Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta
Jum'at, 26 Juni 2026 - 18:50 WIB
loading...
A
A
A
Interior Harmonie Hall di House of Tugu menampilkan berbagai elemen asli Gedung Harmoni. Pintu-pintu besar dari jati, furnitur, lampu kristal, meja biliar kuno, hingga perlengkapan jamuan berhasil dikumpulkan kembali.
Ruangan berkapasitas sekitar 150 orang itu tidak membutuhkan banyak dekorasi tambahan. Tiga lampu gantung antik bergaya Bohemian menghiasi bagian dalam kubah yang dilukis menyerupai langit biru. Meja panjang berbahan kayu dan keramik menjadi pusat ruangan. Karena bobotnya sangat besar, meja tersebut tidak dapat dipindahkan.
Masih di dalam ruangan tersimpan berbagai alat musik tiup. Mulai dari trombon, bass trumpet, mellophone, hingga bariton. Banyak kolektor memburu benda-benda itu ketika gedung lama akan dibongkar.
Salah satu koleksi paling menarik adalah anak-anak kunci Gedung Harmoni yang dibuang Sir Thomas Stamford Raffles ke sungai. Tokoh Inggris itu pernah menjabat Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811 hingga 1816.
Amanda menjelaskan, Anhar Setjadibrata berhasil menemukan kembali 64 dari 83 anak kunci asli Gedung Harmoni. Menurut cerita yang beredar, sebagian kunci dibuang ke sungai oleh Raffles sebagai simbol agar gedung tersebut abadi. Namun roda sejarah berkata lain. Societeit de Harmoni dibongkar pada 1985 untuk keperluan pelebaran jalan dan perluasan area Kantor Sekretariat Negara.
Babah Koffie dan Naga yang Tertidur Puluhan Tahun
![Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta]()
Menjelang malam, perjalanan kami sampai di Babah Koffie. Begitu memasuki ruangan, pandangan tertuju pada sosok naga merah raksasa yang membentang di langit-langit. "Naga ini panjangnya 26,5 meter," ujar Amanda.
Naga bernama Leang Leong tersebut dibuat pada 1961. Awalnya naga dipersiapkan untuk perayaan Cap Go Meh 1963 sekaligus memperingati 100 tahun firma Kian Gwan & Co milik Oei Tiong Ham. Namun sejarah berkata lain.
Kondisi politik dan ekonomi membuat perayaan tidak terlaksana. Seluruh kekayaan keluarga Oei Tiong Ham kemudian terseret berbagai persoalan. Akibatnya naga tersebut tidak pernah tampil di depan publik. Selama puluhan tahun ia tersimpan di gudang hingga akhirnya direstorasi pada 2022.
Di area yang sama terdapat gerbang klenteng suci dari Burma yang dibawa ayah Anhar ke Indonesia pada 1943. Gerbang tersebut dibuat sekitar 1750. Di bawahnya tersusun sofa dan kursi yang menyerupai ruang tamu rumah tempo dulu.
Foto-foto lama Perkebunan Kawisari menghiasi dinding. Sementara itu sepasang ondel-ondel berdiri di bagian depan kafe. Bagi pengunjung non-menginap, hotel tour tersedia dengan tarif Rp400 ribu termasuk sajian makanan. (Bersambung)
Ruangan berkapasitas sekitar 150 orang itu tidak membutuhkan banyak dekorasi tambahan. Tiga lampu gantung antik bergaya Bohemian menghiasi bagian dalam kubah yang dilukis menyerupai langit biru. Meja panjang berbahan kayu dan keramik menjadi pusat ruangan. Karena bobotnya sangat besar, meja tersebut tidak dapat dipindahkan.
Masih di dalam ruangan tersimpan berbagai alat musik tiup. Mulai dari trombon, bass trumpet, mellophone, hingga bariton. Banyak kolektor memburu benda-benda itu ketika gedung lama akan dibongkar.
Salah satu koleksi paling menarik adalah anak-anak kunci Gedung Harmoni yang dibuang Sir Thomas Stamford Raffles ke sungai. Tokoh Inggris itu pernah menjabat Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1811 hingga 1816.
Amanda menjelaskan, Anhar Setjadibrata berhasil menemukan kembali 64 dari 83 anak kunci asli Gedung Harmoni. Menurut cerita yang beredar, sebagian kunci dibuang ke sungai oleh Raffles sebagai simbol agar gedung tersebut abadi. Namun roda sejarah berkata lain. Societeit de Harmoni dibongkar pada 1985 untuk keperluan pelebaran jalan dan perluasan area Kantor Sekretariat Negara.
Babah Koffie dan Naga yang Tertidur Puluhan Tahun

Menjelang malam, perjalanan kami sampai di Babah Koffie. Begitu memasuki ruangan, pandangan tertuju pada sosok naga merah raksasa yang membentang di langit-langit. "Naga ini panjangnya 26,5 meter," ujar Amanda.
Naga bernama Leang Leong tersebut dibuat pada 1961. Awalnya naga dipersiapkan untuk perayaan Cap Go Meh 1963 sekaligus memperingati 100 tahun firma Kian Gwan & Co milik Oei Tiong Ham. Namun sejarah berkata lain.
Kondisi politik dan ekonomi membuat perayaan tidak terlaksana. Seluruh kekayaan keluarga Oei Tiong Ham kemudian terseret berbagai persoalan. Akibatnya naga tersebut tidak pernah tampil di depan publik. Selama puluhan tahun ia tersimpan di gudang hingga akhirnya direstorasi pada 2022.
Di area yang sama terdapat gerbang klenteng suci dari Burma yang dibawa ayah Anhar ke Indonesia pada 1943. Gerbang tersebut dibuat sekitar 1750. Di bawahnya tersusun sofa dan kursi yang menyerupai ruang tamu rumah tempo dulu.
Foto-foto lama Perkebunan Kawisari menghiasi dinding. Sementara itu sepasang ondel-ondel berdiri di bagian depan kafe. Bagi pengunjung non-menginap, hotel tour tersedia dengan tarif Rp400 ribu termasuk sajian makanan. (Bersambung)
(wur)
Lihat Juga :