Bukan Cuma Mencegah Sakit, Ini Pentingnya Investasi Kesehatan Sel Sejak Dini
Minggu, 26 Juli 2026 - 13:16 WIB
loading...
Kharisma Hidayat, CEO Regenerasia
A
A
A
JAKARTA - Seiring meningkatnya angka harapan hidup, menjaga kualitas hidup di usia yang semakin panjang menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Menjawab hal tersebut, pada 22 Juli 2026, Regenerasia kembali menggelar forum edukasi bertajuk The Science of Aging Well: Cells, Hormones, and Longevity sebagai bagian dari komitmennya dalam meningkatkan literasi masyarakat mengenai kesehatan preventif dan regenerative medicine.
Bertempat di Ruang Lotus, Ayana Midplaza, Jakarta, forum ilmiah ini menghadirkan para praktisi di bidang regenerative medicine dan kesehatan hormonal untuk membahas peran kesehatan sel serta keseimbangan hormon sebagai fondasi menuju healthy longevity. Para pembicara tersebut adalah dr. Jutadi Aziz, MBBS selaku Marketing & Partnership Manager SCCR, dan dr. Isabella Sillar, MBBS (Hons), Aesthetic Clinician & Veritas Identitas.
Dalam pemaparannya, dr. Jutadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi stem cell di Indonesia terus menunjukkan kemajuan, termasuk hadirnya produk stem cell yang telah memperoleh sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurutnya, kehadiran sertifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perkembangan terapi berbasis regenerative medicine.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas sel tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi medis, tetapi juga oleh gaya hidup yang dijalani setiap hari. "Pola makan yang seimbang, tidur yang cukup, serta olahraga secara rutin merupakan fondasi utama untuk menjaga kesehatan sel agar tetap berfungsi secara optimal," ujar dr. Jutadi.
Pada kesempatan yang sama, Regenerasia turut memperkenalkan Cold Atmospheric Plasma+ (CAP+) Technology by Human Regenerator sebagai salah satu pendekatan pendukung dalam program regenerative medicine. Dalam forum diskusi tersebut, Kharisma Hidayat selaku CEO dari Regenerasia menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk membantu mempersiapkan kondisi biologis tubuh sebelum menjalani terapi stem cell, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang lebih optimal.
Hal ini sejalan dengan pandangan dr. Jutadi dan dr. Isabella Sillar. Dijelaskan bahwa CAP+ juga dapat dimanfaatkan sebagai terapi pendamping setelah tindakan stem cell untuk mendukung proses regenerasi jaringan sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan ini mencerminkan pentingnya mempersiapkan tubuh secara menyeluruh agar program terapi regeneratif dapat memberikan manfaat yang optimal.
Sementara itu, dr. Isabella Sillar menjelaskan bahwa hormon memiliki peran penting dalam mengatur energi, metabolisme, proses pemulihan tubuh, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Menurutnya, mengenali perubahan energi tubuh merupakan langkah awal untuk memahami kondisi kesehatan secara lebih komprehensif, sehingga penanganan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada gejala, tetapi juga pada penyebab yang mendasarinya.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan, Regenerasia juga mengumumkan rencana menghadirkan Longevity Center di kawasan pusat Jakarta dalam waktu sekitar enam bulan mendatang. Pusat layanan ini diharapkan menjadi destinasi bagi masyarakat yang ingin memperoleh layanan kesehatan preventif dan regeneratif berbasis teknologi medis, sekaligus menjadi pusat edukasi mengenai healthy aging dan healthy longevity.
Kegiatan ini merupakan Focus Group Discussion (FGD) kedua yang diselenggarakan oleh Regenerasia. Melalui rangkaian forum edukasi yang akan terus berlanjut, Regenerasia berkomitmen menghadirkan informasi kesehatan yang kredibel, berbasis bukti ilmiah, serta mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi pada kesehatan sejak dini demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
Bertempat di Ruang Lotus, Ayana Midplaza, Jakarta, forum ilmiah ini menghadirkan para praktisi di bidang regenerative medicine dan kesehatan hormonal untuk membahas peran kesehatan sel serta keseimbangan hormon sebagai fondasi menuju healthy longevity. Para pembicara tersebut adalah dr. Jutadi Aziz, MBBS selaku Marketing & Partnership Manager SCCR, dan dr. Isabella Sillar, MBBS (Hons), Aesthetic Clinician & Veritas Identitas.
Dalam pemaparannya, dr. Jutadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi stem cell di Indonesia terus menunjukkan kemajuan, termasuk hadirnya produk stem cell yang telah memperoleh sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurutnya, kehadiran sertifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perkembangan terapi berbasis regenerative medicine.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas sel tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi medis, tetapi juga oleh gaya hidup yang dijalani setiap hari. "Pola makan yang seimbang, tidur yang cukup, serta olahraga secara rutin merupakan fondasi utama untuk menjaga kesehatan sel agar tetap berfungsi secara optimal," ujar dr. Jutadi.
Pada kesempatan yang sama, Regenerasia turut memperkenalkan Cold Atmospheric Plasma+ (CAP+) Technology by Human Regenerator sebagai salah satu pendekatan pendukung dalam program regenerative medicine. Dalam forum diskusi tersebut, Kharisma Hidayat selaku CEO dari Regenerasia menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk membantu mempersiapkan kondisi biologis tubuh sebelum menjalani terapi stem cell, sehingga tubuh berada dalam kondisi yang lebih optimal.
Hal ini sejalan dengan pandangan dr. Jutadi dan dr. Isabella Sillar. Dijelaskan bahwa CAP+ juga dapat dimanfaatkan sebagai terapi pendamping setelah tindakan stem cell untuk mendukung proses regenerasi jaringan sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan ini mencerminkan pentingnya mempersiapkan tubuh secara menyeluruh agar program terapi regeneratif dapat memberikan manfaat yang optimal.
Sementara itu, dr. Isabella Sillar menjelaskan bahwa hormon memiliki peran penting dalam mengatur energi, metabolisme, proses pemulihan tubuh, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Menurutnya, mengenali perubahan energi tubuh merupakan langkah awal untuk memahami kondisi kesehatan secara lebih komprehensif, sehingga penanganan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada gejala, tetapi juga pada penyebab yang mendasarinya.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan, Regenerasia juga mengumumkan rencana menghadirkan Longevity Center di kawasan pusat Jakarta dalam waktu sekitar enam bulan mendatang. Pusat layanan ini diharapkan menjadi destinasi bagi masyarakat yang ingin memperoleh layanan kesehatan preventif dan regeneratif berbasis teknologi medis, sekaligus menjadi pusat edukasi mengenai healthy aging dan healthy longevity.
Kegiatan ini merupakan Focus Group Discussion (FGD) kedua yang diselenggarakan oleh Regenerasia. Melalui rangkaian forum edukasi yang akan terus berlanjut, Regenerasia berkomitmen menghadirkan informasi kesehatan yang kredibel, berbasis bukti ilmiah, serta mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi pada kesehatan sejak dini demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
(unt)
Lihat Juga :