Viral! Fenomena Pura-pura Bekerja di Kalangan Anak Muda China Imbas Pengangguran Meningkat
Rabu, 10 September 2025 - 17:00 WIB
loading...
Viral di media sosial fenomena berpura-pura bekerja di kalangan anak muda di China seiring meningkatnya pengangguran. Mereka menjalani rutinitas pegawai. Foto/Channel News Asia
A
A
A
JAKARTA - Viral di media sosial fenomena berpura-pura bekerja di kalangan anak muda di China seiring meningkatnya angka pengangguran. Mereka memilih menjalani rutinitas layaknya pegawai kantoran, datang ke perpustakaan, kafe, hingga ruang kerja tiruan, meski sebenarnya mereka tidak memiliki pekerjaan.
Langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi psikologis untuk menjaga rutinitas, disiplin, dan identitas sosial di tengah tekanan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan. Di balik kesan satir, tren ini mencerminkan tantangan serius generasi muda China yang berjuang mempertahankan harapan di tengah angka pengangguran yang terus meningkat.
![Viral! Fenomena Pura-pura Bekerja di Kalangan Anak Muda China Imbas Pengangguran Meningkat]()
Foto/Channel News Asia
Baca Juga: Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Gen Z Jepang, Tolak Kerja Berlebihan dan Utamakan Hidup Seimbang
Dilansir dari Channel News Asia, Rabu (10/9/2025), bagi sosok seperti Xiao Ding (30), berpura-pura bekerja bukanlah bentuk penipuan, melainkan cara menjaga kedisiplinan diri.
Setelah delapan tahun berkecimpung di bidang pemasaran teknologi, ia memutuskan berhenti bekerja pada 2023 dan hingga kini sudah 22 bulan menganggur. Meski telah melamar lebih dari 1.000 pekerjaan, hanya empat kali ia dipanggil wawancara dan semuanya gagal.
Menurut Xiao, rutinitas berpura-pura bekerja membuatnya merasa masih terhubung dengan dunia profesional. Ia menyebut bahwa kebiasaan ini memberinya “tekanan positif” layaknya orang yang harus pergi ke kantor setiap hari, sekaligus mengurangi rasa linglung akibat pengangguran panjang.
"Saya memilih berpura-pura bekerja karena dua alasan. Pertama, untuk menjaga jadwal harian yang teratur. Kedua, untuk memberi diri saya tekanan pergi bekerja," kata Xiao.
"Seluruh tubuh saya sakit karenanya. Saat itulah saya benar-benar mengerti apa arti hidup dalam keadaan linglung. Saya merasa tidak berharga sama sekali bagi masyarakat," sambungnya.
Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran kaum muda di China mencapai 17,8 persen pada Juli lalu, angka tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Jumlah lulusan universitas yang terus bertambah memperburuk kompetisi di pasar kerja, sehingga banyak generasi muda tidak kunjung menemukan pekerjaan yang layak.
Para ahli menilai tren berpura-pura bekerja adalah bentuk mekanisme koping untuk mengurangi rasa cemas dan menjaga harga diri di tengah budaya kerja China yang sangat menghargai produktivitas. Dengan tetap berangkat kerja meski tanpa pekerjaan nyata, anak muda merasa lebih berdaya dan tidak kehilangan identitas sosial.
Baca Juga: Viral! Pria China Ketahuan Selingkuh Buntut Gagal Bayar Pil KB, Istri Dihubungi Apotek
Fenomena ini berkembang lebih jauh dengan hadirnya kantor tiruan bernama Pretend to Work Unlimited Company. Kantor yang berlokasi di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, dan Shenzhen ini menawarkan pengalaman bekerja layaknya kantor sungguhan dengan meja, komputer, ruang rapat, hingga printer.
Dengan biaya sekitar 30 yuan atau Rp67 ribu per hari, anak muda bisa menyewa meja, masuk pukul 09.00, bahkan menggunakan lencana perusahaan palsu. Bagi banyak orang, suasana ini membantu mereka merasa produktif, meski tidak memiliki pekerjaan formal.
Bahkan ada yang memanfaatkan ruang ini untuk mengembangkan bisnis kecil, mempersiapkan ujian, hingga mengasah ide startup.
Menurut Zhan Yang, profesor antropologi budaya di Hong Kong Polytechnic University, fenomena ini berbeda dengan tren “lying flat” atau “berbaring datar” yang populer beberapa tahun lalu. Jika lying flat menunjukkan penolakan terhadap tekanan sosial, maka berpura-pura bekerja justru menggambarkan keinginan untuk tetap produktif meski peluang kerja terbatas.
"Berpura-pura bekerja bukan tanda kemalasan, melainkan upaya mempertahankan identitas dan rutinitas ketika pekerjaan nyata sulit didapat,” ujar Zhan.
Hal ini juga dinilai sebagai bentuk perlawanan kreatif terhadap norma sosial yang menuntut kesuksesan cepat di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Baca Juga: Viral! Struk Restoran Cantumkan Biaya Royalti Musik dan Lagu Rp29 Ribu
Bagi sebagian orang, berpura-pura bekerja membantu mereka merasa tidak sendirian menghadapi pengangguran. Ruang kerja semacam itu menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, menjaga motivasi, sekaligus mengurangi tekanan dari keluarga yang masih mengukur keberhasilan berdasarkan pekerjaan formal.
Seperti yang dialami Yue, mahasiswa bisnis berusia 21 tahun, kantor tiruan memberinya tempat untuk berkarya sekaligus mengurangi kesalahpahaman keluarganya.
"Kalau di rumah hanya membuat video, keluarga menganggap saya tidak bekerja. Tapi kalau saya keluar ke kantor seperti ini, mereka lebih menghargai," tuturnya.
Langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi psikologis untuk menjaga rutinitas, disiplin, dan identitas sosial di tengah tekanan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan. Di balik kesan satir, tren ini mencerminkan tantangan serius generasi muda China yang berjuang mempertahankan harapan di tengah angka pengangguran yang terus meningkat.

Foto/Channel News Asia
Baca Juga: Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Gen Z Jepang, Tolak Kerja Berlebihan dan Utamakan Hidup Seimbang
Mengapa Anak Muda Memilih Berpura-pura Bekerja?
Dilansir dari Channel News Asia, Rabu (10/9/2025), bagi sosok seperti Xiao Ding (30), berpura-pura bekerja bukanlah bentuk penipuan, melainkan cara menjaga kedisiplinan diri.
Setelah delapan tahun berkecimpung di bidang pemasaran teknologi, ia memutuskan berhenti bekerja pada 2023 dan hingga kini sudah 22 bulan menganggur. Meski telah melamar lebih dari 1.000 pekerjaan, hanya empat kali ia dipanggil wawancara dan semuanya gagal.
Menurut Xiao, rutinitas berpura-pura bekerja membuatnya merasa masih terhubung dengan dunia profesional. Ia menyebut bahwa kebiasaan ini memberinya “tekanan positif” layaknya orang yang harus pergi ke kantor setiap hari, sekaligus mengurangi rasa linglung akibat pengangguran panjang.
"Saya memilih berpura-pura bekerja karena dua alasan. Pertama, untuk menjaga jadwal harian yang teratur. Kedua, untuk memberi diri saya tekanan pergi bekerja," kata Xiao.
"Seluruh tubuh saya sakit karenanya. Saat itulah saya benar-benar mengerti apa arti hidup dalam keadaan linglung. Saya merasa tidak berharga sama sekali bagi masyarakat," sambungnya.
Lonjakan Pengangguran Jadi Pemicu
Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran kaum muda di China mencapai 17,8 persen pada Juli lalu, angka tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Jumlah lulusan universitas yang terus bertambah memperburuk kompetisi di pasar kerja, sehingga banyak generasi muda tidak kunjung menemukan pekerjaan yang layak.
Para ahli menilai tren berpura-pura bekerja adalah bentuk mekanisme koping untuk mengurangi rasa cemas dan menjaga harga diri di tengah budaya kerja China yang sangat menghargai produktivitas. Dengan tetap berangkat kerja meski tanpa pekerjaan nyata, anak muda merasa lebih berdaya dan tidak kehilangan identitas sosial.
Baca Juga: Viral! Pria China Ketahuan Selingkuh Buntut Gagal Bayar Pil KB, Istri Dihubungi Apotek
Kantor Tiruan Jadi Bisnis Baru
Fenomena ini berkembang lebih jauh dengan hadirnya kantor tiruan bernama Pretend to Work Unlimited Company. Kantor yang berlokasi di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, dan Shenzhen ini menawarkan pengalaman bekerja layaknya kantor sungguhan dengan meja, komputer, ruang rapat, hingga printer.
Dengan biaya sekitar 30 yuan atau Rp67 ribu per hari, anak muda bisa menyewa meja, masuk pukul 09.00, bahkan menggunakan lencana perusahaan palsu. Bagi banyak orang, suasana ini membantu mereka merasa produktif, meski tidak memiliki pekerjaan formal.
Bahkan ada yang memanfaatkan ruang ini untuk mengembangkan bisnis kecil, mempersiapkan ujian, hingga mengasah ide startup.
Perspektif Ahli
Menurut Zhan Yang, profesor antropologi budaya di Hong Kong Polytechnic University, fenomena ini berbeda dengan tren “lying flat” atau “berbaring datar” yang populer beberapa tahun lalu. Jika lying flat menunjukkan penolakan terhadap tekanan sosial, maka berpura-pura bekerja justru menggambarkan keinginan untuk tetap produktif meski peluang kerja terbatas.
"Berpura-pura bekerja bukan tanda kemalasan, melainkan upaya mempertahankan identitas dan rutinitas ketika pekerjaan nyata sulit didapat,” ujar Zhan.
Hal ini juga dinilai sebagai bentuk perlawanan kreatif terhadap norma sosial yang menuntut kesuksesan cepat di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Baca Juga: Viral! Struk Restoran Cantumkan Biaya Royalti Musik dan Lagu Rp29 Ribu
Dampak Sosial dan Harapan ke Depan
Bagi sebagian orang, berpura-pura bekerja membantu mereka merasa tidak sendirian menghadapi pengangguran. Ruang kerja semacam itu menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, menjaga motivasi, sekaligus mengurangi tekanan dari keluarga yang masih mengukur keberhasilan berdasarkan pekerjaan formal.
Seperti yang dialami Yue, mahasiswa bisnis berusia 21 tahun, kantor tiruan memberinya tempat untuk berkarya sekaligus mengurangi kesalahpahaman keluarganya.
"Kalau di rumah hanya membuat video, keluarga menganggap saya tidak bekerja. Tapi kalau saya keluar ke kantor seperti ini, mereka lebih menghargai," tuturnya.
(dra)
Lihat Juga :