Perkuat Inovasi Nutrisi Berbasis Sains dengan Rilis 40 Publikasi Ilmiah untuk Indonesia Lebih Sehat
Senin, 15 Desember 2025 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
“Dengan pendekatan berbasis sains ini, inovasi produk kami tetap relevan dengan isu kesehatan utama di Indonesia, termasuk nutrisi anak, pemenuhan zat besi, pencegahan stunting, kesehatan pencernaan, dan nutrisi maternal, sekaligus memperkuat dasar ilmiah dari produk yang kami hasilkan,” jelas dr. Ray.
Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa setiap inovasi produk didasarkan pada keilmuan yang solid. Komitmen ini tercermin dalam berbagai publikasi penting yang dipresentasikan di konferensi internasional seperti European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) dan International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR), serta dalam konferensi nasional di Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak (PIT IKA) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Selain itu, beragam publikasi internasional dan nasional yang membahas isu kesehatan utama seperti anemia, stunting, kesehatan pencernaan, breastfeeding, hingga kesehatan maternal turut memperkuat relevansi sains dalam setiap inovasi produk.
Salah satu temuan yang menegaskan pentingnya pendekatan berbasis bukti terlihat dalam studi intervensi yang dilakukan oleh Dokter Gizi Medik, Dr. dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi.
Penelitian pada anak usia 1–3 tahun di Jakarta mengevaluasi dampak konsumsi susu pertumbuhan terfortifikasi terhadap kecukupan zat besi, yang dipresentasikan di 57th Annual Meeting of ESPGHAN pada 14-17 Mei 2025.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 8 dari 10 anak yang mendapatkan susu pertumbuhan terfortifikasi zat besi minimal 2x per hari mencapai 100% kecukupan zat besi hariannya dibandingkan kelompok anak yang hanya mengkonsumsi makanan harian saja.
Hal ini merupakan capaian yang penting dikarenakan banyak anak Indonesia yang belum memenuhi asupan rekomendasi 7mg zat besi per hari.
Dia menuturkan bahwa Kekurangan zat besi masih menjadi tantangan besar pada anak usia dini, dan dapat berdampak pada risiko anemia, gangguan perkembangan kognitif, penurunan performa belajar, hingga meningkatnya kerentanan terhadap infeksi.
Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa setiap inovasi produk didasarkan pada keilmuan yang solid. Komitmen ini tercermin dalam berbagai publikasi penting yang dipresentasikan di konferensi internasional seperti European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) dan International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR), serta dalam konferensi nasional di Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak (PIT IKA) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Selain itu, beragam publikasi internasional dan nasional yang membahas isu kesehatan utama seperti anemia, stunting, kesehatan pencernaan, breastfeeding, hingga kesehatan maternal turut memperkuat relevansi sains dalam setiap inovasi produk.
Salah satu temuan yang menegaskan pentingnya pendekatan berbasis bukti terlihat dalam studi intervensi yang dilakukan oleh Dokter Gizi Medik, Dr. dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi.
Penelitian pada anak usia 1–3 tahun di Jakarta mengevaluasi dampak konsumsi susu pertumbuhan terfortifikasi terhadap kecukupan zat besi, yang dipresentasikan di 57th Annual Meeting of ESPGHAN pada 14-17 Mei 2025.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 8 dari 10 anak yang mendapatkan susu pertumbuhan terfortifikasi zat besi minimal 2x per hari mencapai 100% kecukupan zat besi hariannya dibandingkan kelompok anak yang hanya mengkonsumsi makanan harian saja.
Hal ini merupakan capaian yang penting dikarenakan banyak anak Indonesia yang belum memenuhi asupan rekomendasi 7mg zat besi per hari.
Dia menuturkan bahwa Kekurangan zat besi masih menjadi tantangan besar pada anak usia dini, dan dapat berdampak pada risiko anemia, gangguan perkembangan kognitif, penurunan performa belajar, hingga meningkatnya kerentanan terhadap infeksi.
Lihat Juga :