Kemenpar dan Bakti BCA Sertifikasi 10 Desa Wisata Berkelanjutan 2025
Jum'at, 19 Desember 2025 - 20:00 WIB
loading...
Tahun ini, Kemenpar RI berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mensertifikasi 10 desa wisata di Indonesia. Foto/
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) mengumumkan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Tahun ini, Kemenpar RI berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk ( BCA ) mensertifikasi 10 desa wisata di Indonesia.
Program ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan desa wisata yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan, serta merupakan bagian dari kerangka program Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indonesia.
Baca juga: Pariwisata Indonesia Bertumbuh Pesat Sepanjang 2025, Raup Devisa USD18,5 Miliar
Proses pemberian sertifikasi ini dilakukan untuk menentukan status mutu, standar dan kualitas desa wisata dengan mekanisme penilaian/audit menggunakan kriteria dan indikator pariwisata berkelanjutan yang telah ditetapkan dalam Permenparekraf No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.
Kegiatan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dilakukan melalui mekanisme penilaian Lembaga Sertifikasi yang bernaung dibawah Kementerian Pariwisata yaitu Lembaga Sertifikasi Produk Indonesia Sustainable Tourism Council (LS Pr-ISTC).
Desa wisata yang dipilih untuk disertifikasi yaitu desa wisata berstatus maju atau mandiri, serta memiliki prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Baca juga: Kemenpar Sediakan Paket Wisata dan Dorong Diskon Tiket untuk Hadapi Libur Nataru
Dari sepuluh, empat desa wisata yang berhasil memperoleh sertifikasi melalui program dari Kementerian Pariwisata adalah:
1. Desa Wisata Wanurejo di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah;
2. Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta;
3. Desa Wisata Les di Kabupaten Buleleng, Bali; dan
4. Desa Wisata Senaru di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan untuk enam desa wisata yang berhasil memperoleh sertifikasi melalui program CSR Bank Central Asia (BCA), yaitu:
1. Desa Wisata Dayun di Kabupaten Siak, Riau;
2. Desa Wisata Kreatif Terong, di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung;
3. Desa Wisata Tamansari di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur;
4. Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta;
5. Desa Wisata Taro di Kabupaten Gianyar, Bali; dan
6. Desa Wisata Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat;
“Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan adalah langkah penting untuk memastikan desa wisata di Indonesia naik kelas tidak hanya menjadi destinasi unggulan, tetapi juga dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat setempat. Kami mengapresiasi kerja sama dengan BCA yang turut mendukung program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan menjadi bagian dari strategi nasional pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan pilar-pilar pembangunan desa wisata: ekonomi, sosial-budaya, serta lingkungan.
Kemenpar RI berharap dengan semakin banyaknya desa wisata yang tersertifikasi, akan tercipta ekosistem pariwisata yang inklusif, berdaya saing global, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.
“BCA berkomitmen mendukung Kementerian Pariwisata dalam pelaksanaan Program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Kami meyakini inisiatif ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono.
"Kami juga bersyukur karena dari 10 desa yang meraih sertifikat, 6 diantaranya merupakan Desa Bakti BCA. Kami berharap kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta ini dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui pariwisata,” pungkasnya.
Program ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan desa wisata yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan, serta merupakan bagian dari kerangka program Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indonesia.
Baca juga: Pariwisata Indonesia Bertumbuh Pesat Sepanjang 2025, Raup Devisa USD18,5 Miliar
Proses pemberian sertifikasi ini dilakukan untuk menentukan status mutu, standar dan kualitas desa wisata dengan mekanisme penilaian/audit menggunakan kriteria dan indikator pariwisata berkelanjutan yang telah ditetapkan dalam Permenparekraf No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.
Kegiatan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dilakukan melalui mekanisme penilaian Lembaga Sertifikasi yang bernaung dibawah Kementerian Pariwisata yaitu Lembaga Sertifikasi Produk Indonesia Sustainable Tourism Council (LS Pr-ISTC).
Desa wisata yang dipilih untuk disertifikasi yaitu desa wisata berstatus maju atau mandiri, serta memiliki prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Baca juga: Kemenpar Sediakan Paket Wisata dan Dorong Diskon Tiket untuk Hadapi Libur Nataru
Dari sepuluh, empat desa wisata yang berhasil memperoleh sertifikasi melalui program dari Kementerian Pariwisata adalah:
1. Desa Wisata Wanurejo di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah;
2. Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta;
3. Desa Wisata Les di Kabupaten Buleleng, Bali; dan
4. Desa Wisata Senaru di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan untuk enam desa wisata yang berhasil memperoleh sertifikasi melalui program CSR Bank Central Asia (BCA), yaitu:
1. Desa Wisata Dayun di Kabupaten Siak, Riau;
2. Desa Wisata Kreatif Terong, di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung;
3. Desa Wisata Tamansari di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur;
4. Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta;
5. Desa Wisata Taro di Kabupaten Gianyar, Bali; dan
6. Desa Wisata Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat;
“Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan adalah langkah penting untuk memastikan desa wisata di Indonesia naik kelas tidak hanya menjadi destinasi unggulan, tetapi juga dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat setempat. Kami mengapresiasi kerja sama dengan BCA yang turut mendukung program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan menjadi bagian dari strategi nasional pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan pilar-pilar pembangunan desa wisata: ekonomi, sosial-budaya, serta lingkungan.
Kemenpar RI berharap dengan semakin banyaknya desa wisata yang tersertifikasi, akan tercipta ekosistem pariwisata yang inklusif, berdaya saing global, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.
“BCA berkomitmen mendukung Kementerian Pariwisata dalam pelaksanaan Program Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Kami meyakini inisiatif ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono.
"Kami juga bersyukur karena dari 10 desa yang meraih sertifikat, 6 diantaranya merupakan Desa Bakti BCA. Kami berharap kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta ini dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui pariwisata,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :