Ginjal yang Pernah Diselamatkan, Kini Terancam karena Pergantian Obat
Rabu, 29 Oktober 2025 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Selama delapan tahun pascatransplantasi, A menjalani kehidupan yang relatif normal. Kadar kreatininnya stabil antara 0,8 dan 1,2, ditopang oleh enam jenis obat yang harus dikonsumsi setiap hari. Salah satunya adalah imunosupresan originator, obat imunosupresan yang berfungsi menekan sistem kekebalan tubuh agar tidak menolak organ baru.
Namun, pada September 2024, pemerintah mengganti obat imunosupresan yang selama ini dikonsumsi A dari imunosupresan originator menjadi imunosupresan non-originator dengan alasan efisiensi anggaran. Dampaknya langsung terasa. Kadar kreatinin A perlahan meningkat, dari 1,3 menjadi 1,4, kemudian 1,5 hingga mencapai 1,6 pada Agustus 2025, melampaui batas aman 1,3.
Kondisi serupa juga dialami banyak pasien lain. Berdasarkan survei Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terhadap 23 pasien, 39 persen di antaranya mengalami peningkatan kadar kreatinin, sedangkan 13 persen bahkan melampaui batas normal. Selain itu, 52 persen pasien dilaporkan mengalami efek samping setelah mengonsumsi imunosupresan non-originator.
Untuk mengendalikan kondisi A, dokter menaikkan dosis methylprednisolone, salah satu obat yang digunakan pasien transplantasi ginjal untuk menurunkan kadar kreatinin. Langkah itu memang berhasil menurunkan kadar kreatinin, tetapi memicu lonjakan gula darah hingga 395 mg/dL—suatu kondisi darurat diabetes, padahal sebelumnya A tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Ia pun harus dirawat di rumah sakit dan menjalani terapi insulin.
Setelah melalui berbagai konsultasi dengan dokter dan serangkaian advokasi bersama Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), A akhirnya kembali mendapatkan obat imunosupresan originator pada Agustus 2025. Hanya dalam beberapa minggu, kadar kreatininnya turun kembali ke 1,1.
“Rasanya seperti bermain dengan nyawa kami,” ujar A. “Dua nyawa sudah dipertaruhkan di meja operasi. Semua perjuangan itu seolah diabaikan demi menghemat anggaran dengan mengganti obat yang belum tentu memiliki kualitas sama.”
Namun, pada September 2024, pemerintah mengganti obat imunosupresan yang selama ini dikonsumsi A dari imunosupresan originator menjadi imunosupresan non-originator dengan alasan efisiensi anggaran. Dampaknya langsung terasa. Kadar kreatinin A perlahan meningkat, dari 1,3 menjadi 1,4, kemudian 1,5 hingga mencapai 1,6 pada Agustus 2025, melampaui batas aman 1,3.
Kondisi serupa juga dialami banyak pasien lain. Berdasarkan survei Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terhadap 23 pasien, 39 persen di antaranya mengalami peningkatan kadar kreatinin, sedangkan 13 persen bahkan melampaui batas normal. Selain itu, 52 persen pasien dilaporkan mengalami efek samping setelah mengonsumsi imunosupresan non-originator.
Untuk mengendalikan kondisi A, dokter menaikkan dosis methylprednisolone, salah satu obat yang digunakan pasien transplantasi ginjal untuk menurunkan kadar kreatinin. Langkah itu memang berhasil menurunkan kadar kreatinin, tetapi memicu lonjakan gula darah hingga 395 mg/dL—suatu kondisi darurat diabetes, padahal sebelumnya A tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Ia pun harus dirawat di rumah sakit dan menjalani terapi insulin.
Setelah melalui berbagai konsultasi dengan dokter dan serangkaian advokasi bersama Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), A akhirnya kembali mendapatkan obat imunosupresan originator pada Agustus 2025. Hanya dalam beberapa minggu, kadar kreatininnya turun kembali ke 1,1.
“Rasanya seperti bermain dengan nyawa kami,” ujar A. “Dua nyawa sudah dipertaruhkan di meja operasi. Semua perjuangan itu seolah diabaikan demi menghemat anggaran dengan mengganti obat yang belum tentu memiliki kualitas sama.”
Lihat Juga :