Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea
Rabu, 08 April 2026 - 16:40 WIB
loading...
Potret Indonesia dalam kacamata penyair perempuan Korea. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Karya sastra lintas budaya kembali hadir melalui buku antologi puisi Meja Keabadian yang ditulis oleh penyair asal Korea Selatan, Sagong Kyung. Buku ini diterbitkan secara bersamaan dalam bahasa Indonesia dan Korea, memungkinkan pembaca dari kedua negara menikmati karya yang sama dalam konteks budaya masing-masing. Melalui metafora “meja”, Sagong menghadirkan potongan-potongan ingatan, perjumpaan budaya, serta dialog lintas bangsa yang ia alami selama puluhan tahun berada di Indonesia.
Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan refleksi mendalam atas pengalaman personal Sagong Kyung. Ia mencoba “membentangkan Indonesia di atas satu meja”, menjadikannya ruang simbolik tempat sejarah, manusia, dan kenangan saling berkelindan. Meja Keabadian adalah salah satu puisi dalam buku ini, terinspirasi dari atmosfer sebuah ruang di restoran legendaris Tugu Lara Djonggrang di Menteng, Jakarta, yang sarat jejak waktu dan pertemuan budaya.
Lebih jauh, pendekatan Sagong dalam menulis tidak berangkat dari keinginan memotret Indonesia sebagai entitas negara semata. Ia justru menelusuri lapisan yang lebih hidup, budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, tradisi yang diwariskan, serta sejarah yang membentuk identitas. Perspektif inilah yang membuat puisi-puisinya terasa intim, seolah mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman keseharian yang sering luput dari perhatian.
Buku ini juga memiliki makna khusus karena dipersembahkan Sagong Kyung untuk memperingati 500 tahun Jakarta. Melalui puisi-puisinya, ia merekam denyut ibu kota dari sudut pandang yang unik, seorang penyair asing yang mengamati, merasakan, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa sastra yang kontemplatif. Dalam pengantar yang disampaikan kepada publik, Sagong menyebut karyanya lahir dari “waktu, ingatan, dan kepekaan budaya” yang ia temukan di Indonesia.
Sagong Kyung sendiri bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga figur aktif dalam ranah budaya. Ia merupakan direktur Lembaga Studi Budaya Korea-Indonesia sekaligus kurator seni budaya, serta peneliti batik yang memiliki perhatian besar terhadap warisan Nusantara. Selain Meja Keabadian, ia juga menulis sejumlah karya lain seperti Catatan Museum Jakarta dan Taman Tua di Jawa Barat. Pengalamannya semakin lengkap dengan kiprah sebagai pengajar di sekolah internasional Korea di Jakarta.
Peluncuran buku Meja Keabadian digelar pada Senin (6/4/2026) di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta, menghadirkan tokoh-tokoh penting, pejabat pemerintah, serta perwakilan dari sektor budaya, seni, dan akademik dari kedua negara. Rangkaian acara dikemas sebagai perjalanan budaya yang mengalir. Dimulai dari eksplorasi budaya Indonesia, dilanjutkan dengan seremoni peluncuran buku, diskusi bersama penulis, pertunjukan seni, hingga jamuan makan malam.
“Saya berharap pertemuan kita menjadi satu lagi ‘meja keabadian’, tempat sastra, seni, dan kenangan saling bertemu,” ujar Sagong Kyung. Pernyataan itu menegaskan bahwa “meja” dalam karyanya bukan sekadar objek, melainkan metafora ruang dialog yang terus hidup dan berkembang.
Peluncuran ini sekaligus menunjukkan bahwa Meja Keabadian tidak hanya hadir sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui pendekatan yang puitis dan reflektif, Sagong Kyung berhasil menghadirkan Indonesia—terutama Jakarta—dalam sudut pandang yang segar, personal, dan lintas batas budaya, menjadikannya arsip emosional yang abadi dalam bentuk puisi.
Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan refleksi mendalam atas pengalaman personal Sagong Kyung. Ia mencoba “membentangkan Indonesia di atas satu meja”, menjadikannya ruang simbolik tempat sejarah, manusia, dan kenangan saling berkelindan. Meja Keabadian adalah salah satu puisi dalam buku ini, terinspirasi dari atmosfer sebuah ruang di restoran legendaris Tugu Lara Djonggrang di Menteng, Jakarta, yang sarat jejak waktu dan pertemuan budaya.
Lebih jauh, pendekatan Sagong dalam menulis tidak berangkat dari keinginan memotret Indonesia sebagai entitas negara semata. Ia justru menelusuri lapisan yang lebih hidup, budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, tradisi yang diwariskan, serta sejarah yang membentuk identitas. Perspektif inilah yang membuat puisi-puisinya terasa intim, seolah mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman keseharian yang sering luput dari perhatian.
Buku ini juga memiliki makna khusus karena dipersembahkan Sagong Kyung untuk memperingati 500 tahun Jakarta. Melalui puisi-puisinya, ia merekam denyut ibu kota dari sudut pandang yang unik, seorang penyair asing yang mengamati, merasakan, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa sastra yang kontemplatif. Dalam pengantar yang disampaikan kepada publik, Sagong menyebut karyanya lahir dari “waktu, ingatan, dan kepekaan budaya” yang ia temukan di Indonesia.
Sagong Kyung sendiri bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga figur aktif dalam ranah budaya. Ia merupakan direktur Lembaga Studi Budaya Korea-Indonesia sekaligus kurator seni budaya, serta peneliti batik yang memiliki perhatian besar terhadap warisan Nusantara. Selain Meja Keabadian, ia juga menulis sejumlah karya lain seperti Catatan Museum Jakarta dan Taman Tua di Jawa Barat. Pengalamannya semakin lengkap dengan kiprah sebagai pengajar di sekolah internasional Korea di Jakarta.
Peluncuran buku Meja Keabadian digelar pada Senin (6/4/2026) di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta, menghadirkan tokoh-tokoh penting, pejabat pemerintah, serta perwakilan dari sektor budaya, seni, dan akademik dari kedua negara. Rangkaian acara dikemas sebagai perjalanan budaya yang mengalir. Dimulai dari eksplorasi budaya Indonesia, dilanjutkan dengan seremoni peluncuran buku, diskusi bersama penulis, pertunjukan seni, hingga jamuan makan malam.
“Saya berharap pertemuan kita menjadi satu lagi ‘meja keabadian’, tempat sastra, seni, dan kenangan saling bertemu,” ujar Sagong Kyung. Pernyataan itu menegaskan bahwa “meja” dalam karyanya bukan sekadar objek, melainkan metafora ruang dialog yang terus hidup dan berkembang.
Peluncuran ini sekaligus menunjukkan bahwa Meja Keabadian tidak hanya hadir sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui pendekatan yang puitis dan reflektif, Sagong Kyung berhasil menghadirkan Indonesia—terutama Jakarta—dalam sudut pandang yang segar, personal, dan lintas batas budaya, menjadikannya arsip emosional yang abadi dalam bentuk puisi.
(wur)
Lihat Juga :