Modifikasi Gaya Hidup Kontrol Penyakit Radang Usus Kronis
Jum'at, 22 Januari 2021 - 00:45 WIB
loading...
Radang usus kronis dapat mereda jika menjalani pengobatan dan modifikasi gaya hidup dengan pola makan yang sesuai serta berolahraga. Foto Ilustrasi/The Pharmacy
A
A
A
JAKARTA - Dalam praktiknya, pengobatan penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau disebut juga peradangan usus kronis, sangatlah dinamis karena proses penyakitnya yang juga dinamis. Artinya di satu waktu IBD dapat terkontrol dengan obat serta diet, namun di waktu lain penyakit tersebut dapat mengalami kekambuhan.
Para dokter memiliki berbagai macam pilihan pengobatan walaupun beberapa obat seperti agen biologik tak dapat diakses secara luas karena tidak ditanggung jaminan kesehatan nasional (JKN).
Baca Juga: 20%-85% Pasien Radang Usus Kronis Alami Malnutrisi
“Kadang pasien kami memerlukan kombinasi 2 obat untuk mengontrol radang usus yang terjadi. Beberapa juga memerlukan operasi untuk membuang bagian usus yang mengalami peradangan,” tutur dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI.
Pada dasarnya, kesulitan pertama yang paling sering dihadapi adalah memastikan diagnosis pada pasien tersebut apakah IBD atau radang usus yang disebabkan infeksi lain. Kesulitan kedua yang juga paling sering dihadapi adalah terbatasnya akses pasien terhadap agen biologik karena masalah biaya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa agen biologik memiliki manfaat yang besar terutama pada pasien IBD dengan derajat keparahan sedang dan berat.
Para dokter memiliki berbagai macam pilihan pengobatan walaupun beberapa obat seperti agen biologik tak dapat diakses secara luas karena tidak ditanggung jaminan kesehatan nasional (JKN).
Baca Juga: 20%-85% Pasien Radang Usus Kronis Alami Malnutrisi
“Kadang pasien kami memerlukan kombinasi 2 obat untuk mengontrol radang usus yang terjadi. Beberapa juga memerlukan operasi untuk membuang bagian usus yang mengalami peradangan,” tutur dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI.
Pada dasarnya, kesulitan pertama yang paling sering dihadapi adalah memastikan diagnosis pada pasien tersebut apakah IBD atau radang usus yang disebabkan infeksi lain. Kesulitan kedua yang juga paling sering dihadapi adalah terbatasnya akses pasien terhadap agen biologik karena masalah biaya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa agen biologik memiliki manfaat yang besar terutama pada pasien IBD dengan derajat keparahan sedang dan berat.
Lihat Juga :