Pastikan Kualitas Udara Sehat Sebelum Olahraga Outdoor
Kamis, 19 November 2020 - 13:53 WIB
loading...
A
A
A
Adapun beberapa hari dengan kualitas udara terburuk adalah Minggu, Selasa, dan Rabu, bergantung pada lokasinya. Di wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, dan Bogor, Minggu menjadi hari dengan polusi tertinggi.
Tingginya tingkat polusi ini pun berpengaruh pada efektivitas lamanya berolahraga yang disarankan. Semakin tinggi tingkat PM2.5 (melebihi 100), maka semakin singkat waktu olahraga yang disarankan. (Baca juga: Bali Destinasi Bulan Madu Terbaik di Dunia)
Berdasarkan studi dari University of Cambridge yang berjudul “Dapatkah polusi udara menghapus manfaat kesehatan dari bersepeda dan berjalan kaki?”, jika level PM2.5 mencapai 100 ug/m3, maka berolahraga di atas 90 menit tidak akan bermanfaat bagi tubuh, dan justru membahayakan tubuh. Selanjutnya, jika tingkat PM2.5 di atas 165 ug/m3, maka waktu olahraga yang optimal adalah maksimal 30 menit.
Dokter spesialis paru (pulmonologist) dr Erlang Samoedro menjelaskan bahayanya jika PM2.5 terhirup. Menurut dia, sekali berolahraga, tingkat pernapasan akan meningkat signifikan hingga 40-60 napas per menit, berbeda dengan aktivitas normal yang hanya mengambil napas 15 kali per menit. (Lihat videonya: Pemerintah Austria Kembali Putuskan untuk Lockdown Kedua)
“Ditambah lagi, intensitas olahraga yang berbeda menyebabkan perbedaan volume udara yang dihirup. Tentu adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga di kualitas udara yang buruk semakin memberi risiko jumlah aerosol yang terhirup, termasuk PM2.5. Beberapa risiko penyakit yang mungkin muncul karena terhirupnya PM2.5, antara lain asma, stroke, dan kanker paru-paru,” papar dr Erlang. (Iman Firmansyah)
Tingginya tingkat polusi ini pun berpengaruh pada efektivitas lamanya berolahraga yang disarankan. Semakin tinggi tingkat PM2.5 (melebihi 100), maka semakin singkat waktu olahraga yang disarankan. (Baca juga: Bali Destinasi Bulan Madu Terbaik di Dunia)
Berdasarkan studi dari University of Cambridge yang berjudul “Dapatkah polusi udara menghapus manfaat kesehatan dari bersepeda dan berjalan kaki?”, jika level PM2.5 mencapai 100 ug/m3, maka berolahraga di atas 90 menit tidak akan bermanfaat bagi tubuh, dan justru membahayakan tubuh. Selanjutnya, jika tingkat PM2.5 di atas 165 ug/m3, maka waktu olahraga yang optimal adalah maksimal 30 menit.
Dokter spesialis paru (pulmonologist) dr Erlang Samoedro menjelaskan bahayanya jika PM2.5 terhirup. Menurut dia, sekali berolahraga, tingkat pernapasan akan meningkat signifikan hingga 40-60 napas per menit, berbeda dengan aktivitas normal yang hanya mengambil napas 15 kali per menit. (Lihat videonya: Pemerintah Austria Kembali Putuskan untuk Lockdown Kedua)
“Ditambah lagi, intensitas olahraga yang berbeda menyebabkan perbedaan volume udara yang dihirup. Tentu adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga di kualitas udara yang buruk semakin memberi risiko jumlah aerosol yang terhirup, termasuk PM2.5. Beberapa risiko penyakit yang mungkin muncul karena terhirupnya PM2.5, antara lain asma, stroke, dan kanker paru-paru,” papar dr Erlang. (Iman Firmansyah)
(ysw)
Lihat Juga :