Inovasi Plastik dari Rumput Laut dan Bisa Dimakan, Mau Coba?
Rabu, 16 Desember 2020 - 12:42 WIB
loading...
Inovasi plastik dari rumput laut yang bisa dimakan diharapkan berkontribusi dalam penanganan masalah sampah plastik. Foto/Claire Price, Business Insider Today
A
A
A
JAKARTA - Sampah plastik telah menjadi isu global dekade belakangan. Jumlahnya telah melebihi kapasitas penguraiannya sehingga mengganggu habitat makhluk hidup liar maupun manusia.
Berdasarkan data worldbank.org, setiap harinya Indonesia menghasilkan 175 ribu ton sampah dan sekitar 14% atau 24.500 ton merupakan sampah plastik.
Menurut Penelitian Cepat Hotspot Bank Dunia Sampah Laut Indonesia, sebesar 20% sampah plastik di Indonesia berakhir di sungai dan perairan pesisir. Setiap 20 menit, setara dengan 10 ton truk bermuatan plastik dibuang ke perairan seluruh Indonesia.
Masih mengacu sumber yang sama, pada studi tahun 2015 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara penyumbang plastik terbesar kedua di dunia di lautan. Jadi tidak heran, melihat fakta itu, plastik menjadi ancaman besar bagi isu lingkungan .
Selain menimbulkan masalah di sektor perairan, sampah plastik juga menyumbang andil dalam percepatan perubahan iklim. Saking pentingnya isu perubahan iklim sampai ada The Climate Clock di New York, Amerika Serikat.
![Inovasi Plastik dari Rumput Laut dan Bisa Dimakan, Mau Coba?]()
Foto: iStock
Bicara soal sampah plastik, untungnya sudah banyak orang yang sadar dengan isu ini. Tak sedikit orang yang sudah menerapkan gaya hidup go green dengan memakai gelas dan sedotan berbahan dasar kertas maupun membawa tempat makan dan minuman dari rumah.
Selain alternatif pengemasan dengan kertas, ternyata ada inovasi lain. Salah stau perusahaan rintisan (start-up) London Notpla di Inggris, mereka memiliki inovasi pengemasan berbahan dasar rumput laut yang dibentuk menyerupai plastik bening.
Berdasarkan data worldbank.org, setiap harinya Indonesia menghasilkan 175 ribu ton sampah dan sekitar 14% atau 24.500 ton merupakan sampah plastik.
Menurut Penelitian Cepat Hotspot Bank Dunia Sampah Laut Indonesia, sebesar 20% sampah plastik di Indonesia berakhir di sungai dan perairan pesisir. Setiap 20 menit, setara dengan 10 ton truk bermuatan plastik dibuang ke perairan seluruh Indonesia.
Masih mengacu sumber yang sama, pada studi tahun 2015 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara penyumbang plastik terbesar kedua di dunia di lautan. Jadi tidak heran, melihat fakta itu, plastik menjadi ancaman besar bagi isu lingkungan .
Selain menimbulkan masalah di sektor perairan, sampah plastik juga menyumbang andil dalam percepatan perubahan iklim. Saking pentingnya isu perubahan iklim sampai ada The Climate Clock di New York, Amerika Serikat.

Foto: iStock
Bicara soal sampah plastik, untungnya sudah banyak orang yang sadar dengan isu ini. Tak sedikit orang yang sudah menerapkan gaya hidup go green dengan memakai gelas dan sedotan berbahan dasar kertas maupun membawa tempat makan dan minuman dari rumah.
Selain alternatif pengemasan dengan kertas, ternyata ada inovasi lain. Salah stau perusahaan rintisan (start-up) London Notpla di Inggris, mereka memiliki inovasi pengemasan berbahan dasar rumput laut yang dibentuk menyerupai plastik bening.
Lihat Juga :