Pentingnya Stimulasi Dini pada Anak agar Tak Alami Fase Penghapusan Sel Otak
Kamis, 18 Februari 2021 - 16:26 WIB
loading...
Setiap anak lahir dengan jumlah sel otak yang sangat banyak. Foto Ilustrasi/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Di masa pandemi banyak orangtua memilih menunda memasukkan anak mereka ke sekolah jenjang PAUD . Padahal, pendidikan pada anak di usia sedini mungkin sangat penting untuk menstimulasi seluruh sel otaknya sehingga kelak si kecil menjadi manusia dewasa yang cerdas seutuhnya.
Menurut Guru Besar Bidang Gizi dan Pangan sekaligus Pakar PAUD Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si, setiap anak lahir dengan jumlah sel otak yang sangat banyak. Sel-sel inilah yang harus "dihubungkan" agar berkembang optimal melalui stimulasi maupun pendidikan yang diajarkan orangtua atau guru kepada si kecil.
Baca Juga: Kenali Enam Gejala Darurat dari Hipertensi yang Mematikan
"Setiap manusia lahir ke dunia dengan seluruh sel otak yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 triliun, tergantung dari kualitas kehamilan. Namun, sel itu baru dapat berfungsi hanya dengan stimulasi," kata Prof. Netti dalam webinar bertema “Bangkit & Menghebat di Era New Normal yang digagas Baby Happy, belum lama ini.
Para orangtua khususnya ibu, kata Prof. Netti, harus memahami bahwa usia 0-2 tahun merupakan masa krusial bagi anak. Pada fase tersebut, apabila sel otak si kecil tidak tersambung atau terstimulasi dengan baik, maka akan terjadi fase penghapusan sel otak atau yang lebih dikenal dengan istilah "use it or loose it".
"Hal itu ditentukan oleh kualitas dan kuantitas stimulasi karena setiap detik terjadi 1,684 juta sambungan sel otak. Sedangkan untuk kualitas stimulasi terkait pada aspek perkembangan atas apa saja yang distimulasikan pada anak dengan cara yang tepat atau tidak,” jelas Prof. Netti.
Untuk itu, orangtua harus memperhatikan beberapa hal demi keberhasilan keberlangsungan pendidikan anak usia dini.
Menurut Guru Besar Bidang Gizi dan Pangan sekaligus Pakar PAUD Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si, setiap anak lahir dengan jumlah sel otak yang sangat banyak. Sel-sel inilah yang harus "dihubungkan" agar berkembang optimal melalui stimulasi maupun pendidikan yang diajarkan orangtua atau guru kepada si kecil.
Baca Juga: Kenali Enam Gejala Darurat dari Hipertensi yang Mematikan
"Setiap manusia lahir ke dunia dengan seluruh sel otak yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 triliun, tergantung dari kualitas kehamilan. Namun, sel itu baru dapat berfungsi hanya dengan stimulasi," kata Prof. Netti dalam webinar bertema “Bangkit & Menghebat di Era New Normal yang digagas Baby Happy, belum lama ini.
Para orangtua khususnya ibu, kata Prof. Netti, harus memahami bahwa usia 0-2 tahun merupakan masa krusial bagi anak. Pada fase tersebut, apabila sel otak si kecil tidak tersambung atau terstimulasi dengan baik, maka akan terjadi fase penghapusan sel otak atau yang lebih dikenal dengan istilah "use it or loose it".
"Hal itu ditentukan oleh kualitas dan kuantitas stimulasi karena setiap detik terjadi 1,684 juta sambungan sel otak. Sedangkan untuk kualitas stimulasi terkait pada aspek perkembangan atas apa saja yang distimulasikan pada anak dengan cara yang tepat atau tidak,” jelas Prof. Netti.
Untuk itu, orangtua harus memperhatikan beberapa hal demi keberhasilan keberlangsungan pendidikan anak usia dini.
Lihat Juga :