Dari Buku Terlaris ke Layar Lebar, Sherina Munaf Bintangi Filosofi Teras
Sabtu, 28 Februari 2026 - 15:10 WIB
loading...
Buku fenomenal Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang sempat mencuri perhatian publik dan terjual hampir 500 ribu eksemplar diadaptasi ke layar lebar. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Buku fenomenal Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang sempat mencuri perhatian publik dan terjual hampir 500 ribu eksemplar kini resmi diadaptasi ke layar lebar. Rumah produksi MD Pictures menghadirkan versi filmnya dengan menggandeng Sherina Munaf sebagai pemeran utama.
Pengumuman para pemain dilakukan dalam acara tasyakuran di MD Place Tower, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Film bergenre drama keluarga ini menjadi langkah baru dalam menerjemahkan buku self-improvement yang mempopulerkan Stoikisme ke dalam cerita emosional yang dekat dengan realitas kehidupan.
Sherina tak menyembunyikan antusiasmenya saat dipercaya memerankan karakter Nea. Ia mengaku langsung tertarik sejak pertama kali mendengar kabar buku tersebut akan diadaptasi menjadi film.
"Ketika tahu bahwa Filosofi Teras yang sebenarnya adalah self-help book dijadikan sebuah film, itu juga intriguing gitu kayak what sort of story yang akan diceritakan," kata Sherina.
Ketertarikan itu semakin kuat setelah ia membaca naskah skenario. Ada kedekatan emosional yang membuatnya merasa terhubung dengan karakter Nea.
"Jadi aku sama Henry sudah berteman lama ya dan aku selalu nyaman dengan kosa kata yang dihasilkan sama dia. Dan ketika tahu Hendri menggarap Filosofi Teras dari jaman menulis dan merisetnya itu. Jujur, ngebantu aku selama ini. Ketika aku tahu Filosofi Teras dijadikan sebuah film dan apa yang akan diceritakan? Aku diberikan kesempatan untuk membaca scriptnya oleh MD Pictures dan Pak Manoj, terima kasih banyak. Ini aku cerita sedikit saja, jadi ada sesuatu yang mengkoneksikan aku dengan karakter dan situasi yang ada di dalam film ini," tutur Sherina Munaf.
Filosofi Teras dikenal luas sebagai buku yang memperkenalkan filsafat Stoikisme kepada pembaca Indonesia. Karya ini meledak saat pandemi dan kini telah memasuki cetakan ke-94. Salah satu konsep utamanya adalah dikotomi kendali—memilah mana hal yang berada dalam kontrol diri dan mana yang tidak.
Dalam versi film, kisahnya berpusat pada Nea (26), seorang perempuan yang mendadak menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya, Marwan, meninggal dunia. Ia harus memenuhi kebutuhan ibunya, Ratih (50), membiayai kuliah serta uang jajan adiknya, Runi (19), sementara sang kakak, Abi (28), masih bergantung bersama istrinya, Ayu (25).
Konflik memuncak ketika Nea mengetahui rumah keluarga mereka ternyata telah digadaikan oleh sang ayah untuk membiayai pernikahan Abi dan Ayu. Di tengah rencana pernikahannya dengan Dio, Nea harus menunda kebahagiaan pribadi demi menyelamatkan kondisi keluarga. Namun, keputusan tersebut justru membuka rangkaian persoalan baru yang semakin menguji mental dan emosinya.
Karakter Dio sendiri diperankan oleh Ge Pamungkas. Deretan pemain lain yang turut bergabung antara lain Lydia Kandou, Kiki Narendra, Zee Asadel, Rangga Nattra, Givina Lukita, Dinda Kanya Dewi, Dinda Cresheilla, Tubagus Ali, Ina Marika, serta Putri Ayudya.
CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, menyampaikan optimisme terhadap proyek ini.
“Hari ini kita syukuran launching Filosofi Teras. Kami siap syuting Jumat (27/2/2026) nanti. Kapan tanggal mainnya? I’ll let you know. Mudah-mudahan film ini berkontribusi pada box office Indonesia!” kata CEO MD Entertainment Manoj Punjabi.
Film ini akan disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, yang sebelumnya dikenal lewat adaptasi novel bestseller Negeri 5 Menara. Ia melihat kekuatan cerita Filosofi Teras pada kedekatannya dengan realitas masyarakat.
“Setelah baca skripnya, saya lihat semua karakter di cerita ini merepresentasikan orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri. Diterjemahkan ke dalam sebuah kisah naratif, yang bukan hanya bercerita, tetapi membantu penonton ketika menghadapi masalah: Apa yang harus dilakukan?” tutur Affandi.
Dengan pendekatan drama keluarga yang sarat dilema, film ini diharapkan mampu menghadirkan refleksi tentang tanggung jawab, kehilangan, dan batas kendali dalam kehidupan—sejalan dengan pesan utama Stoikisme yang selama ini menginspirasi ratusan ribu pembacanya.
Adaptasi ini bukan sekadar alih medium, melainkan transformasi gagasan filosofis menjadi pengalaman sinematik yang relevan dengan dinamika keluarga masa kini.
Pengumuman para pemain dilakukan dalam acara tasyakuran di MD Place Tower, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Film bergenre drama keluarga ini menjadi langkah baru dalam menerjemahkan buku self-improvement yang mempopulerkan Stoikisme ke dalam cerita emosional yang dekat dengan realitas kehidupan.
Sherina tak menyembunyikan antusiasmenya saat dipercaya memerankan karakter Nea. Ia mengaku langsung tertarik sejak pertama kali mendengar kabar buku tersebut akan diadaptasi menjadi film.
"Ketika tahu bahwa Filosofi Teras yang sebenarnya adalah self-help book dijadikan sebuah film, itu juga intriguing gitu kayak what sort of story yang akan diceritakan," kata Sherina.
Ketertarikan itu semakin kuat setelah ia membaca naskah skenario. Ada kedekatan emosional yang membuatnya merasa terhubung dengan karakter Nea.
"Jadi aku sama Henry sudah berteman lama ya dan aku selalu nyaman dengan kosa kata yang dihasilkan sama dia. Dan ketika tahu Hendri menggarap Filosofi Teras dari jaman menulis dan merisetnya itu. Jujur, ngebantu aku selama ini. Ketika aku tahu Filosofi Teras dijadikan sebuah film dan apa yang akan diceritakan? Aku diberikan kesempatan untuk membaca scriptnya oleh MD Pictures dan Pak Manoj, terima kasih banyak. Ini aku cerita sedikit saja, jadi ada sesuatu yang mengkoneksikan aku dengan karakter dan situasi yang ada di dalam film ini," tutur Sherina Munaf.
Filosofi Teras dikenal luas sebagai buku yang memperkenalkan filsafat Stoikisme kepada pembaca Indonesia. Karya ini meledak saat pandemi dan kini telah memasuki cetakan ke-94. Salah satu konsep utamanya adalah dikotomi kendali—memilah mana hal yang berada dalam kontrol diri dan mana yang tidak.
Dalam versi film, kisahnya berpusat pada Nea (26), seorang perempuan yang mendadak menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya, Marwan, meninggal dunia. Ia harus memenuhi kebutuhan ibunya, Ratih (50), membiayai kuliah serta uang jajan adiknya, Runi (19), sementara sang kakak, Abi (28), masih bergantung bersama istrinya, Ayu (25).
Konflik memuncak ketika Nea mengetahui rumah keluarga mereka ternyata telah digadaikan oleh sang ayah untuk membiayai pernikahan Abi dan Ayu. Di tengah rencana pernikahannya dengan Dio, Nea harus menunda kebahagiaan pribadi demi menyelamatkan kondisi keluarga. Namun, keputusan tersebut justru membuka rangkaian persoalan baru yang semakin menguji mental dan emosinya.
Karakter Dio sendiri diperankan oleh Ge Pamungkas. Deretan pemain lain yang turut bergabung antara lain Lydia Kandou, Kiki Narendra, Zee Asadel, Rangga Nattra, Givina Lukita, Dinda Kanya Dewi, Dinda Cresheilla, Tubagus Ali, Ina Marika, serta Putri Ayudya.
CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, menyampaikan optimisme terhadap proyek ini.
“Hari ini kita syukuran launching Filosofi Teras. Kami siap syuting Jumat (27/2/2026) nanti. Kapan tanggal mainnya? I’ll let you know. Mudah-mudahan film ini berkontribusi pada box office Indonesia!” kata CEO MD Entertainment Manoj Punjabi.
Film ini akan disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, yang sebelumnya dikenal lewat adaptasi novel bestseller Negeri 5 Menara. Ia melihat kekuatan cerita Filosofi Teras pada kedekatannya dengan realitas masyarakat.
“Setelah baca skripnya, saya lihat semua karakter di cerita ini merepresentasikan orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri. Diterjemahkan ke dalam sebuah kisah naratif, yang bukan hanya bercerita, tetapi membantu penonton ketika menghadapi masalah: Apa yang harus dilakukan?” tutur Affandi.
Dengan pendekatan drama keluarga yang sarat dilema, film ini diharapkan mampu menghadirkan refleksi tentang tanggung jawab, kehilangan, dan batas kendali dalam kehidupan—sejalan dengan pesan utama Stoikisme yang selama ini menginspirasi ratusan ribu pembacanya.
Adaptasi ini bukan sekadar alih medium, melainkan transformasi gagasan filosofis menjadi pengalaman sinematik yang relevan dengan dinamika keluarga masa kini.
(dra)
Lihat Juga :