Cegah Hamil Tanpa Rencana saat Pandemi, Bayer Hadirkan Program Edukasi dan Akses Kontrasepsi
Sabtu, 26 September 2020 - 18:30 WIB
loading...
A
A
A
Terkait program Bayer ini, Kepala BKKBN Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyampaikan apresiasi dan penghargaannya. Apalagi daerah intervensi yang dipilih juga sesuai dengan target BKKBN dalam menurunkan TFR.
Untuk mengatasi hambatan akses kontrasepsi yang terjadi selama pandemi, BKKBN melakukan beberapa langkah strategis dan cepat, seperti layanan kontrasepsi bagi satu juta akseptor dari rumah ke rumah di seluruh Indonesia; membuat sistem informasi secara massif menggunakan multilevel networking yang mencakup 34 provinsi, 514 kabupaten, 23.400 penyuluh lapangan dan 1,2 juta kader; serta menggunakan teknologi digital seperti KlikKB dalam pemberian konseling kontrasepsi.
“Selama masa pandemi COVID-19 terjadi penurunan akses terhadap layanan fasilitas kesehatan. Hal yang harus kita cermati terkait kondisi ini yaitu dampak terdekatnya, terjadi kehamilan yang tidak direncanakan yang presentasinya hampir mencapai 17,5%," ungkap Hasto. (Baca Juga: Studi: Anak-Anak Memiliki Sistem Kekebalan COVID-19 yang Lebih Baik )
Data United Nation Population Fund (UNFPA) pada Agustus 2020 juga mencatat, 47 juta perempuan di seluruh dunia terancam tidak mendapatkan akses terhadap alat kontrasepsi dan diperkirakan terjadi lonjakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan akibat pandemi COVID-19. Hal ini menjadi perhatian layanan KB Indonesia untuk dapat dilakukan berbagai upaya agar informasi serta akses kontrasepsi dapat berlangsung baik.
Untuk mengatasi hambatan akses kontrasepsi yang terjadi selama pandemi, BKKBN melakukan beberapa langkah strategis dan cepat, seperti layanan kontrasepsi bagi satu juta akseptor dari rumah ke rumah di seluruh Indonesia; membuat sistem informasi secara massif menggunakan multilevel networking yang mencakup 34 provinsi, 514 kabupaten, 23.400 penyuluh lapangan dan 1,2 juta kader; serta menggunakan teknologi digital seperti KlikKB dalam pemberian konseling kontrasepsi.
“Selama masa pandemi COVID-19 terjadi penurunan akses terhadap layanan fasilitas kesehatan. Hal yang harus kita cermati terkait kondisi ini yaitu dampak terdekatnya, terjadi kehamilan yang tidak direncanakan yang presentasinya hampir mencapai 17,5%," ungkap Hasto. (Baca Juga: Studi: Anak-Anak Memiliki Sistem Kekebalan COVID-19 yang Lebih Baik )
Data United Nation Population Fund (UNFPA) pada Agustus 2020 juga mencatat, 47 juta perempuan di seluruh dunia terancam tidak mendapatkan akses terhadap alat kontrasepsi dan diperkirakan terjadi lonjakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan akibat pandemi COVID-19. Hal ini menjadi perhatian layanan KB Indonesia untuk dapat dilakukan berbagai upaya agar informasi serta akses kontrasepsi dapat berlangsung baik.
(tsa)
Lihat Juga :