Mengenal Sindrom Stendhal, Gangguan Fisik dan Mental yang Disebabkan Keindahan Karya Seni

loading...
Mengenal Sindrom Stendhal, Gangguan Fisik dan Mental yang Disebabkan Keindahan Karya Seni
Kondisi psikosomatis bisa terjadi ketika seseorang terpapar benda, karya seni, atau fenomena keindahan yang luar biasa. Foto/Comstock/Getty Images
JAKARTA - Sindrom Stendhal adalah kondisi psikosomatis yang melibatkan detak jantung yang cepat, pingsan, kebingungan, dan bahkan halusinasi. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terpapar benda, karya seni , atau fenomena keindahan yang luar biasa.

Sekitar dua tahun lalu, seorang pria pernah mengalami serangan jantung ketika mengagumi lukisan terkenal dari seniman Renaissance Sandro Botticelli, The Birth of Venus di Galeri Uffizi, di Florence, Italia. Keindahan luar biasa dari karya seni tersebut telah menyebabkan serangan jantung.

Meski tampak aneh, ada sejarah yang cukup panjang di balik anggapan bahwa seni bisa begitu membebani hingga menyebabkan penyakit fisik. Sindrom Stendhal, istilah yang diciptakan oleh Graziella Magherini, psikiater Italia pada 1989.

Baca Juga: 3 Kelompok Orang yang Punya Risiko Tertinggi Sebarkan COVID-19

Anekdot yang menggambarkan efek hebat dari karya seni luar biasa pada manusia, berasal dari setidaknya abad ke-19. Magherini pertama kali menggambarkan fenomena ini dalam sebuah buku yang dia terbitkan pada 1989, berjudul La Sindrome di Stendhal (The Stendhal Syndrome).



Nama tersebut berdasarkan sebuah episode yang dijelaskan oleh penulis Prancis, Stendhal, dalam memoar perjalanannya ke Naples dan Florence: A Journey from Milan to Reggio, tentang perjalanan yang dia lakukan melalui Italia pada 1817.

Rasa kagum yang dialami karena berada di dekat begitu banyak monumen bersejarah dan seni yang mengesankan diduga membuat jantung penulis berdebar-debar dan menjadikannya pingsan.

Seorang profesor dan pembaca buku tersebut di School of Modern Languages and Cultures di University of Warwick di Coventry, Inggris Raya, Dr. Fabio Camilletti menjelaskan bahwa sindrom stendhal dapat didefinisikan sebagai respons psikosomatis (mental dan fisik) yang dialami saat menghadapi keindahan estetika tetapi bukan kecantikan alami.

Dalam penelitian aslinya, Dr. Magherini mengidentifikasi tiga jenis gejala utama pada orang yang menderita sindrom stendhal. Di antaranya persepsi suara atau warna yang berubah, serta rasa cemas, bersalah, atau penganiayaan yang meningkat, kecemasan depresi, rasa tidak mampu, atau, sebaliknya, rasa euforia atau serangan panik dan gejala fisiologis dari kecemasan yang meningkat seperti nyeri dada.

“Pada titik tertentu, beberapa (anggota kelompok belajar kami) mulai memperhatikan orang asing yang datang ke Florence untuk wisata seni, dan yang, pada suatu saat, telah meninggalkan rumah mereka, negara asal mereka. Saat berada di gereja atau di museum, atau di dalam transportasi umum, atau di jembatan mulai mengalami gejala psikologis disamarkan sebagai masalah fisik, seperti masalah jantung," kata Magherini, seperti dilansir dari Medical News Today, Senin (8/3).



"Faktanya, ini hanyalah serangan panik yang disebabkan oleh dampak psikologis dari sebuah karya seni yang mereka temui selama perjalanan," lanjutnya.

Baca Juga: Proses Cepat dan Minim Pendarahan, tapi Awas Sunat Laser Lebih Berisiko

Magherini melanjutkan, sindrom ini memengaruhi terutama individu yang sangat sensitif yang menjadi lebih mudah terpengaruh oleh objek seni yang mereka temui saat berada di luar negeri, dalam konteks asing. Tidak ada bukti ilmiah untuk mendefinisikan sindrom Stendhal sebagai gangguan kejiwaan tertentu. Namun, ada bukti bahwa area otak yang sama yang terlibat dalam respons emosional diaktifkan selama paparan seni.

Sindrom ini tidak terdaftar sebagai kondisi yang dikenali dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental.
(tsa)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top