Ginjal yang Pernah Diselamatkan, Kini Terancam karena Pergantian Obat
Rabu, 29 Oktober 2025 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Ketimpangan Akses Obat dan Harapan
Masalah yang dihadapi A tidak berhenti pada jenis obat. Ia juga merasakan bagaimana distribusi obat transplantasi di Indonesia belum merata. “Di Jakarta, teman-teman sering mengeluh hanya mendapat obat untuk seminggu atau sepuluh hari dari RSCM, sisanya harus membeli sendiri,” ujarnya. “Sementara di Jawa Tengah, ketersediaannya relatif lebih stabil, paling hanya kosong satu atau dua kali dalam setahun, itu pun hanya tiga sampai empat hari.”
Delapan tahun hidup dengan ginjal hasil transplantasi membuat A memahami betapa pentingnya keberlanjutan akses terhadap obat-obatan vital. “Obat ini bukan barang yang bisa diganti seenaknya,” katanya. “Nyawa kami bergantung pada obat ini.”
Selain kebijakan obat, A juga menyoroti masalah lain dalam sistem layanan transplantasi, yaitu panjangnya waktu antrean bagi pasien yang sudah siap menjalani operasi. Menurutnya, pasien gagal ginjal kronik hidup berpacu dengan waktu, dan sedikit keterlambatan bisa berakibat fatal. “Kasihan teman-teman yang sudah semangat mau sembuh,” ucapnya. “Ada yang sudah mendapat jadwal operasi bulan depan, tapi tidak sempat. Meninggal sebelum gilirannya tiba.”
A berharap kisahnya menjadi bukti bahwa transplantasi ginjal di Indonesia bukan hanya mungkin, tetapi juga layak diperjuangkan. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat akses layanan dan menjamin ketersediaan obat yang menjadi penopang hidup pasien seperti dirinya.
Masalah yang dihadapi A tidak berhenti pada jenis obat. Ia juga merasakan bagaimana distribusi obat transplantasi di Indonesia belum merata. “Di Jakarta, teman-teman sering mengeluh hanya mendapat obat untuk seminggu atau sepuluh hari dari RSCM, sisanya harus membeli sendiri,” ujarnya. “Sementara di Jawa Tengah, ketersediaannya relatif lebih stabil, paling hanya kosong satu atau dua kali dalam setahun, itu pun hanya tiga sampai empat hari.”
Delapan tahun hidup dengan ginjal hasil transplantasi membuat A memahami betapa pentingnya keberlanjutan akses terhadap obat-obatan vital. “Obat ini bukan barang yang bisa diganti seenaknya,” katanya. “Nyawa kami bergantung pada obat ini.”
Selain kebijakan obat, A juga menyoroti masalah lain dalam sistem layanan transplantasi, yaitu panjangnya waktu antrean bagi pasien yang sudah siap menjalani operasi. Menurutnya, pasien gagal ginjal kronik hidup berpacu dengan waktu, dan sedikit keterlambatan bisa berakibat fatal. “Kasihan teman-teman yang sudah semangat mau sembuh,” ucapnya. “Ada yang sudah mendapat jadwal operasi bulan depan, tapi tidak sempat. Meninggal sebelum gilirannya tiba.”
A berharap kisahnya menjadi bukti bahwa transplantasi ginjal di Indonesia bukan hanya mungkin, tetapi juga layak diperjuangkan. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat akses layanan dan menjamin ketersediaan obat yang menjadi penopang hidup pasien seperti dirinya.
(dra)
Lihat Juga :