Merespons Afghanistan, PB PMII Dorong Pemerintah Antisipasi Munculnya Gerakan Baru Terorisme di Indonesia

Jum'at, 03 September 2021 - 23:20 WIB
loading...
A A A
Dina dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Indonesia sudah lama menjadi mediator dan berkontribusi positif dalam upaya mengakhiri konflik di Afghanistan. Indonesia telah menjalan diplomasi dan lobi politik untuk merespons krisis tersebut, baik dengan jalur formal melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) maupun second track diplomacy yang dilakukan oleh aktor-aktor non-negara, seperti apa yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada 2011.

Dina juga menambahkan bahwa pemerintah harus lebih intensif dalam melakukan upaya pelacakan dan deradikalisasi terhadap anasir-anasir simpatisan Taliban di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan banyak pihak dalam upaya diplomatik dengan Afghanistan, termasuk keterlibatan organisasi masyarakat seperti NU. Upaya ini merupakan langkah strategis bagi pemerintah untuk mengantisipasi euforia berlebihan atas kudeta yang terjadi di Afghanistan dan berpotensi memicu gerakan serupa di Indonesia

“Hal yang menarik adalah bagaimana NU melakukan komunikasi dengan para pemimpin Taliban di Afghanistan, sehingga banyak dari mereka yang bergabung dengan organisasi (mirip) NU di Afghanistan, dan Organisasi ini sudah berkembang di 30 wilayah di Afghanistan. Keterlibatan kelompok perempuan juga harus ada dalam setiap diplomasi Indonesia karena perempuan menjadi kelompok paling diruguikan dalam setiap konflik” jelas Dina.

Merespons Afghanistan, PB PMII Dorong Pemerintah Antisipasi Munculnya Gerakan Baru Terorisme di Indonesia

Foto: ScreenshotMuh Afit Khomsani

Pada kesempatan yang sama, Najih menekankan bahwa yang terjadi di Afghanistan hari ini adalah akibat dari adanya metamorfosa atau pergeseran ideologi. “Sebelum Invasi Uni Soviet tahun 1979 di Afghanistan, masyarakat di sana didominasi oleh madzhab Maturidi. Kependudukan Uni Soviet memaksa mayoritas masyarakat pindah ke Pakistan, dan di sana mereka mulai beinteraksi dan belajar dengan guru-guru yang berhaluan Salafi Wahabi. Para pelajar inilah yang kemudian pulang ke Afghanistan dan berhasil menumbangkan rezim komunis di Afghanistan pada 1996,” ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Rekomendasi
UU Polri Baru Akomodasi...
UU Polri Baru Akomodasi Penyetaraan Hak dan Humanis Tangani Unjuk Rasa
Di Hadapan Pimpinan...
Di Hadapan Pimpinan DPR, Mahasiswa Minta Pemerintah Tak Mainkan Isu Perut Rakyat
Asal-usul Puasa Asyura...
Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Berita Terkini
RCTI Hadirkan Sinetron...
RCTI Hadirkan Sinetron Komedi Komunal Terbaru Tobat Jatuh Cinta, Kisah Empat Janda di Kampung Sindang Barang!
MSIN Paparkan Strategi...
MSIN Paparkan Strategi Streaming Global di APOS 2026, V+Short Tembus 5 Juta Unduhan
Miss Indonesia Audrey...
Miss Indonesia Audrey Bianca Ungkap Perjuangan Perdana Jalankan Proyek BWAP di Luar Jawa
Road to Kilau Raya Mojokerto...
Road to Kilau Raya Mojokerto : MNCTV Hadir Meriahkan Hari Jadi Kota Mojokerto ke-108
MNC Licensing Ajak Keluarga...
MNC Licensing Ajak Keluarga Merayakan Liburan Sekolah Bersama Shaun the Sheep Holiday in My Hometown di Pakuwon Mall Solo
Garap Proyek Listrik...
Garap Proyek Listrik di Sumba, Liliana Tanoesoedibjo Optimistis Indonesia Bersinar di Miss World 2026
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved