Musik dan Menyanyi Bisa Jadi Terapi COVID-19? Begini Penjelasan Pakar
Senin, 19 Juli 2021 - 10:30 WIB
loading...
A
A
A
"Inilah sebabnya latihan seperti yoga dan meditasi sangat fokus pada latihan pernapasan. Pernapasan yang terkontrol diperlukan juga saat bernyanyi atau memainkan harmonika dan ini terbukti memperbaiki pernapasan seseorang. Artinya napasnya bisa lebih panjang," sambung Block.
Terapi harmonika sendiri digunakan oleh Block untuk pasien PPOK. "Alat musik itu mengajarkan di level mana napas mereka ada dan dengan begitu dapat lebih baik penanganannya," ujar dia.
Pasien dengan gangguan pernapasan biasanya diberikan spirometer insentif, semacam perangkat alat medis untuk membantu mereka melatih paru-paru. Block menilai, terapi menyanyi bekerja dengan cara serupa dengan alat medis tersebut secara teknis.
"Spirometer insentif maupun bernyanyi atau memainkan alat musik tiup telah dikaitkan dengan tidur yang lebih baik, sesak napas yang terkendali, dan suasana hati yang lebih baik," kata Joanne Loewy, Direktur Pusat Musik dan Kedokteran Louis Armstrong di Sistem Kesehatan Mount Sinai, New York.
Loewy sendiri adalah pemimpin paduan suara pasien pulih dari stroke. "Kami terus mencari cara untuk membantu orang tetap baik dengan musik," ujarnya.
Baca Juga: 36,4 Persen Masyarakat Indonesia Enggan Divaksinasi Covid-19, Ternyata Ini Alasannya!
Dan kini para peneliti tengah mempelajari apakah terapi musik atau bermain alat musik dapat diterapkan juga untuk pasien COVID-19. Studi yang tengah dijalankan terkait ini dilakukan di Inggris dengan nama ENO Breathe.
Dalam penelitian itu, 12 peserta dilibatkan untuk belajar latihan pernapasan dan nyanyian berdasarkan teknik penyanyi profesional. Pada akhir uji coba, peserta melaporkan peningkatan sistem pernapasan dan penurunan kecemasan.
Terapi harmonika sendiri digunakan oleh Block untuk pasien PPOK. "Alat musik itu mengajarkan di level mana napas mereka ada dan dengan begitu dapat lebih baik penanganannya," ujar dia.
Pasien dengan gangguan pernapasan biasanya diberikan spirometer insentif, semacam perangkat alat medis untuk membantu mereka melatih paru-paru. Block menilai, terapi menyanyi bekerja dengan cara serupa dengan alat medis tersebut secara teknis.
"Spirometer insentif maupun bernyanyi atau memainkan alat musik tiup telah dikaitkan dengan tidur yang lebih baik, sesak napas yang terkendali, dan suasana hati yang lebih baik," kata Joanne Loewy, Direktur Pusat Musik dan Kedokteran Louis Armstrong di Sistem Kesehatan Mount Sinai, New York.
Loewy sendiri adalah pemimpin paduan suara pasien pulih dari stroke. "Kami terus mencari cara untuk membantu orang tetap baik dengan musik," ujarnya.
Baca Juga: 36,4 Persen Masyarakat Indonesia Enggan Divaksinasi Covid-19, Ternyata Ini Alasannya!
Dan kini para peneliti tengah mempelajari apakah terapi musik atau bermain alat musik dapat diterapkan juga untuk pasien COVID-19. Studi yang tengah dijalankan terkait ini dilakukan di Inggris dengan nama ENO Breathe.
Dalam penelitian itu, 12 peserta dilibatkan untuk belajar latihan pernapasan dan nyanyian berdasarkan teknik penyanyi profesional. Pada akhir uji coba, peserta melaporkan peningkatan sistem pernapasan dan penurunan kecemasan.
(tsa)
Lihat Juga :