Pariatmojo, Penyandang Netra yang Berbagi Kebahagiaan Lewat Lukisan
Sabtu, 07 November 2020 - 12:11 WIB
loading...
A
A
A
Bagi alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan disain ini, keindahan yang dirasakannya justru ketika mewakili perasaannya ke bentuk visual. Apapun yang terjadi saat memutuskan berakhirnya satu lukisan diselesaikan, itulah wujud dari kehendaknya. Ia menjadi abai terhadap apa yang sudah dicurahkannya ke dalam kanvas. Meskipun sejak awal mempertimbangkan warna-warna yang akan digoreskannya. Terlebih dahulu ia membayangkan dan memetakan warna serta bentuk tanda-tanda yang mewakili perasaannya. Pada akhirnya ia sendiri tidak mengetahui persis bagaimana visualnya. (Baca juga: Kampanye Tatap Muka Meningkat, Kampanye Daring Turun)
Pariatmojo memang memiliki pengalaman melukis sewaktu masih dapat melihat. Beberapa kali mengikuti pameran, lukisannya figur-figur naturalis dramatis. Karya-karya disainnya sangat istimewa, banyak diapresiasi untuk project perumahan. Seringkali diminta mengerjakan maket, disain interior rumah. Pariatmojo sesungguhnya disainer interior yang handal.
Sejak ke luar dari kampus 1995, ia hijrah ke Jakarta, bekerja sama dengan kawan-kawannya membuka jasa artwork membuat maket, patung, lukisan, disain interior. Pada 1999, ia kembali ke Solo, mengerjakan beberapa project perumahan di beberapa tempat hingga banyak menyita waktunya. Kurangnya istirahat, lupa makan, intens menggunakan obat tetes mata dan mengonsumsi alkohol, membuat Pariatmojo kehilangan penglihatannya. Kejadiannya sangat singkat, di hari Sabtu persisnya 1 Mer 2009, ia merasakan sakit pada mata, diperiksakan ke dokter, dan besoknya penglihatannya sudah tak berfungsi lagi.
Dari sinilah titik balik Pariatmojo, dari dapat melihat dan pekerja aktif, hingga ia betul-betul mengalami kebutaan total. Tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikitpun tidak ada cahaya yang dapat ditangkap matanya. Sangat sulit menerima apa yang seketika dideritanya. Perasaan tidak berguna, merasa bersalah, mudah tersinggung, dan masa lalu yang selalu berkelindan dalam pikiran, sangat mengganggu. Membuat jiwanya guncang. Setahun kemudian pada 2010, ia diputuskan oleh tunangannya. (Baca juga: Gelaran ICTM Dorong Pertumbuhan Ekonomi)
Segala sesuatu akan ada apabila ada keberanian dalam memulai atau menemukan sebuah cara penciptaan. Tentu hal ini tidak mudah. Memiliki proses yang cukup lama, banyak kendala dari luar diri dan dari dalam diri. Menentukan apa yang akan dilakukan dan dikerjakan, butuh pengendapan serta ketenangan, sehingga membentuk keyakinan dan percaya diri.
Perlahan, Pariatmojo mulai dapat menyesuaikan keadaan. Pada 2013 mencoba melukis namun sempat berhenti. Baru awal 2017, ia menyadari harus ada sesuatu yang bermanfaat dikerjakannya. Setiap hari ia mulai belajar membuat sketsa di kertas, belajar menulis, mempelajari titik kordinat, memetakan bidang, mengingat warna, belajar lagi bagaimana mencampur warna, cara menggoreskan kuas dan menyebar warna.
Pariatmojo memang memiliki pengalaman melukis sewaktu masih dapat melihat. Beberapa kali mengikuti pameran, lukisannya figur-figur naturalis dramatis. Karya-karya disainnya sangat istimewa, banyak diapresiasi untuk project perumahan. Seringkali diminta mengerjakan maket, disain interior rumah. Pariatmojo sesungguhnya disainer interior yang handal.
Sejak ke luar dari kampus 1995, ia hijrah ke Jakarta, bekerja sama dengan kawan-kawannya membuka jasa artwork membuat maket, patung, lukisan, disain interior. Pada 1999, ia kembali ke Solo, mengerjakan beberapa project perumahan di beberapa tempat hingga banyak menyita waktunya. Kurangnya istirahat, lupa makan, intens menggunakan obat tetes mata dan mengonsumsi alkohol, membuat Pariatmojo kehilangan penglihatannya. Kejadiannya sangat singkat, di hari Sabtu persisnya 1 Mer 2009, ia merasakan sakit pada mata, diperiksakan ke dokter, dan besoknya penglihatannya sudah tak berfungsi lagi.
Dari sinilah titik balik Pariatmojo, dari dapat melihat dan pekerja aktif, hingga ia betul-betul mengalami kebutaan total. Tidak bisa berbuat apa-apa. Sedikitpun tidak ada cahaya yang dapat ditangkap matanya. Sangat sulit menerima apa yang seketika dideritanya. Perasaan tidak berguna, merasa bersalah, mudah tersinggung, dan masa lalu yang selalu berkelindan dalam pikiran, sangat mengganggu. Membuat jiwanya guncang. Setahun kemudian pada 2010, ia diputuskan oleh tunangannya. (Baca juga: Gelaran ICTM Dorong Pertumbuhan Ekonomi)
Segala sesuatu akan ada apabila ada keberanian dalam memulai atau menemukan sebuah cara penciptaan. Tentu hal ini tidak mudah. Memiliki proses yang cukup lama, banyak kendala dari luar diri dan dari dalam diri. Menentukan apa yang akan dilakukan dan dikerjakan, butuh pengendapan serta ketenangan, sehingga membentuk keyakinan dan percaya diri.
Perlahan, Pariatmojo mulai dapat menyesuaikan keadaan. Pada 2013 mencoba melukis namun sempat berhenti. Baru awal 2017, ia menyadari harus ada sesuatu yang bermanfaat dikerjakannya. Setiap hari ia mulai belajar membuat sketsa di kertas, belajar menulis, mempelajari titik kordinat, memetakan bidang, mengingat warna, belajar lagi bagaimana mencampur warna, cara menggoreskan kuas dan menyebar warna.
Lihat Juga :