuh relatif menjadi lebih rendah. Selain itu, lansia umumnya telah memiliki berbagai penyakit kronik yang meningkatkan risiko komplikasi penyakit. (Lihat videonya: Tawuran Remaja Sambil Berenang Kembali Terjadi di Jakarta Utara)

Karenanya keluarga perlu mengupayakan kondisi lingkungan rumah tetap bersih, aman, dan nyaman untuk lansia. Perhatian tulus dan kesabaran dari keluarga akan membuat lansia tidak merasa terisolasi serta memudahkan lansia menerima dan beradaptasi terhadap tatanan baru. (Sri Noviarni)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pijat Serentak untuk...
Pijat Serentak untuk Lansia Jadi Pengingat Pentingnya Perawatan Tubuh di Usia Senja
Hindari Risiko Jatuh,...
Hindari Risiko Jatuh, Lansia Justru Tetap Perlu Olahraga
Cedera Berat pada Lansia,...
Cedera Berat pada Lansia, Penanganan Tepat dan Cepat Kunci Keberhasilan Pengobatan
Jelang Iduladha, Aldi...
Jelang Iduladha, Aldi Taher Serukan Makan Daging Tanpa Takut Kolesterol
Jangan Tunggu Keluhan,...
Jangan Tunggu Keluhan, Pemeriksaan Mata Anak Perlu Dilakukan Sejak Dini
5 Manfaat Kopi yang...
5 Manfaat Kopi yang Jarang Diketahui, Bikin Panjang Umur hingga Cegah Penyakit Kronis
Transformasi Rejuve...
Transformasi Rejuve Dorong Kebiasaan Hidup Sehat
Mengubah Ledakan Populasi...
Mengubah Ledakan Populasi Lansia Indonesia Menjadi Kekuatan Emas: Menjemput Bonus Demografi Kedua
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
Rekomendasi
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Pasar Modal Dapat Sentimen...
Pasar Modal Dapat Sentimen Positif, BRI Siap Melaju dengan Fundamental Kuat
Emas Antam Kembali Berkilau,...
Emas Antam Kembali Berkilau, Hari Ini Naik Rp20 Ribu Sentuh Rp2.709.000 per Gram
Berita Terkini
Resmi Rujuk, Pihak Clara...
Resmi Rujuk, Pihak Clara Shinta Sebut Ada Konsekuensi Jika Suami Langgar Perjanjian Damai
EJAE Curi Perhatian...
EJAE Curi Perhatian di Pembukaan Piala Dunia 2026, Bawakan Lagu Resmi FIFA dalam Bahasa Korea
Clara Shinta dan Muhammad...
Clara Shinta dan Muhammad Alexander Assad Rujuk, Gugatan Cerai Resmi Dicabut
Shakira Buka Piala Dunia...
Shakira Buka Piala Dunia 2026 dengan Penampilan Spektakuler, Cetak Sejarah Baru di FIFA
Cut Meyriska dan Roger...
Cut Meyriska dan Roger Danuarta Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Imbas Kasus Hanania Travel
Praz Teguh Tegaskan...
Praz Teguh Tegaskan Tak Terima Aliran Dana Hanania Group, Hanya Uang Saku Umroh
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H, Kamis 19 Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved