Terdapat Kasus Gizi Buruk, Kesehatan Anak-Anak Baduy Masih Perlu Perhatian
Jum'at, 11 Juni 2021 - 19:07 WIB
loading...
A
A
A
"Di Ciboleger, kami melihat rutinitas pagi beberapa keluarga. Ibu menyiapkan sarapan, ubi, singkong, pisang goreng dengan teh dan anak-anak mulai dari balita hingga usia sekolah minum susu atau sereal instan. Nah ini yang jadi perhatian kami, susu yang dikonsumsi anak adalah susu kental manis atau yang biasa mereka sebut kaleng, dan juga minuman instan lainnya seperti sereal kemasan, dan mereka anggap sudah terpenuhi gizinya," jelas R. Marnie, ketua bidang advokasi KOPMAS yang rutin melakukan edukasi bagi masyarakat Baduy, melalui keterangan resminya, Jumat (11/6).
Pemandangan serupa pun ditemui di perkampungan lainnya, seperti Ciemes dan Cibeo. Bahkan di kedua kampung ini, susu kaleng sudah menjadi minuman anak bahkan sejak masih di periode ASI. "Karena kan ada tukang dagang yang bawa masuk, katanya susu buat anak. Juga bisa beli di warung-warung di Ciboleger kalau lagi keluar," ujar salah satu ibu warga Baduy dalam yang anaknya telah mengonsumsi kental manis sejak masih bayi.
Disampaikan Marnie, beberapa tahun terakhir, dia mengamati telah terjadi banyak perubahan baik di Baduy Dalam maupun Baduy Luar. "Secara nilai-nilai yang dianut, memang masih terjaga hingga saat ini. Masyarakat Baduy masih berpegang pada pikukuh adat, ini tidak banyak komunitas adat yang bisa mempertahankan. Namun memang, kita tidak dapat pungkiri pengaruh teknologi, bagaimanapun tidak kita hindari," beber Marni.
Marni menceritakan, Baduy adalah masyarakat yang identik dengan hidup tanpa teknologi. Bahkan hingga saat ini, mereka masih bertahan tanpa listrik. Namun perubahan yang terlihat oleh Marnie adalah keberadaan televisi, gadget dan peranan media sosial dalam kehidupan.
"Betul di dalam rumah masyarakat Baduy mereka tidak memiliki TV dan handphone. Tapi pada saat mereka keluar, mereka menonton TV dan menggunakan sosial media. Masyarakat Kedu Ketug yang sangat dekat dengan Ciboleger, sekarang sudah terbiasa menonton TV di malam hari. Mereka menonton di rumah-rumah warga di luar perkampungan Baduy," jelas Marni.
Pemandangan serupa pun ditemui di perkampungan lainnya, seperti Ciemes dan Cibeo. Bahkan di kedua kampung ini, susu kaleng sudah menjadi minuman anak bahkan sejak masih di periode ASI. "Karena kan ada tukang dagang yang bawa masuk, katanya susu buat anak. Juga bisa beli di warung-warung di Ciboleger kalau lagi keluar," ujar salah satu ibu warga Baduy dalam yang anaknya telah mengonsumsi kental manis sejak masih bayi.
Disampaikan Marnie, beberapa tahun terakhir, dia mengamati telah terjadi banyak perubahan baik di Baduy Dalam maupun Baduy Luar. "Secara nilai-nilai yang dianut, memang masih terjaga hingga saat ini. Masyarakat Baduy masih berpegang pada pikukuh adat, ini tidak banyak komunitas adat yang bisa mempertahankan. Namun memang, kita tidak dapat pungkiri pengaruh teknologi, bagaimanapun tidak kita hindari," beber Marni.
Marni menceritakan, Baduy adalah masyarakat yang identik dengan hidup tanpa teknologi. Bahkan hingga saat ini, mereka masih bertahan tanpa listrik. Namun perubahan yang terlihat oleh Marnie adalah keberadaan televisi, gadget dan peranan media sosial dalam kehidupan.
"Betul di dalam rumah masyarakat Baduy mereka tidak memiliki TV dan handphone. Tapi pada saat mereka keluar, mereka menonton TV dan menggunakan sosial media. Masyarakat Kedu Ketug yang sangat dekat dengan Ciboleger, sekarang sudah terbiasa menonton TV di malam hari. Mereka menonton di rumah-rumah warga di luar perkampungan Baduy," jelas Marni.
Lihat Juga :