Masa Pandemi, Tetap Waspadai Kanker Serviks dengan Deteksi Dini
Jum'at, 22 Januari 2021 - 12:35 WIB
loading...
A
A
A
Gejala atau keluhan tersebut biasanya baru muncul ketika kanker sudah memasuki stadium 2 atau lebih. Keputihan yang berulang meski telah diobati, juga postcoital bleeding (pendarahan pasca senggama), kerap menjadi gejala yang dirasakan—meski tidak selalu merujuk pada kanker serviks.
Baca Juga : Modifikasi Gaya Hidup Kontrol Penyakit Radang Usus Kronis
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kanker serviks diantaranya menikah di usia muda (15 – 20 tahun), di mana pada masa ini masih terjadi perubahan sel (metaplasia) di mulut rahim, berganti-ganti pasangan seksual, infeksi gonorhea (kencing nanah), sifilis, herpes , atau HIV, mengonsumsi pil KB kombinasi dapat memicu perkembangan HPV, tapi tidak menyebabkan timbulnya HPV, dan kekurangan vitamin C, D, E, asam folat, dan mineral.
Skrining menjadi hal yang penting dilakukan untuk terhindar dari kanker serviks.
Sejak aktif berhubungan seksual, pemeriksaan setiap tahun diperlukan untuk memantau kondisi organ kewanitaan. Saat ini, terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mendeteksi lesi pra-kanker.
Seperti Tes IVA yang merupakan metode pemeriksaan yang paling mudah, murah, mampu laksana di Indonesia. Mulut rahim dibalur dengan asam cuka (25 persen) kemudian reaksi yang terjadi dianalisa.
Baca Juga : Modifikasi Gaya Hidup Kontrol Penyakit Radang Usus Kronis
Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kanker serviks diantaranya menikah di usia muda (15 – 20 tahun), di mana pada masa ini masih terjadi perubahan sel (metaplasia) di mulut rahim, berganti-ganti pasangan seksual, infeksi gonorhea (kencing nanah), sifilis, herpes , atau HIV, mengonsumsi pil KB kombinasi dapat memicu perkembangan HPV, tapi tidak menyebabkan timbulnya HPV, dan kekurangan vitamin C, D, E, asam folat, dan mineral.
Skrining menjadi hal yang penting dilakukan untuk terhindar dari kanker serviks.
Sejak aktif berhubungan seksual, pemeriksaan setiap tahun diperlukan untuk memantau kondisi organ kewanitaan. Saat ini, terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mendeteksi lesi pra-kanker.
Seperti Tes IVA yang merupakan metode pemeriksaan yang paling mudah, murah, mampu laksana di Indonesia. Mulut rahim dibalur dengan asam cuka (25 persen) kemudian reaksi yang terjadi dianalisa.
Lihat Juga :