Taiwan Larang Warganya Konsumsi Indomie Soto Banjar Limau Kuit usai Temuan Pestisida
Jum'at, 12 September 2025 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Dampak paparan EtO berbeda tergantung durasi dan tingkatannya. Dalam jangka pendek, paparan dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, hingga gangguan pernapasan, serta gejala seperti mual dan pusing. Sementara pada paparan jangka panjang, risiko yang lebih serius muncul, seperti meningkatnya kemungkinan kanker payudara, leukemia, lymphoma, hingga masalah reproduksi.
Baca Juga: Taiwan Tarik Indomie karena Terdeteksi Ada Kandungan Karsinogenik, Begini Penjelasan Ahli Gizi
Kasus ini menyoroti adanya perbedaan regulasi keamanan pangan antarnegara. Taiwan menerapkan standar sangat ketat dengan larangan total keberadaan EtO dalam makanan, sekecil apa pun kadarnya. Oleh karena itu, meskipun hasil uji hanya menunjukkan 0,1 mg/kg, produk tetap dinyatakan melanggar aturan dan wajib ditarik.
"Menurut standar jumlah yang dapat ditoleransi untuk residu pestisida, etilen oksida tidak boleh terdeteksi dan harus berada di bawah batas kuantitatif 0,1 mg/kg yang ditentukan dalam metode deteksi. Hal ini tidak sesuai dengan Pasal 15 Undang-Undang Keamanan Pangan dan Sanitasi," jelasnya.
Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia masih mengizinkan batas ambang EtO hingga 85 ppm (85.000 ppb) berdasarkan Peraturan BPOM No. 229 Tahun 2022. Artinya, kadar 0,1 mg/kg yang ditemukan di Taiwan masih jauh di bawah ambang batas nasional dan dinilai aman dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Bagi konsumen di Taiwan, TFDA menegaskan agar Indomie Soto Banjar Limau Kuit yang sudah telanjur dibeli segera dibuang, termasuk yang diperoleh lewat belanja online maupun perjalanan internasional. Hal ini untuk mencegah akumulasi paparan EtO, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Meskipun dosis yang ditemukan relatif rendah, paparan rutin dalam jangka panjang tetap menjadi perhatian serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan batas paparan pekerja terhadap EtO hanya 1 ppm per delapan jam, sementara untuk makanan diatur jauh lebih ketat.
Baca Juga: Taiwan Tarik Indomie karena Terdeteksi Ada Kandungan Karsinogenik, Begini Penjelasan Ahli Gizi
Perbedaan Standar Taiwan dan Indonesia
Kasus ini menyoroti adanya perbedaan regulasi keamanan pangan antarnegara. Taiwan menerapkan standar sangat ketat dengan larangan total keberadaan EtO dalam makanan, sekecil apa pun kadarnya. Oleh karena itu, meskipun hasil uji hanya menunjukkan 0,1 mg/kg, produk tetap dinyatakan melanggar aturan dan wajib ditarik.
"Menurut standar jumlah yang dapat ditoleransi untuk residu pestisida, etilen oksida tidak boleh terdeteksi dan harus berada di bawah batas kuantitatif 0,1 mg/kg yang ditentukan dalam metode deteksi. Hal ini tidak sesuai dengan Pasal 15 Undang-Undang Keamanan Pangan dan Sanitasi," jelasnya.
Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia masih mengizinkan batas ambang EtO hingga 85 ppm (85.000 ppb) berdasarkan Peraturan BPOM No. 229 Tahun 2022. Artinya, kadar 0,1 mg/kg yang ditemukan di Taiwan masih jauh di bawah ambang batas nasional dan dinilai aman dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Risiko Kesehatan Bagi Konsumen
Bagi konsumen di Taiwan, TFDA menegaskan agar Indomie Soto Banjar Limau Kuit yang sudah telanjur dibeli segera dibuang, termasuk yang diperoleh lewat belanja online maupun perjalanan internasional. Hal ini untuk mencegah akumulasi paparan EtO, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Meskipun dosis yang ditemukan relatif rendah, paparan rutin dalam jangka panjang tetap menjadi perhatian serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menetapkan batas paparan pekerja terhadap EtO hanya 1 ppm per delapan jam, sementara untuk makanan diatur jauh lebih ketat.
Lihat Juga :