Kolaborasi Lintas Disiplin Medis Buka Peluang Baru bagi Pasien Kanker Payudara
Selasa, 28 Oktober 2025 - 18:15 WIB
loading...
A
A
A
Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, kanker payudara tidak hanya menjadi tantangan medis tetapi juga masalah sosial dan ekonomi. Biaya pengobatan yang tinggi, hilangnya produktivitas, serta dampak psikologis bagi pasien dan keluarga.
“Deteksi dini kanker masih menjadi tantangan. Penyebab kematian pasien kanker payudara sebagian besar karena datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga tingkat keberhasilan pengobatan menurun. Sebagai bagian dari strategi nasional, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024-2034 untuk memperkuat skrining dan deteksi dini,” jelas dr. Siti Nadia Tarmizi.
Saat ini cakupan skrining kanker payudara dengan mammografi di Indonesia masih rendah. Salah satunya karena keterbatasan alat dan tenaga medis. Dari sekitar 3.000 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 200 rumah sakit yang memiliki alat mammografi.
“Pemerintah berkomitmen untuk tahun 2024 supaya setiap rumah sakit provinsi dilengkapi alat mammografi. Saat ini dari 514 kabupaten/kota, yang memiliki mammografi saat data dikumpulkan masih di bawah 100 kabupaten/kota. Kami mengupayakan untuk meningkatkan sosialisasi Program deteksi dini menggunakan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis), sehingga ini bisa menjadi alternatif penemuan dini kasus kanker payudara,” lanjut dr. Siti.
Perawatan Multidisiplin Kanker Payudara Stadium Lanjut
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, DR. dr. Andhika Rahman, SpPD-KHOM memaparkan bahwa untuk kasus kanker payudara stadium lanjut, saat ini digunakan pendekatan dengan perawatan multidisiplin.
“Deteksi dini kanker masih menjadi tantangan. Penyebab kematian pasien kanker payudara sebagian besar karena datang dalam kondisi stadium lanjut, sehingga tingkat keberhasilan pengobatan menurun. Sebagai bagian dari strategi nasional, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024-2034 untuk memperkuat skrining dan deteksi dini,” jelas dr. Siti Nadia Tarmizi.
Saat ini cakupan skrining kanker payudara dengan mammografi di Indonesia masih rendah. Salah satunya karena keterbatasan alat dan tenaga medis. Dari sekitar 3.000 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 200 rumah sakit yang memiliki alat mammografi.
“Pemerintah berkomitmen untuk tahun 2024 supaya setiap rumah sakit provinsi dilengkapi alat mammografi. Saat ini dari 514 kabupaten/kota, yang memiliki mammografi saat data dikumpulkan masih di bawah 100 kabupaten/kota. Kami mengupayakan untuk meningkatkan sosialisasi Program deteksi dini menggunakan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis), sehingga ini bisa menjadi alternatif penemuan dini kasus kanker payudara,” lanjut dr. Siti.
Perawatan Multidisiplin Kanker Payudara Stadium Lanjut
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Subspesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, DR. dr. Andhika Rahman, SpPD-KHOM memaparkan bahwa untuk kasus kanker payudara stadium lanjut, saat ini digunakan pendekatan dengan perawatan multidisiplin.
Lihat Juga :