Maudy Ayunda Bangun Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Aceh Timur
Rabu, 20 Mei 2026 - 20:15 WIB
loading...
A
A
A
Setelah kisah tuntas, giliran anak-anak yang bertanya dan bercerita kepada Maudy. Peraih gelar Master of Business Administration dari Stanford University itu beberapa kali membungkukkan badan ketika berusaha mendengar cerita anak-anak lebih dekat.
Kehadiran Maudy di Aceh Timur bukan kunjungan formalitas belaka. Pendiri Maudy Ayunda Foundation tersebut beberapa kali berkeliling menyapa murid satu per satu. Di ruangan lain, ia terlihat berdiskusi ringan bersama guru dan para siswa. Meja kayu lama berwarna cokelat masih digunakan dalam beberapa ruang belajar sementara tersebut. Meski fasilitas terbatas, anak-anak tampak menikmati momen belajar bersama dan kembali bercengkerama.
Baca Juga : 4 Tokoh Indonesia Lulusan Oxford University, Kampus Terbaik Dunia 2025
Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. “Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.
Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurut dia, seringkali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
”Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Kehadiran Maudy di Aceh Timur bukan kunjungan formalitas belaka. Pendiri Maudy Ayunda Foundation tersebut beberapa kali berkeliling menyapa murid satu per satu. Di ruangan lain, ia terlihat berdiskusi ringan bersama guru dan para siswa. Meja kayu lama berwarna cokelat masih digunakan dalam beberapa ruang belajar sementara tersebut. Meski fasilitas terbatas, anak-anak tampak menikmati momen belajar bersama dan kembali bercengkerama.
Baca Juga : 4 Tokoh Indonesia Lulusan Oxford University, Kampus Terbaik Dunia 2025
Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. “Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.
Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurut dia, seringkali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
”Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Lihat Juga :