Review Film Flora & Ulysses

loading...
Review Film Flora & Ulysses
Flora & Ulysses adalah film yang cukup menghibur dengan aksi-aksi serunya dan ceritanya. Namun, film ini berjalan datar tanpa banyak lonjakan emosi di dalamnya. (Disneyplus)
Film superhero tak melulu tentang kekuatan otot atau kekuatan supranatural dalam menghadapi musuhnya. Superhero pun tak melulu berbentuk manusia atau alien. Ada kalanya, dia muncul dalam bentuk makhluk lain, seperti hewan misalnya. Ini pula yang akan tampil di film Flora & Ulysses.

Flora & Ulysses merupakan film original Disney+. Artinya, film ini tidak akan tayang di bioskop tapi bisa di-streaming di rumah lewat layanan Disney+ Hotstar. Film yang mulai bisa dinikmati mulai hari ini, Jumat (19/2) ini berdurasi 95 menit.

Film besutan Lena Khan ini diangkat dari novel anak-anak berjudul sama. Flora & Ulysses berkisah tentang Flora (Matilda Lawler) yang tinggal bersama ibunya, Phyllis Buckman (Alyson Hannigan), seorang penulis novel romantis. Kehidupan Flora berubah sejak ayahnya, George Buckman (Ben Schwartz), seorang pembuat komik, pisah rumah dengan ibunya. Dia merasa tanpa kehadiran ayahnya, ibunya tidak lagi produktif atau terinspirasi menulis novel. Sementara, dia pun kesepian. Selama ini, dia terbiasa membaca dan mengagumi komik buatan ayahnya yang tak laku dijual.

Suatu hari, Flora membantu tetangganya yang kewalahan dengan mesin pemotong rumput barunya. Mesin itu tidak terkendali dan “melahap” sesekor tupai yang jatuh dari pohon. Flora menyelamatkan tupai itu dan menamainya Ulysses. Dia percaya jika tupai itu bukanlah tupai sembarangan. Ulysses pun membuktikan diri kalau dia memang punya kekuatan super. Kehadiran Ulysses membuat hari-hari Flora menjadi lebih bahagia.



Flora & Ulysses merupakan sebuah film sederhana tentang kekuatan ikatan keluarga. Film ini diawali dengan runtuhnya sebuah rumah tangga karena ego dan juga hal lainnya. Hal tersebut nyaris membuat anak mereka menderita. Akibatnya, dia merasa kesepian dan mencari pengalihan.

Di diri Flora, dia mendapatkannya dari tumpukan komik-komik superhero kesukaannya. Namun, salah satu yang paling dia sukai adalah komik superhero buatan ayahnya yang tak laku dijual. Baginya, dunia superhero memberinya harapan bahwa masih ada orang yang memperjuangkannya dan menemaninya. Kehadiran Ulysses membuat harapan itu kian tinggi. Bagi Flora, Ulysses adalah superheronya di dunia nyata. Dia datang ketika dia benar-benar membutuhkan seseorang dalam hidupnya.

Sepanjang 95 menit, film ini juga menyuguhkan aksi-aksi konyol yang terjadi antara para pemerannya dan tentu saja, Ulysses. Tupai merah ini melakukan banyak aksi seru dari bergelayutan, melompat ke sana sini, sampai memamerkan kepiawaiannya melakukan superhero landing. Adegan ini sudah sering menjadi meme di media sosial.



Tak banyak drama menyentuh atau adegan yang sangat mengocok perut di film ini. Walaupun banyak aksi kejar-kejaran atau kucing-kucingan, tapi semuanya terasa biasa saja. Vibe-nya dari awal sampai akhir film pun terasa datar. Tak banyak gejolak emosi yang dimainkan di film ini.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top