KFI dan IGI Angkat Hidden Hunger di Lokakarya Internasional
Kamis, 25 Maret 2021 - 19:16 WIB
loading...
A
A
A
Keynote speech dari lokakarya internasioal ini disampaikan dan sekaligus dibuka Menteri Kesehatan, Ir. Budi Gunadi Sadikin yang diwakili drg. Kartini Rustandi MKes, Pelaksana Tugas Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Ketua Akademi Ilmu Pengetahun Indoneia Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, PhD menyampaikan pidato bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi, termasuk ilmu pengetahuan gizi, harus merupakan fondasi formulasi kebijakan yang berdasarkan bukti, bagi pengembangan kualitas manusia sebagai landasan peradaban manusia.
Salah satu pembicara utama di hari pertama, Prof. Dr. Sangkot Marzuki, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia pada periode sebelumnya dan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia serta Ketua Dewan Pakar IGI, menjelaskan tentang sejarah vitamin di Indonesia yang luar biasa. Setelah itu, diikuti presentasi oleh dua professor dari the Johns Hopkins University, yakni Prof Keith P. West Dr.PH, and Dr. Klaus Kraemer, dan juga dari Oxford University, Dr. Anuraj Shangkar, serta Dr. Clayton Ajello, dari humanitarian/micronutrient forum dan juga anggota the MMS Task Force.
Pada hari kedua, lokakarya diisi oleh pembicara yang di antaranya adalah tiga Penerima Penghargaan Pangan Dunia. Mereka adalah Dr. David Nabarro, Utusan Khusus WHO Director General on Covid-19 dan Advisory Committee Member of the UN Food System Summit yang juga adalah Pemegang World Food Prize Laurate 2018 yang berbicara tentang SDGs, sistem pangan, juga pentingnya asupan gizi yang baik pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Baca juga: Selain Jaga Kecantikan Kulit, Minuman Salmon Kolagen Juga Bisa Atasi Insomnia
Berikutnya adalah Howarth Bouis, PhD, Pemegang World Food Prize Laureates 2016, dan pendiri serta mantan Direktur HarvestPlus Washington, yang memimpin team penelitian penemuan teknologi biofortikasi. Kemudian, Lawrence Haddad, PhD, Direktur Eksekutif GAIN, Co-chair Global Nutrition Report dan Pemegang World Food Prize Laureates 2018. Selanjutnya, Erick Boy, PhD, Direktur Gizi dari Harvestplus, Washington, memberikan penjelasan tentang Dasar Riset Gizi, bukti bagi Biofortifikasi Makanan Pokok.
Salah satu pembicara utama di hari pertama, Prof. Dr. Sangkot Marzuki, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia pada periode sebelumnya dan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia serta Ketua Dewan Pakar IGI, menjelaskan tentang sejarah vitamin di Indonesia yang luar biasa. Setelah itu, diikuti presentasi oleh dua professor dari the Johns Hopkins University, yakni Prof Keith P. West Dr.PH, and Dr. Klaus Kraemer, dan juga dari Oxford University, Dr. Anuraj Shangkar, serta Dr. Clayton Ajello, dari humanitarian/micronutrient forum dan juga anggota the MMS Task Force.
Pada hari kedua, lokakarya diisi oleh pembicara yang di antaranya adalah tiga Penerima Penghargaan Pangan Dunia. Mereka adalah Dr. David Nabarro, Utusan Khusus WHO Director General on Covid-19 dan Advisory Committee Member of the UN Food System Summit yang juga adalah Pemegang World Food Prize Laurate 2018 yang berbicara tentang SDGs, sistem pangan, juga pentingnya asupan gizi yang baik pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Baca juga: Selain Jaga Kecantikan Kulit, Minuman Salmon Kolagen Juga Bisa Atasi Insomnia
Berikutnya adalah Howarth Bouis, PhD, Pemegang World Food Prize Laureates 2016, dan pendiri serta mantan Direktur HarvestPlus Washington, yang memimpin team penelitian penemuan teknologi biofortikasi. Kemudian, Lawrence Haddad, PhD, Direktur Eksekutif GAIN, Co-chair Global Nutrition Report dan Pemegang World Food Prize Laureates 2018. Selanjutnya, Erick Boy, PhD, Direktur Gizi dari Harvestplus, Washington, memberikan penjelasan tentang Dasar Riset Gizi, bukti bagi Biofortifikasi Makanan Pokok.
(nug)
Lihat Juga :