Ini yang Terjadi Jika Penderita Asma Terinfeski Covid-19
Jum'at, 06 Agustus 2021 - 10:20 WIB
loading...
Ini yang Terjadi Jika Penderita Asma Terinfeski Covid-19. Foto/Healthline.
A
A
A
JAKARTA - Penderita asma merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah saat terinfeksi Covid-19 . Bagi penderita asma, infeksi virus dapat menyebabkan serangan asma, radang paru-paru, atau penyakit paru-paru serius lainnya.
Covid-19 bisa menyebabkan sesak napas lantaran paru-paru yang mengalami peradangan. Jika peradangan sudah terjadi sebelumnya, Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona akan menyebabkan peradangan yang semakin bertambah parah.
"Inflamasi atau proses radang ini semakin meluas, itu memungkinkan banyak sekali sel-sel peradangan yang terlibat dan ini menyebabkan kerusakan sistem dimana-mana," kata Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, S.p.P(K) dikutip dari salah satu tayangan YouTube, Jumat (6/8).
Sementara itu, penderita asma mengalami penyempitan saluran pernapasan. Jika saluran napas menyempit, oksigen akan berkurang untuk masuk, kemudian pada jaringan paru akan terjadi pertukaran udara antara oksigen dan CO2 atau karbon dioksida.
Baca Juga : Diabetes Tipe 2, Minum Kopi Pagi Hari Buruk untuk Gula Darah
"Kalau sebagian besar jaringan paru sudah meradang, maka sistem pertukaran oksigen dan karbon dioksida ini juga terganggu. Ini tentu saja akan memperparah kondisi yang memang oksigennya berkurang karena ada asma yang menimbulkan penyempitan saluran napas," jelas Spesialis Paru RSUP Persahabatan itu.
Seseorang yang memiliki komorbid seperti hipertensi , diabetes , asma, PPOK atau tuberkulosis , harus mengobati penyakitnya dengan benar sebelum terinfeksi Covid-19. Penting juga mencegah komorbid dalam kondisi berat sehingga penyakit terkendali.
"Melakukan upaya pencegahan supaya jangan terkena Covid karena dengan terinfeksi Covid pada orang-orang dengan komorbid yang tidak terkendali akan menimbulkan tingkat keparahan," ujar dr. Erlina.
Di sisi lain, dr. Erlina mengingatkan pasien Covid-19 dengan komorbid untuk melihat tingkat keparahannya. Jika tidak memiliki komorbid dan gejala ringan, bisa isolasi mandiri . Sementara orang tanpa gejala (OTG) dengan komorbid, disarankan dirawat di rumah sakit.
Baca Juga : Isolasi Mandiri Kini Cukup 5 Hari, Tak Perlu 10 Hari
"Ringan tanpa komorbid nggak apa-apa isolasi mandiri di rumah. Tapi meskipun ringan dengan komorbid sebaiknya dirawat supaya bisa mendapatkan penanganan komprehensif. Artinya bukan Covid-nya saja yang diobati tapi juga komorbidnya diatasi," tandasnya.
Covid-19 bisa menyebabkan sesak napas lantaran paru-paru yang mengalami peradangan. Jika peradangan sudah terjadi sebelumnya, Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona akan menyebabkan peradangan yang semakin bertambah parah.
"Inflamasi atau proses radang ini semakin meluas, itu memungkinkan banyak sekali sel-sel peradangan yang terlibat dan ini menyebabkan kerusakan sistem dimana-mana," kata Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, S.p.P(K) dikutip dari salah satu tayangan YouTube, Jumat (6/8).
Sementara itu, penderita asma mengalami penyempitan saluran pernapasan. Jika saluran napas menyempit, oksigen akan berkurang untuk masuk, kemudian pada jaringan paru akan terjadi pertukaran udara antara oksigen dan CO2 atau karbon dioksida.
Baca Juga : Diabetes Tipe 2, Minum Kopi Pagi Hari Buruk untuk Gula Darah
"Kalau sebagian besar jaringan paru sudah meradang, maka sistem pertukaran oksigen dan karbon dioksida ini juga terganggu. Ini tentu saja akan memperparah kondisi yang memang oksigennya berkurang karena ada asma yang menimbulkan penyempitan saluran napas," jelas Spesialis Paru RSUP Persahabatan itu.
Seseorang yang memiliki komorbid seperti hipertensi , diabetes , asma, PPOK atau tuberkulosis , harus mengobati penyakitnya dengan benar sebelum terinfeksi Covid-19. Penting juga mencegah komorbid dalam kondisi berat sehingga penyakit terkendali.
"Melakukan upaya pencegahan supaya jangan terkena Covid karena dengan terinfeksi Covid pada orang-orang dengan komorbid yang tidak terkendali akan menimbulkan tingkat keparahan," ujar dr. Erlina.
Di sisi lain, dr. Erlina mengingatkan pasien Covid-19 dengan komorbid untuk melihat tingkat keparahannya. Jika tidak memiliki komorbid dan gejala ringan, bisa isolasi mandiri . Sementara orang tanpa gejala (OTG) dengan komorbid, disarankan dirawat di rumah sakit.
Baca Juga : Isolasi Mandiri Kini Cukup 5 Hari, Tak Perlu 10 Hari
"Ringan tanpa komorbid nggak apa-apa isolasi mandiri di rumah. Tapi meskipun ringan dengan komorbid sebaiknya dirawat supaya bisa mendapatkan penanganan komprehensif. Artinya bukan Covid-nya saja yang diobati tapi juga komorbidnya diatasi," tandasnya.
(dra)
Lihat Juga :