Cegah Hamil Tanpa Rencana saat Pandemi, Bayer Hadirkan Program Edukasi dan Akses Kontrasepsi

loading...
Cegah Hamil Tanpa Rencana saat Pandemi, Bayer Hadirkan Program Edukasi dan Akses Kontrasepsi
Terjadi lonjakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan akibat pandemi COVID-19. Foto Ilustrasi/Shutterstock
JAKARTA - Bertepatan dengan peringatan World Contraception Day (WCD) atau Hari Kontrasepsi Sedunia kemarin, Bayer Indonesia meluncurkan program edukasi serta akses kontrasepsi bagi 25.000 perempuan petani maupun istri petani di Banten dan Jawa Barat untuk tahun 2020-2021.

Untuk menjalankan program tersebut, Bayer bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Tujuannya adalah membantu pemerintah menekan laju pertumbuhan penduduk sekaligus pemberdayaan perempuan agar kualitas hidup, baik ekonomi dan kesehatan, dapat meningkat. (Baca Juga: Dihelat secara Virtual, Prodia Scientific Day 2020 Angkat Tema Imunitas di Tengah Pandemi )

”Bayer menunjuk Mercy Corp Indonesia sebagai mitra untuk implementasi program ini. Mengingat situasi pandemi COVID-19, platform digital seperti KlikKB BKKBN dan aplikasi lain bakal dipergunakan untuk mendukung edukasi serta akses kontrasepsi yang dilakukan oleh 100 bidan sebagai Duta Oral Kontrasepsi (Duta OC)," kata Angel Michael Evangelista, Presiden Direktur PT Bayer Indonesia dalam konferensi pers virtual, Jumat (26/9).

Melalui program ini, lanjut Michael, Bayer ingin membantu BKKBN menurunkan Total Fertility Rate (TFR) dan Drop Out kontrasepsi, serta kehamilan yang tidak direncanakan di daerah intervensi tersebut.



"Kami menargetkan penambahan akseptor baru sebanyak 10% dari program ini. Selain itu, Bayer berkomitmen membantu pemberdayaan perempuan agar kualitas hidup, baik ekonomi dan kesehatan diri beserta keluarga mereka, dapat meningkat," katanya lagi.

Terkait program Bayer ini, Kepala BKKBN Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menyampaikan apresiasi dan penghargaannya. Apalagi daerah intervensi yang dipilih juga sesuai dengan target BKKBN dalam menurunkan TFR.

Untuk mengatasi hambatan akses kontrasepsi yang terjadi selama pandemi, BKKBN melakukan beberapa langkah strategis dan cepat, seperti layanan kontrasepsi bagi satu juta akseptor dari rumah ke rumah di seluruh Indonesia; membuat sistem informasi secara massif menggunakan multilevel networking yang mencakup 34 provinsi, 514 kabupaten, 23.400 penyuluh lapangan dan 1,2 juta kader; serta menggunakan teknologi digital seperti KlikKB dalam pemberian konseling kontrasepsi.



“Selama masa pandemi COVID-19 terjadi penurunan akses terhadap layanan fasilitas kesehatan. Hal yang harus kita cermati terkait kondisi ini yaitu dampak terdekatnya, terjadi kehamilan yang tidak direncanakan yang presentasinya hampir mencapai 17,5%," ungkap Hasto. (Baca Juga: Studi: Anak-Anak Memiliki Sistem Kekebalan COVID-19 yang Lebih Baik )

Data United Nation Population Fund (UNFPA) pada Agustus 2020 juga mencatat, 47 juta perempuan di seluruh dunia terancam tidak mendapatkan akses terhadap alat kontrasepsi dan diperkirakan terjadi lonjakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan akibat pandemi COVID-19. Hal ini menjadi perhatian layanan KB Indonesia untuk dapat dilakukan berbagai upaya agar informasi serta akses kontrasepsi dapat berlangsung baik.
(tsa)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top