Cegah Bertambahnya Perokok Anak, Kasir Supermarket Dilarang Jual ke Pelajar dan Anak
Minggu, 20 Desember 2020 - 02:39 WIB
loading...
A
A
A
Melanjutkan soal peran pelaku industri, Atong Soekirman, Asisten Deputi Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menekankan tentang perlunya langkah nyata untuk penurunan angka perokok anak.
“Kegiatan ini menggambarkan upaya nyata bahwa IHT sangat peduli pada produknya melalui perlindungan kepada konsumen yang bukan target pasarnya yaitu anak di bawah umur. Kami menyambut baik komitmen Gaprindo bersama anggota atas peran yang berimbang dari pelaku industri ini sendiri,” tuturnya.
(Baca Juga: Saatnya Perempuan Pelaku UMKM Beralih ke Digital Ikuti Jejak 10 Juta yang Sudah On Board )
Atong juga menyatakan perlunya memahami tahapan-tahapan dan faktor di balik perilaku merokok pada anak.
“Tahapan pertama adalah coba-coba atau melakukan eksperimen. Setelah itu ia mulai menjadi social smoker atau regular smoker yang terbilang belum aktif. Lalu setelah periode berhenti pada fase itu, barulah mereka kembali mengonsumsi. Tahapan ini tentu dilandasi oleh faktor intrinsik dan ektrinsik, sehingga lingkungan keluarga sangat memengaruhi. Peran sosial juga diperlukan untuk menjauhkan lifestyle “gagah-gagahan” dengan cara lain," pungkasnya.
“Kegiatan ini menggambarkan upaya nyata bahwa IHT sangat peduli pada produknya melalui perlindungan kepada konsumen yang bukan target pasarnya yaitu anak di bawah umur. Kami menyambut baik komitmen Gaprindo bersama anggota atas peran yang berimbang dari pelaku industri ini sendiri,” tuturnya.
(Baca Juga: Saatnya Perempuan Pelaku UMKM Beralih ke Digital Ikuti Jejak 10 Juta yang Sudah On Board )
Atong juga menyatakan perlunya memahami tahapan-tahapan dan faktor di balik perilaku merokok pada anak.
“Tahapan pertama adalah coba-coba atau melakukan eksperimen. Setelah itu ia mulai menjadi social smoker atau regular smoker yang terbilang belum aktif. Lalu setelah periode berhenti pada fase itu, barulah mereka kembali mengonsumsi. Tahapan ini tentu dilandasi oleh faktor intrinsik dan ektrinsik, sehingga lingkungan keluarga sangat memengaruhi. Peran sosial juga diperlukan untuk menjauhkan lifestyle “gagah-gagahan” dengan cara lain," pungkasnya.
(tsa)
Lihat Juga :