Kolaborasi Medis Korea - Indonesia Buka Babak Baru Inovasi Bedah Saraf dan Ortopedi Modern
Sabtu, 08 November 2025 - 11:34 WIB
loading...
Seminar perdana yang digelar di Klinik Artikulaar, Jakarta Selatan (7/11). Foto/Dok Klinik Artikulaar
A
A
A
JAKARTA - Nyeri punggung kronis dan cedera tulang belakang menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, termasuk Indonesia. Menjawab tantangan kesehatan global di bidang muskuloskeletal dan neurologis, Gyeonggi International Medical Association (GIMA) dan Korea Medical Devices Association (KMDA), sukses menyelenggarakan seminar internasional hybrid bertajuk“KOREA–INDONESIA 2025 Medical Collaboration: Neurosurgery & Orthopedic Care”.
Seminar perdana yang digelar di Klinik Artikulaar, Jakarta Selatan (7/11) ini dihadiri oleh ratusan profesional medis, termasuk dokter spesialis orthopedi, bedah saraf, rehabilitasi medik, dokter umum, dan manajemen rumah sakit.
Acara ini menjadi platform strategis untuk mempercepat transfer ilmu dan teknologi kedokteran mutakhir, khususnya dalam merespons lonjakan kasus nyeri punggung kronis dan cedera tulang belakang yang dipengaruhi oleh gaya hidup sedentari dan peningkatan usia harapan hidup di Indonesia.
Baca Juga : Jadi Makanan Favorit Maher Zein, Ini Manfaat Ubi bagi Kesehatan
Menjawab Lonjakan Kasus Nyeri Punggung dan Cedera Tulang Belakang
Gangguan muskuloskeletal, terutama nyeri punggung bawah, menjadi penyumbang terbesar disabilitas secara global menurut Global Burden of Disease Study (2021). Di Indonesia, kasus ini semakin kompleks seiring perubahan pola kerja yang lebih sedentari dan meningkatnya usia harapan hidup, sehingga menuntut inovasi medis yang lebih aman, efektif, dan minim invasif.
"Melalui seminar perdana ini, kami tidak hanya membangun jembatan kolaborasi yang berkelanjutan, tetapi juga menciptakan sebuah platform efektif untuk mendorong peningkatan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia demi terciptanya kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik," ujardr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT, FIPM, FIPP, CIPS, C.PSH, COMSK, AIFMO, AIFO-K, Komisaris Klinik Artikular Orthopedic, saat jumpa pers disela-sela seminar.
Baca Juga : BPOM Cabut Izin 23 Produk Kosmetik Berbahaya, Ini Daftarnya!
Personalisasi 3D & Terapi Minim Invasif: Tren Ortopedi Modern
Seminar ini menghadirkan sejumlah topik ilmiah yang menjadi tren global dalam dunia kedokteran.“Kolaborasi internasional sangat penting untuk mempercepat adopsi teknik-teknik bedah saraf terkini di Indonesia. Topik seperti Lumbar Epideuroneurolysis merupakan terobosan bagi pasien yang menolak atau tidak cocok untuk operasi konvensional. Pertukaran ilmu langsung dengan kolega dari Korea memungkinkan kami menawarkan lebih banyak pilihan terapi minim invasif, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat pemulihan pasien,” tegas dr. Muhamad Aulia Rahman.
Menurut dokter yang bulan September lalu melakukan course di Gyeonggi , Korea Selatan ini mengatakan, banyak case ortopedi seperti pergeseran tulang belakang yang kompleks bisa ditangani oleh teknologi yang sudah sangat beragam pilihannya dan berstandar tinggi. Kelebihannya juga, Pemerintah Gyeonggi juga memberikan jaminan berupa asuransi kesehatan yang mumpuni untuk warganya sehingga permasalahan cepat ditanggulangi.
Sementara itu, dr. Alif Noeriyanto Rahmanmenambahkan, “Pendekatan Ortopedi modern kini sudah bergeser dari sekadar ‘memperbaiki tulang’ ke arah functional restoration dan pain management yang komprehensif. Teknologi Customized 3D-Printed Titanium Cage untuk TLIF adalah masa depan personalisasi pengobatan. Ini memungkinkan kami menciptakan implan yang sempurna sesuai anatomi pasien, yang akhirnya meningkatkan kesuksesan operasi dan kepuasan pasien. Sinergi antara teknologi mutakhir dan pertukaran keahlian klinis inilah kunci meningkatkan standar pelayanan ortopedi di Indonesia."
Setiap negara punya keunggulan teknologi masing-masing. Korea Selatan, menurut dr. Alif Noeriyanto Rahmanmerupakan salah satu negara di Asia yang teratas untuk Ortopedi, selain kecantikan. Sedangkan Indonesia, untuk Asia, dr Alif mengakui tekonologi kedokteran nyeri sendi termasuk sangat diperhitungkan.
“Dalam acara ini kita saling sharing teknologi dengan keunggulan masing. Kami juga menghadirkan kalangan akademisi, dari Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ke depannya, diharapkan bisa lebih lanjut dibiacarakan kerja sama antara Government to Government (GtoG), karena Pemerintah Gyenggi juga siap memfasilitasi kemitraan yang lebih berkelanjutan. Mereka memiliki banyak ragam alat kesehatan dan fasilitas medis yang lebih akomodatif untuk solusi kesehatan ke depannya," tambah dr. Alif.
Kedua narasumber tersebut sepakat bahwa integrasi antara teknologi medis terkini, riset, serta kemitraan internasional menjadi faktor kunci untuk membawa layanan bedah saraf dan ortopedi Indonesia ke tingkat yang lebih maju. Melalui forum seperti ini, Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam perkembangan ilmu kedokteran global, tetapi juga kontributor aktif dalam membangun masa depan pelayanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan manusiawi.
“Kami memberikan kesempatan dan membuka kerja sama yang luas dengan Indonesia, untuk sharing teknologi sekaligus juga pelayanan kesehatan terutama Neurosurgery ini. Biayanya juga lebih terjangkau jika dibandingkan dengan daerah regional lainnya,”, ujar Prof. Im Soo Bin, MD, PhD – Departemen Neurosurgery, Soonchunhyang University Bucheon Hospital.
Seminar perdana yang digelar di Klinik Artikulaar, Jakarta Selatan (7/11) ini dihadiri oleh ratusan profesional medis, termasuk dokter spesialis orthopedi, bedah saraf, rehabilitasi medik, dokter umum, dan manajemen rumah sakit.
Acara ini menjadi platform strategis untuk mempercepat transfer ilmu dan teknologi kedokteran mutakhir, khususnya dalam merespons lonjakan kasus nyeri punggung kronis dan cedera tulang belakang yang dipengaruhi oleh gaya hidup sedentari dan peningkatan usia harapan hidup di Indonesia.
Baca Juga : Jadi Makanan Favorit Maher Zein, Ini Manfaat Ubi bagi Kesehatan
Menjawab Lonjakan Kasus Nyeri Punggung dan Cedera Tulang Belakang
Gangguan muskuloskeletal, terutama nyeri punggung bawah, menjadi penyumbang terbesar disabilitas secara global menurut Global Burden of Disease Study (2021). Di Indonesia, kasus ini semakin kompleks seiring perubahan pola kerja yang lebih sedentari dan meningkatnya usia harapan hidup, sehingga menuntut inovasi medis yang lebih aman, efektif, dan minim invasif.
"Melalui seminar perdana ini, kami tidak hanya membangun jembatan kolaborasi yang berkelanjutan, tetapi juga menciptakan sebuah platform efektif untuk mendorong peningkatan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia demi terciptanya kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik," ujardr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT, FIPM, FIPP, CIPS, C.PSH, COMSK, AIFMO, AIFO-K, Komisaris Klinik Artikular Orthopedic, saat jumpa pers disela-sela seminar.
Baca Juga : BPOM Cabut Izin 23 Produk Kosmetik Berbahaya, Ini Daftarnya!
Personalisasi 3D & Terapi Minim Invasif: Tren Ortopedi Modern
Seminar ini menghadirkan sejumlah topik ilmiah yang menjadi tren global dalam dunia kedokteran.“Kolaborasi internasional sangat penting untuk mempercepat adopsi teknik-teknik bedah saraf terkini di Indonesia. Topik seperti Lumbar Epideuroneurolysis merupakan terobosan bagi pasien yang menolak atau tidak cocok untuk operasi konvensional. Pertukaran ilmu langsung dengan kolega dari Korea memungkinkan kami menawarkan lebih banyak pilihan terapi minim invasif, mengurangi rasa sakit, dan mempercepat pemulihan pasien,” tegas dr. Muhamad Aulia Rahman.
Menurut dokter yang bulan September lalu melakukan course di Gyeonggi , Korea Selatan ini mengatakan, banyak case ortopedi seperti pergeseran tulang belakang yang kompleks bisa ditangani oleh teknologi yang sudah sangat beragam pilihannya dan berstandar tinggi. Kelebihannya juga, Pemerintah Gyeonggi juga memberikan jaminan berupa asuransi kesehatan yang mumpuni untuk warganya sehingga permasalahan cepat ditanggulangi.
Sementara itu, dr. Alif Noeriyanto Rahmanmenambahkan, “Pendekatan Ortopedi modern kini sudah bergeser dari sekadar ‘memperbaiki tulang’ ke arah functional restoration dan pain management yang komprehensif. Teknologi Customized 3D-Printed Titanium Cage untuk TLIF adalah masa depan personalisasi pengobatan. Ini memungkinkan kami menciptakan implan yang sempurna sesuai anatomi pasien, yang akhirnya meningkatkan kesuksesan operasi dan kepuasan pasien. Sinergi antara teknologi mutakhir dan pertukaran keahlian klinis inilah kunci meningkatkan standar pelayanan ortopedi di Indonesia."
Setiap negara punya keunggulan teknologi masing-masing. Korea Selatan, menurut dr. Alif Noeriyanto Rahmanmerupakan salah satu negara di Asia yang teratas untuk Ortopedi, selain kecantikan. Sedangkan Indonesia, untuk Asia, dr Alif mengakui tekonologi kedokteran nyeri sendi termasuk sangat diperhitungkan.
“Dalam acara ini kita saling sharing teknologi dengan keunggulan masing. Kami juga menghadirkan kalangan akademisi, dari Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ke depannya, diharapkan bisa lebih lanjut dibiacarakan kerja sama antara Government to Government (GtoG), karena Pemerintah Gyenggi juga siap memfasilitasi kemitraan yang lebih berkelanjutan. Mereka memiliki banyak ragam alat kesehatan dan fasilitas medis yang lebih akomodatif untuk solusi kesehatan ke depannya," tambah dr. Alif.
Kedua narasumber tersebut sepakat bahwa integrasi antara teknologi medis terkini, riset, serta kemitraan internasional menjadi faktor kunci untuk membawa layanan bedah saraf dan ortopedi Indonesia ke tingkat yang lebih maju. Melalui forum seperti ini, Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam perkembangan ilmu kedokteran global, tetapi juga kontributor aktif dalam membangun masa depan pelayanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan manusiawi.
“Kami memberikan kesempatan dan membuka kerja sama yang luas dengan Indonesia, untuk sharing teknologi sekaligus juga pelayanan kesehatan terutama Neurosurgery ini. Biayanya juga lebih terjangkau jika dibandingkan dengan daerah regional lainnya,”, ujar Prof. Im Soo Bin, MD, PhD – Departemen Neurosurgery, Soonchunhyang University Bucheon Hospital.
(wur)
Lihat Juga :