KFI dan IGI Angkat Hidden Hunger di Lokakarya Internasional

loading...
KFI dan IGI Angkat Hidden Hunger di Lokakarya Internasional
Sekitar 2 miliar orang mengalami kekurangan vitamin dan mineral di dalam makanan mereka, yang itu berdampak pada tingginya angka kematian balita. / Foto: ilustrasi/ ist
JAKARTA - Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) dan Institut Gizi Indonesia (IGI) menggelar lokakarya internasional secara virtual tentang masalah gizi mikro global dan nasional. Masalah gizi tersebut adalah defisiensi zat gizi mikro, khususnya zat besi, iodium, seng/zinc, vitamin A dan asam Folat, yang secara global dikenal sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi.

Baca juga: Biang Kerok Permasalahan Rumah Tangga Aldebaran-Andin Ikutan Cover Lagu TBW

Menurut Global Hunger Index dan WHO, kira-kira 2 miliar orang mengalami kekurangan vitamin dan mineral di dalam makanan mereka, yang antara lain berdampak pada tingginya angka kematian balita karena sebagian besar terkait dengan kekurangan besi, vitamin A dan seng. Mereka yang berhasil hidup, sebagian besar mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan intelektual, yang disebut stunting. Anak di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mengalami stunting, sekitar 30 persennya disebabkan oleh masalah kekurangan gizi mikro kronis. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga miskin.

Ada dua pendekatan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi mikro dalam situasi di mana konsumsi makanan tidak dapat mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral. Pertama adalah pendekatan berbasis pangan dengan Fortifikasi makanan dan biofortifikasi, dan bantuan pangan atau suplemen. Kedua adalah pendekatan berbasis non-pangan dengan menggunakan suplementasi pil/kapsul vitamin dan mineral.



Sementara lokakarya ini mendiskusikan kedua pendekatan tersebut, tidak hanya dalam kaitannya terhadap penurunan stunting tetapi juga tentang manfaatnya terhadap vaksinasi Covid-19. Sebanyak 20 pembicara internasional dan nasional yang kepakarannya dalam bidang gizi, pangan dan kesehatan masyarakat sudah sangat dikenal, menyampaikan presentasi dan pendapatnya mengenai kedua pendekatan dalam dua hari lokakarya.

Tema lokakarya yang diangkat adlaah Gizi mikro sebagai Strategi Tandem dalam Pemberian Vaksinasi COVID-19 dan Peningkatan Penurunan Stunting: Peranan Suplementasi Gizi Mikro Multiple dan Fortifikasi Pangan (Micronutrient as a Strategic Tandem of Covid-19 Vaccination and Acceleration of Stunting Reduction; the Role of Multi-micronutrient Supplementation and Food Fortification).

Tujuan lokakarya ini adalah mendukung pembuat kebijakan di pemerintah dan industri tentang pentingnya mewajibkan fortifikasi makanan bagi kesehatan dan kesejahteraan orang miskin, khususnya kehidupan di 1.000 hari pertama kehidupan untuk generasi masa depan dan untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih baik.



Keynote speech dari lokakarya internasioal ini disampaikan dan sekaligus dibuka Menteri Kesehatan, Ir. Budi Gunadi Sadikin yang diwakili drg. Kartini Rustandi MKes, Pelaksana Tugas Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Ketua Akademi Ilmu Pengetahun Indoneia Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, PhD menyampaikan pidato bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi, termasuk ilmu pengetahuan gizi, harus merupakan fondasi formulasi kebijakan yang berdasarkan bukti, bagi pengembangan kualitas manusia sebagai landasan peradaban manusia.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top