Menghidupkan Sangkala Nyi Mas Gandasari: Broadway Lokal, Legacy Keluarga, dan Misi Merawat Sejarah Cirebon
Selasa, 02 Juni 2026 - 20:06 WIB
loading...
Para pemain dan kru Musikal Sendratari Sang Kala – Nyimas Gandasari.
A
A
A
JAKARTA - Menghidupkan kembali sosok pahlawan perempuan dari abad ke-15 agar relevan di mata generasi Z dan Milenial adalah ambisi yang mempertemukan teknologi modern dengan memori masa lalu. Namun bagi Reny A. Daniel, Executive Producer “Sangkala Nyi Mas Gandasari”, kemegahan panggung Broadway lokal ini mendatangkan tantangan yang mendalam. Di balik misi meneruskan legacy budaya dan keluarga, ada beban moral yang besar untuk memastikan bahwa setiap gerak, vokal, dan alur cerita tetap setia pada akar sejarah aslinya tanpa cacat distorsi.
"Persiapannya memakan waktu satu tahun," kenang Reny saat berbincang mengenai proses kreatif di balik layar. "Challenge-nya lebih ke riset, takut salah karena ini diangkat dari sejarah. Untuk riset, kami harus menggali dari manuskrip kuno dan berdiskusi intens dengan para budayawan."
Bagi Reny, pementasan ini bukan sekadar proyek seni biasa, melainkan sebuah misi personal. Ada ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tanah Cirebon. "Salah satu alasan kuat mengangkat cerita dari Cirebon ini adalah karena ayah saya berasal dari sana dan beliau sangat mencintai Cirebon. Saya ingin meneruskan legacy-nya, sehingga muncullah kisah Nyai Gandasari," ungkapnya dengan nada emosional.
Kisah Nyi Mas Gandasari, menurut Reny, memiliki posisi yang sangat krusial. Tokoh pahlawan wanita abad ke-15 ini bukan hanya simbol penyebaran Islam di pesisir utara Jawa pada masa Sunan Gunung Jati, tetapi juga jangkar sejarah. "Bahkan cerita Nyai Gandasari ini bisa dikatakan mulanya Indonesia. Selain itu, ending kemenangan Nyai Gandasari dengan Cakraningrat menjadi penanda hari lahir kota Cirebon," tambahnya.
Misi merawat sejarah ini bersambut gayung dengan gairah sang sutradara sekaligus koreografer senior, Denny Malik. Di tangan Denny, kisah klasik ini bertransformasi menjadi sebuah mahakarya berkelas dunia tanpa kehilangan akarnya.
"Persiapannya memakan waktu satu tahun," kenang Reny saat berbincang mengenai proses kreatif di balik layar. "Challenge-nya lebih ke riset, takut salah karena ini diangkat dari sejarah. Untuk riset, kami harus menggali dari manuskrip kuno dan berdiskusi intens dengan para budayawan."
Bagi Reny, pementasan ini bukan sekadar proyek seni biasa, melainkan sebuah misi personal. Ada ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tanah Cirebon. "Salah satu alasan kuat mengangkat cerita dari Cirebon ini adalah karena ayah saya berasal dari sana dan beliau sangat mencintai Cirebon. Saya ingin meneruskan legacy-nya, sehingga muncullah kisah Nyai Gandasari," ungkapnya dengan nada emosional.
Kisah Nyi Mas Gandasari, menurut Reny, memiliki posisi yang sangat krusial. Tokoh pahlawan wanita abad ke-15 ini bukan hanya simbol penyebaran Islam di pesisir utara Jawa pada masa Sunan Gunung Jati, tetapi juga jangkar sejarah. "Bahkan cerita Nyai Gandasari ini bisa dikatakan mulanya Indonesia. Selain itu, ending kemenangan Nyai Gandasari dengan Cakraningrat menjadi penanda hari lahir kota Cirebon," tambahnya.
Misi merawat sejarah ini bersambut gayung dengan gairah sang sutradara sekaligus koreografer senior, Denny Malik. Di tangan Denny, kisah klasik ini bertransformasi menjadi sebuah mahakarya berkelas dunia tanpa kehilangan akarnya.
Lihat Juga :