Kiprah Komunitas Pecinta Kain Kembalikan Jati Diri Bangsa
Selasa, 09 Maret 2021 - 16:09 WIB
loading...
Dua perempuan pecinta kain Nusantara (ki-ka) Dyah Sudiro dan Sita Hanimastuty. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Memakai kain dalam keseharian di zaman modern seperti sekarang mungkin dianggap tidak populer bahkan kuno. Padahal jenis wastra Nusantara ini wajib dilestarikan, salah satunya dengan selalu dipakai di kehidupan kita sehari-hari.
Di era global seperti saat ini, budaya luar negeri dapat dengan mudah masuk ke Indonesia melalui internet maupun media massa. Bila gempuran budaya asing itu terus-menerus diserap, dikhawatirkan akan berdampak pada hilangnya budaya asli Indonesia. Salah satunya berupa kain dengan motif serta teknik pembuatan yang khas Nusantara.
Baca Juga: Keren, Brand Kami Pamerkan Koleksi Baju Rumah Bernama Darla
Untuk mengantisipasi hal itulah Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) didirikan oleh sejumlah pegiat serta pejuang estetika dan budaya dalam negeri pada tujuh tahun lalu. Komunitas yang beranggotakan para ibu dan perempuan tangguh ini terus berkiprah memberikan harapan baru atas kecintaan mereka pada budaya berkain Nusantara yang kini mulai digandrungi kaum milenial.
Tidak hanya itu, mereka juga turut melestarikan budaya berkain hampir di seluruh pelosok Nusantara. Sebab, komunitas ini menilai, masih ada sebagian besar wanita Indonesia yang ketika berbusana resmi belom mencerminkan etika ketimuran, bahkan sudah terkontaminasi budaya impor.
Pada momen ulang tahun KCBI yang ke-7 hari ini, 9 Maret, sang Ketua Umum Sita Hanimastuty mengatakan, sebagai pelopor pegiat cinta berkain Nusantara, pihaknya telah menancapkan kiprah bukan hanya di Indonesia, tapi juga tersosialisasi hingga ke luar negeri seperti di Perth Australia, San Francisco Amerika serikat, dan menyusul ke beberapa negara di Eropa.
Sementara itu, Ketua I KCBI Dyah Sudiro menyampaikan, kegiatan mensosialisasikan kebiasaan berkain adalah bentuk tanggung jawab estetika dan budaya kaum perempuan untuk menunjukkan jati diri bangsa.
Di era global seperti saat ini, budaya luar negeri dapat dengan mudah masuk ke Indonesia melalui internet maupun media massa. Bila gempuran budaya asing itu terus-menerus diserap, dikhawatirkan akan berdampak pada hilangnya budaya asli Indonesia. Salah satunya berupa kain dengan motif serta teknik pembuatan yang khas Nusantara.
Baca Juga: Keren, Brand Kami Pamerkan Koleksi Baju Rumah Bernama Darla
Untuk mengantisipasi hal itulah Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) didirikan oleh sejumlah pegiat serta pejuang estetika dan budaya dalam negeri pada tujuh tahun lalu. Komunitas yang beranggotakan para ibu dan perempuan tangguh ini terus berkiprah memberikan harapan baru atas kecintaan mereka pada budaya berkain Nusantara yang kini mulai digandrungi kaum milenial.
Tidak hanya itu, mereka juga turut melestarikan budaya berkain hampir di seluruh pelosok Nusantara. Sebab, komunitas ini menilai, masih ada sebagian besar wanita Indonesia yang ketika berbusana resmi belom mencerminkan etika ketimuran, bahkan sudah terkontaminasi budaya impor.
Pada momen ulang tahun KCBI yang ke-7 hari ini, 9 Maret, sang Ketua Umum Sita Hanimastuty mengatakan, sebagai pelopor pegiat cinta berkain Nusantara, pihaknya telah menancapkan kiprah bukan hanya di Indonesia, tapi juga tersosialisasi hingga ke luar negeri seperti di Perth Australia, San Francisco Amerika serikat, dan menyusul ke beberapa negara di Eropa.
Sementara itu, Ketua I KCBI Dyah Sudiro menyampaikan, kegiatan mensosialisasikan kebiasaan berkain adalah bentuk tanggung jawab estetika dan budaya kaum perempuan untuk menunjukkan jati diri bangsa.
Lihat Juga :