Pentingnya Stimulasi Dini pada Anak agar Tak Alami Fase Penghapusan Sel Otak
Kamis, 18 Februari 2021 - 16:26 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Prof. Netti, anak sedari dini harus dilatih berpikir kritis atau “critical thinking”. Apalagi di era digital saat ini, di mana ada banyak sekali informasi yang terserap sehingga anak harus dilatih untuk memilah informasi mana yang berguna dan mana yang tidak.
Baca Juga: Masalah Kulit Ini Sering Muncul saat Pandemi, Bagaimana Mengatasinya?
Selain itu, anak juga harus dilatih untuk berpikir kreatif serta mengembangkan kemampuan kognitif supaya memiliki daya juang lebih, terlebih di era pandemi seperti sekarang. Yang tak kalah penting, ujar Prof. Netti, adalah pemberian "nutrisi hati" pada anak agar ia tidak memiliki trauma atau luka masa kecil yang bisa dibawa hingga dewasa. Makanya, para orangtua harus paham pola komunikasi yang baik dan benar dengan si kecil, karena itu juga merupakan aspek stimulasi yang penting pada anak usia dini.
“Jadi jangan takut untuk mulai mendaftarkan anak pada fasilitas pendidikan sejak usia 2 tahun, sedini mungkin agar dapat mengembangkan karakter dan life skill. Guru dapat membuat rencana kegiatan pembelajaran, lalu orangtua mengimplementasikan rencana kegiatan itu dari rumah,” pungkas Prof. Netti.
Baca Juga: Masalah Kulit Ini Sering Muncul saat Pandemi, Bagaimana Mengatasinya?
Selain itu, anak juga harus dilatih untuk berpikir kreatif serta mengembangkan kemampuan kognitif supaya memiliki daya juang lebih, terlebih di era pandemi seperti sekarang. Yang tak kalah penting, ujar Prof. Netti, adalah pemberian "nutrisi hati" pada anak agar ia tidak memiliki trauma atau luka masa kecil yang bisa dibawa hingga dewasa. Makanya, para orangtua harus paham pola komunikasi yang baik dan benar dengan si kecil, karena itu juga merupakan aspek stimulasi yang penting pada anak usia dini.
“Jadi jangan takut untuk mulai mendaftarkan anak pada fasilitas pendidikan sejak usia 2 tahun, sedini mungkin agar dapat mengembangkan karakter dan life skill. Guru dapat membuat rencana kegiatan pembelajaran, lalu orangtua mengimplementasikan rencana kegiatan itu dari rumah,” pungkas Prof. Netti.
(tsa)
Lihat Juga :