5 Efek Samping Kebanyakan Makan Protein, Bisa Ganggu Ginjal hingga Jantung
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:46 WIB
loading...
Protein penting bagi tubuh, tapi jika kebanyakan bisa menimbulkan efek kesehatan. Foto: Health
A
A
A
JAKARTA - Protein merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk membangun otot, memperbaiki jaringan, hingga menjaga daya tahan tubuh. Namun, mengonsumsi protein secara berlebihan ternyata juga dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan.
Terlebih jika dilakukan dalam jangka panjang atau tidak diimbangi pola makan yang seimbang. Menurut para ahli, kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda.
Kebutuhan itu tergantung usia, berat badan, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan. Masyarakat pun dianjurkan memenuhi kebutuhan sesuai anjuran dan tetap mengonsumsi karbohidrat, lemak sehat, dan serat dalam jumlah cukup.
Baca Juga : Karbohidrat atau Protein, Mana yang Lebih Baik untuk Sarapan? Ini Jawaban Ahli Gizi
Berikut ini lima efek samping yang dapat terjadi jika mengonsumsi protein secara berlebihan:
1. Meningkatkan risiko beberapa penyakit
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein, terutama yang didominasi protein hewani, dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tertentu, seperti penyakit jantung koroner dan beberapa jenis kanker. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan risiko tersebut.
2. Memicu gangguan pencernaan
Diet tinggi protein sering kali membuat seseorang mengurangi konsumsi makanan berserat, seperti buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Akibatnya, risiko sembelit, perut kembung, hingga gangguan pencernaan lainnya bisa meningkat.
3. Membebani kerja ginjal
Bagi orang yang memiliki penyakit ginjal, konsumsi protein berlebihan dapat memperberat kerja organ tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mempercepat penurunan fungsi ginjal sehingga penderita penyakit ginjal perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai jumlah protein yang aman dikonsumsi.
Baca Juga : Tren Jogging Meningkat, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Protein untuk Performa Olahraga
4. Memberi tekanan pada organ tubuh
Tubuh tidak dapat menyimpan kelebihan protein secara langsung. Protein yang tidak digunakan akan diproses lebih lanjut sehingga dapat meningkatkan beban kerja organ seperti hati dan ginjal. Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit tertentu, misalnya asam urat.
5. Berisiko meningkatkan tekanan darah
Beberapa penelitian menemukan bahwa pola makan tinggi protein tertentu juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan darah. Jika tekanan darah terus tinggi, risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan kardiovaskular lainnya ikut meningkat.
Meski demikian, bukan berarti protein harus dihindari. Para ahli menekankan bahwa protein tetap merupakan bagian penting dari pola makan sehat.
Kuncinya adalah mengonsumsi protein sesuai kebutuhan tubuh, memilih sumber protein yang beragam, serta memastikan asupan serat, karbohidrat, dan lemak sehat tetap terpenuhi agar pola makan tetap seimbang.
Terlebih jika dilakukan dalam jangka panjang atau tidak diimbangi pola makan yang seimbang. Menurut para ahli, kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda.
Kebutuhan itu tergantung usia, berat badan, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan. Masyarakat pun dianjurkan memenuhi kebutuhan sesuai anjuran dan tetap mengonsumsi karbohidrat, lemak sehat, dan serat dalam jumlah cukup.
Baca Juga : Karbohidrat atau Protein, Mana yang Lebih Baik untuk Sarapan? Ini Jawaban Ahli Gizi
Berikut ini lima efek samping yang dapat terjadi jika mengonsumsi protein secara berlebihan:
1. Meningkatkan risiko beberapa penyakit
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein, terutama yang didominasi protein hewani, dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tertentu, seperti penyakit jantung koroner dan beberapa jenis kanker. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang sangat menentukan risiko tersebut.
2. Memicu gangguan pencernaan
Diet tinggi protein sering kali membuat seseorang mengurangi konsumsi makanan berserat, seperti buah, sayur, dan biji-bijian utuh. Akibatnya, risiko sembelit, perut kembung, hingga gangguan pencernaan lainnya bisa meningkat.
3. Membebani kerja ginjal
Bagi orang yang memiliki penyakit ginjal, konsumsi protein berlebihan dapat memperberat kerja organ tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mempercepat penurunan fungsi ginjal sehingga penderita penyakit ginjal perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai jumlah protein yang aman dikonsumsi.
Baca Juga : Tren Jogging Meningkat, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Protein untuk Performa Olahraga
4. Memberi tekanan pada organ tubuh
Tubuh tidak dapat menyimpan kelebihan protein secara langsung. Protein yang tidak digunakan akan diproses lebih lanjut sehingga dapat meningkatkan beban kerja organ seperti hati dan ginjal. Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit tertentu, misalnya asam urat.
5. Berisiko meningkatkan tekanan darah
Beberapa penelitian menemukan bahwa pola makan tinggi protein tertentu juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan darah. Jika tekanan darah terus tinggi, risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan kardiovaskular lainnya ikut meningkat.
Meski demikian, bukan berarti protein harus dihindari. Para ahli menekankan bahwa protein tetap merupakan bagian penting dari pola makan sehat.
Kuncinya adalah mengonsumsi protein sesuai kebutuhan tubuh, memilih sumber protein yang beragam, serta memastikan asupan serat, karbohidrat, dan lemak sehat tetap terpenuhi agar pola makan tetap seimbang.
(wur)
Lihat Juga :