Ahli Epidemiologi Sarankan 3 Hal Ini untuk Cegah Sebaran COVID-19 Jenis Baru
Minggu, 27 Desember 2020 - 17:53 WIB
loading...
Tes untuk mendeteksi COVID-19. Foto Ilustrasi/Freepik
A
A
A
JAKARTA - COVID-19 jenis baru yang muncul di Inggris dan Afrika telah menyebar ke 14 negara. Di antaranya Filipina, Malaysia, Singapura, Australia, Jerman, Italia, Prancis, Denmark, Belanda, Israel, Spanyol, Kanada, Irlandia Utara, dan Gibraltar.
Menanggapi persebaran virus corona jenis baru, pemerintah Indonesia berencana untuk membatasi warga negara asing (WNA) yang masuk ke Tanah Air. Bahkan, beberapa menyebut perlu adanya langkah ekstrem seperti membuat UU karantina.
(Baca Juga: Sakit Gigi Menyerang di Malam Hari? Atasi dengan 6 Cara Sederhana Ini! )
Sementara itu, Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono kepada Okezone mengatakan, sebenarnya untuk mencegah penularan COVID-19 tidak perlu sampai menutup negara, tapi cukup dengan melakukan testing.
"Coba lihat negara yang berhasil menangani kasus COVID-19 seperti Australia, China, dan lain-lain. Apakah mereka menutup negara? Tentu tidak, tetapi mereka berhasil menangani COVID-19," katanya pada Minggu (27/12).
Kemudian Pandu Riono menjelaskan, hal yang paling tepat untuk dilakukan pemerintah adalah melakukan testing, pelacakan kasus, serta isolasi.
"Menutup negara pun boleh, tetapi bagaimana dengan testing yang dilakukan? Apakah sudah mencukupi?" sambungnya.
(Baca Juga: Liburan Naik Kereta, Ini yang Harus Dijalankan agar Tak Terpapar COVID-19 )
Setidaknya, lanjut Pandu, program TLI (Testing, Lacak, Isolasi) ini harus optimal. Misalnya testing dilakukan 1.000 orang per satu juta penduduk per minggu.
"Sebenarnya di Jakarta sudah mencukupi, tetapi testing di daerah lain masih jauh dari kata cukup," pungkasnya.
Menanggapi persebaran virus corona jenis baru, pemerintah Indonesia berencana untuk membatasi warga negara asing (WNA) yang masuk ke Tanah Air. Bahkan, beberapa menyebut perlu adanya langkah ekstrem seperti membuat UU karantina.
(Baca Juga: Sakit Gigi Menyerang di Malam Hari? Atasi dengan 6 Cara Sederhana Ini! )
Sementara itu, Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono kepada Okezone mengatakan, sebenarnya untuk mencegah penularan COVID-19 tidak perlu sampai menutup negara, tapi cukup dengan melakukan testing.
"Coba lihat negara yang berhasil menangani kasus COVID-19 seperti Australia, China, dan lain-lain. Apakah mereka menutup negara? Tentu tidak, tetapi mereka berhasil menangani COVID-19," katanya pada Minggu (27/12).
Kemudian Pandu Riono menjelaskan, hal yang paling tepat untuk dilakukan pemerintah adalah melakukan testing, pelacakan kasus, serta isolasi.
"Menutup negara pun boleh, tetapi bagaimana dengan testing yang dilakukan? Apakah sudah mencukupi?" sambungnya.
(Baca Juga: Liburan Naik Kereta, Ini yang Harus Dijalankan agar Tak Terpapar COVID-19 )
Setidaknya, lanjut Pandu, program TLI (Testing, Lacak, Isolasi) ini harus optimal. Misalnya testing dilakukan 1.000 orang per satu juta penduduk per minggu.
"Sebenarnya di Jakarta sudah mencukupi, tetapi testing di daerah lain masih jauh dari kata cukup," pungkasnya.
(tsa)
Lihat Juga :