Film Juminten Edan Ungkap Trauma Masa Lalu, Kisah Mencekam yang Menjadi Teror
Jum'at, 17 Juli 2026 - 16:20 WIB
loading...
Juminten Edan menjadi salah satu film horor dengan kisah yang berbeda.
A
A
A
JAKARTA - Juminten Edan menjadi salah satu film horor dengan kisah yang berbeda. Digarap oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, film. Ini mengupas masalah sosial dalam keluarga yang belum terselesaikan.
Bermula dari sosok perempuan disabilitas bernama Juminten. Dia diselimuti trauma masa lalu yang mencekam dan berdampak pada masa kini yang menjadi sumber teror.
“Secara keseluruhan, film ini sebuah kisah keluarga, miniatur dari kisah keluarga seluruh Indonesia sebenarnya. Bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, anak dan ibu mertua gitu. Jadi itu yang, kisahnya itu coba kita ambil yang lebih dekat dengan pemirsa,” kata Dedy.
Film yang diproduksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini memang berpusat pada sosok Juminten.Perempuan tunawicara ini kembali ke pulau tempat ia dibesarkan setelah delapan tahun merantau. Juminten pulang bersama suaminya, Manto, dan anak mereka, Saskia, Namun, kepulangan tersebut justru membuka kembali luka dan kenangan kelam yang selama ini terkubur.
Juminten mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Berbagai kejadian ganjil pun muncul dan perlahan mengancam keselamatan orang-orang terdekatnya. Kondisi Juminten semakin mengkhawatirkan ketika perubahan sikapnya mulai membahayakan keluarganya, sampai pada akhirnya keluarga dan warga sepakat untuk memasung Juminten.
Juminten Edan tidak hanya menawarkan ketegangan khas film horor. Film yang
dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026 ini memberi sisi beda pada cerita yang lebih organic dan realistis, dengan menyoroti dampak trauma, konflik keluarga, serta perjuangan seseorang ketika harus kembali menghadapi masa lalu yang belum selesai.
Film ini dibintangi Meisya Amira dan Dimas Aditya. Meisya Amira dipercaya memerankan tokoh Juminten, sedangkan Dimas Aditya berperan sebagai Manto. Ada juga artis senior Anne J. Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten, Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto kecil, serta Maria Lituhayu sebagai Juminten kecil.
Dedy mengatakan film Juminten Edan mengajak penonton menelusuri penyebab perubahan Juminten sekaligus mengungkap rahasia yang tersimpan di balik masa lalunya.
“Ini yang orang-orang yang mungkin dianggap waras seringkali melakukan sebuah kegilaan dalam tanda kutip. Bahkan mungkin sebaliknya juga gitu, orang-orang yang dianggap gila atau orang yang gak dianggap justru punya keluhuran budi. Punya kewarasan yang dalam tanda kutip,” ucap Dedy.
Bermula dari sosok perempuan disabilitas bernama Juminten. Dia diselimuti trauma masa lalu yang mencekam dan berdampak pada masa kini yang menjadi sumber teror.
“Secara keseluruhan, film ini sebuah kisah keluarga, miniatur dari kisah keluarga seluruh Indonesia sebenarnya. Bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, anak dan ibu mertua gitu. Jadi itu yang, kisahnya itu coba kita ambil yang lebih dekat dengan pemirsa,” kata Dedy.
Film yang diproduksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini memang berpusat pada sosok Juminten.Perempuan tunawicara ini kembali ke pulau tempat ia dibesarkan setelah delapan tahun merantau. Juminten pulang bersama suaminya, Manto, dan anak mereka, Saskia, Namun, kepulangan tersebut justru membuka kembali luka dan kenangan kelam yang selama ini terkubur.
Juminten mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Berbagai kejadian ganjil pun muncul dan perlahan mengancam keselamatan orang-orang terdekatnya. Kondisi Juminten semakin mengkhawatirkan ketika perubahan sikapnya mulai membahayakan keluarganya, sampai pada akhirnya keluarga dan warga sepakat untuk memasung Juminten.
Juminten Edan tidak hanya menawarkan ketegangan khas film horor. Film yang
dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026 ini memberi sisi beda pada cerita yang lebih organic dan realistis, dengan menyoroti dampak trauma, konflik keluarga, serta perjuangan seseorang ketika harus kembali menghadapi masa lalu yang belum selesai.
Film ini dibintangi Meisya Amira dan Dimas Aditya. Meisya Amira dipercaya memerankan tokoh Juminten, sedangkan Dimas Aditya berperan sebagai Manto. Ada juga artis senior Anne J. Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten, Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto kecil, serta Maria Lituhayu sebagai Juminten kecil.
Dedy mengatakan film Juminten Edan mengajak penonton menelusuri penyebab perubahan Juminten sekaligus mengungkap rahasia yang tersimpan di balik masa lalunya.
“Ini yang orang-orang yang mungkin dianggap waras seringkali melakukan sebuah kegilaan dalam tanda kutip. Bahkan mungkin sebaliknya juga gitu, orang-orang yang dianggap gila atau orang yang gak dianggap justru punya keluhuran budi. Punya kewarasan yang dalam tanda kutip,” ucap Dedy.
(dra)
Lihat Juga :